
Kalau begitu, apa yang yang mungkin bisa saya bantu Duke Evan?" Alexis bertanya sambil mengikuti langkah Evan yang berjalan ke arah mobil milik Alaya.
"Kalau Tuan Alexis tidak keberatan, minta tolong untuk menyampaikan kondisi Alaya kepada yang mulia Alvero, sekaligus meminta ijin atas ketidakhadirannya di acara afternoon tea, yang mungkin akan dilaksanakan sebentar lagi." Evan berkata kepada Alexis.
"Baik, saya akan segera melakukannya." Alexis berkata sambil sedikit menjauh dan melakukan panggilan telepon kepada Deanda, untuk memberitahukan tentang kondisi Alaya, agar bisa disampaikan kepada Alvero.
Evan sendiri tetap berjalan ke arah mobil Alaya dengan Alea yang sudah bersiap menunggunya.
Begitu Evan berada di dekat sosok Alea, gadis itu segera membukakan pintu mobil Alaya, mempersilahkan Evan untuk meletakkan tubuh Alaya di dalam mobil.
"Alea, pulanglah ke istana sendirian, aku akan membawa putri Alaya dalam mobilku. Aku yang akan mengantarnya kembali ke istana kalau kondisinya sudah membaik. Untuk sekarang, aku akan meminta dokter pribadiku untuk membantunya." Evan berkata tanpa perduli dengan pintu mobil yang terbuka, bahkan Evan bersiap berjalan ke arah mobilnya sendiri, dimana Sam dengan sigap sudah mengendarai mobil itu, membawanya mendekat ke tempat Evan berada, karena kebetulan tempat dimana mobil Alaya dan mobil Evan diparkir, letaknya agak berjauhan.
"Eh... tapi Duke Evan...." Dengan suara ragu Alea berusaha mencegah Evan membawa Alaya, karena bagaimanapun tadi dia yang mengantar Alaya pergi ke Goldie Tavisha, jadi sudah seharusnya dia juga yang mengantarkan Alaya pulang.
"Tidak apa-apa Alea...." Alexis yang melihat Alaya berniat untuk mencegah Evan membawa Alaya pergi segera mencegah balik Alaya untuk melakukan hal itu.
__ADS_1
"Tapi Tuan Alexis, bagaimana kalau nanti permaisuri dan yang mulia Alvero menanyakan tentang kondisi dan keberadaan putri Alaya? Aku pasti tidak akan bisa menjawabnya dengan baik." Alea langsung mengungkapkan pemikirannya kepada Alexis yang sedang menghela nafasnya saat melihat kondisi Alaya yang sebenarnya cukup membuatnya khawatir.
Andai saja orang yang membawa Alaya bukan seorang duke seperti Evan, dan juga bukan calon suami dari Alaya, sudah pasti Alexis tidak akan membiarkan orang lain membawa Alaya pergipergi seperti itu.
"Jangan khawatir kalau tentang hal itu. Aku sudah meminta Deanda untuk memberitahukan kepada yang mulia Alvero bahwa duke Evan sendiri yang akan mengaturkan dokter untuk Alaya. Yang aku khawatirkan justru kondisi Alaya yang baru pertama kalinya kambuh di negara Gracetian, yang suhu lingkungannya memang lebih dingin dibanding dengan negara tempat dia dibesarkan dan tinggal sebelumnya. Semoga dokter yang ditunjuk oleh duke Evan benar-benar mengerti tentang keadaan Alaya." Alexis berkata sambil mengalihkan pandangan matanya dari Evan yang sudah membawa masuk tubuh Alaya ke mobilnya, tetap dalam posisi dalam gendongannya.
Sehingga saat ini, Evan duduk di bagian kursi penumpang mobilnya, dengan posisi menggendong Alaya dalam pangkuannya.
"Lalu apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang Tuan Alexis?" Dengan suara ragu, Alea berkata kepada Alexis yang baru saja mendesss... ssah pelan.
"Baik kalau begitu. Lebih baik aku segera kembali ke istana sebelum permaisuri dan yang mulia benar-benar mencariku. Aku permisi dulu Tuan Alexis, tolong sampaikan pada Tuan Red maaf tidak sempat berpamitan padanya, karena aku sedang terburu-buru." Alea berkata sambil matanya memandang ke sekelilingnya, berharap dia sempat melihat sosok Rock sebelum benar-benar pergi meninggalkan Goldie Tavisha, sayangnya sosok laki-laki yang menjadi kekasihnya itu tidak tampak batang hidungnya sedikitpun.
"Tenang saja, akan aku sampaikan salammu pada Red, dan juga Rock." Alexis yang melihat bagaiman mata Alea yang sedang mencari-cari sosok Rock langsung menanggapi permintaan Alea.
"He he he..." Alea langsung meringis begitu mendengar godaan dari Alexis.
__ADS_1
"Aku pergi dulu Tuan Alexis."
"Hati-hati di jalan, jangan terlalu mengebut meskipun kamu sedang terburu-buru." Alexis segera mengingatkan Alea, karena dia tahu dari Alaya kalau gadis tomboy yang satu itu sangat ahli dalam hal kebut-kebutan di jalan raya.
(Saat mendengar kata tomboy, yang terbesit di pikiran seseorang mungkin perempuan yang berpakaian seperti lelaki, dengan potongan rambut cepak sembari melakukan hal yang biasa lelaki lakukan. Ternyata, penyebabnya beragam, baik yang datang secara natural maupun pengaruh cara didik orang tua. Berikut adalah hal yang bisa menyebabkan anak perempuan menjadi tomboy antara lain Paparan hormon testosteron saat dalam kandungan.
Penyebab lainnya adalah ingin meniru sosok yang dikagumi, lingkungan terdekatnya didominasi lelaki, bentuk perlindungan diri karena tidak ingin dianggap lemah.
Terakhir, alasan anak perempuan menjadi tomboy adalah karena mereka hanya ingin melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Tak ada alasan spesifik di baliknya. Ada sebuah fase dalam tumbuh kembang anak di mana anak menjadi lebih energik, aktif secara fisik, dan bersikap cuek. Perilaku ini lah yang “diterjemahkan” oleh orang tua sebagai tomboy. Padahal, anak hanya ingin bereksplorasi dan penasaran akan hal baru.
Jadi, tidak ada yang salah dengan perilaku anak perempuan yang cenderung seperti anak lelaki. Kacamata orang dewasa di lingkungan tempat ia tumbuh lah yang sering "melabeli" perilakunya sebagai tomboy, bahkan berusaha mendorong anak untuk menjadi seperti anak perempuan lain. Terdengar sepele, namun labelling dan komentar demikian bisa membuat anak ragu akan diri dan potensinya, hingga bisa kehilangan self-esteem (cara ia menghargai dirinya dibandingkan orang lain).
"Siap Tuan Alexis." Alea berkata sebelum akhirnya menutup kaca jendela mobil dan mulai menginjak gas mobil, dan meninggalkan area halaman parkir di Goldie Tavisha, menuju istana.
"Semoga dokter yang dipilih oleh duke Evan untuk mengobati Alaya benar-benar bisa membantu." Setelah kepergian Alea dan juga Evan, Alexis berbisik pelan, karena ingat beberapa kejadian di masa lalu saat alergi Alaya kambuh seperti hari ini.
__ADS_1