
“Ini sudah malam.” Danella berkata setelah melirik jam yang ada di dinding ruang kerja Evan, dan bangkit dari duduknya, setelah menekan paha Evan dengan telapak tangannya untuk membantunya bangun dari duduknya.
“Mama mau beristirahat. Dan kamu, cepatlah cari cara agar mulai malam ini, kamu bisa tinggal bersama istrimu. Aku yakin kamu pasti bisa mencapatkan ide bagus untuk itu.” Tanpa menunggu tanggapan dari Evan yang melongo karena perkataannya, Danella langsung melangkah pergi, keluar dari ruangan kerja Evan.
“Eh… Ma!” Suara panggilan Evan padanya membuat Danella menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh kembali ke arah putra tunggal yang menjadi kebanggaannya itu.
“Maaf, aku lupa meyampaikan pesan kepada Mama. Deanda tidak bisa menemani mama belanja di akhir pekan ini, karena istana akan kedatangan tamu istimewa yang merupakan sahabat Alvero dan Deanda dari luar negeri.” Pemberitahuan dari Evan membuat Danella menahan nafasnya sebentar.
“Apa mau dikata, dia pasti akan sangat sibuk karena itu. Dengan kondisi kehamilannya, semoga dia tidak terlalu lelah karena harus mengurusi kedatangan tamu dari negara lain. Karena itu, lebih baik ke depannya, biar menantuku yang menemaniku. Pokoknya, malam ini, jangan sampai kalian tidur secara terpisah lagi, padahal kalian berada dalam satu kota. Cepat hubungi Alaya dan ajak dia tinggal bersama mulai mala mini.” Danella berkata sambil kembali melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan ruang kerja Evan.
Kali ini, Evan tidak lagi memanggil Danella, sehingga Danella bisa dengan gerakan bergegas meninggalkan ruangan itu bersama Evan yang sedang memikirkan cara untuk bisa bersama dengan Alaya malam ini, apapun yang terjadi.
“Eh, kenapa mama jadi ribut memintaku untuk tinggal bersama Alaya malam ini? Aku benar-benar tidak menyangkan mama bahkan memikirkan tentang hal seperti itu tentang aku.” Evan berkata pelan sebelum akhirnya dia meraih handphone yang tadinya dia geletakkan begitu saja di atas meja yang ada di depannya.
Dengan cepat jari Evan segera mencari nama kontak “my princess” dan segera melakukan panggilan pada istrinya tersebut.
Alaya yang sedari tadi tampak mondar mandir kesana kemari karena menungg panggilan telepon dari Evan, tampak dengan wajah tidak sabar berkali-kali bibirnya mengeluarkan suara gumaman kecil yang artinya tidak jelas.
__ADS_1
Bahkan beberapa kali, untuk menghilangkan rasa stressnya karena menunggu, Alaya bahkan menggigit-gigit ujung handphonenya.
Sebuah kebiasaan buruk yang memberikan kesan jorok, tapi Alaya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melakukan itu saat dirinya sedang merasa frustasi terhadap keadaan di sekelilingnya.
“Lama sekali… apa Evan ketiduran? Apa kegiatan kami tadi membuatnya kelelahan sehingga dia tertidur dan lupa untuk menghubungiku?”
“Apa dia sedang tidak enak badan?”
“Apa aku perlu menghubunginya sekarang untuk memastikan keadaannya?”
“Tapi kalau dia benar-benar kelelahan, kasihan jika aku harus mengganggunya malam ini.”
“Mungkin lebih baik aku mengirimkannya pesan dan dia bisa membalasnya saat mungkin dia nanti terbangun dari tidurnya.”
“Atau lebih baik aku bertanya kepada Sam?”
Berbagai perkataan diucapkan Alaya sambil berjalam mondar-mandir dengan handphone tergenggam erat di tangannya, membuat Alaya benar-benar terlihat seperti orang bingung.
__ADS_1
Begitu layar handphone di tangannya menyala dan nama Evan tertera di sana, tanpa Evan harus menunggu hingga nada dering di telinganya terdengar untuk kedua kalinya, Alaya langsung mengangkat panggilan telepon dari Evan tersebut.
“Hallo Evan, apa kamu tadi sempat tertidur sehingga lama sekali baru menghubungiku? Apa kamu kelelahan? Atau kamu sedang ada masalah di kediaman Carsten?” Evan langsung tersenyum kecil mendapatkan serentetan pertanyaan dari Alaya yang sudah seperti sebuah senapan mesin di medan perang yang sedang menembakkan peluru tanpa henti ke arah lawan.
(Senapan mesin adalah senjata api tertanam maupun portabel, yang memiliki kemampuan menembak secara full-otomatis. Senapan mesin biasanya menembakkan peluru senapan yang diisi dari sabuk amunisi atau magazen berkapasitas besar. Senapan mesin lazim menembakkan beberapa ratus peluru per menit.
Penemu senapan mesin adalah John Moses Browning. John Moses Browning adalah seorang perancang senjata api yang lahir di Ogden, Utah, Amerika Serikat yang mengembangkan senjata api, peluru dan mekanisme senjata api semi dan otomatis modern. John Browning sudah mampu membuat senjata api sendiri pada umur 13 tahun. Hasil karya John Browning telah dipatenkan sebanyak 128. Paten yang pertama kali didapatkannya pada usia 24 tahun.
John Browning banyak sekali mengembangkan sistem senjata api tipe tembakan tunggal, lever-action dan slide action. Penemuannya yang paling fenomenal adalah telescopic bolt yaitu sistem pengisian peluru otomatis pada senjata api, sistem ini hampir digunakan pada semua senjata api modern saat ini.
Dia juga menemukan sistem pengisian peluru senjata api dengan gas yang diaplikasikan pada senapan mesin Colt-Browning Model 1895, sistem operasi gas ini sekarang banyak digunakan pada senjata api berkekuatan besar di seluruh dunia).
“My princess, tenangkan dirimu sekarang. Aku baik-baik saja. Maaf membuatmu menunggu lama. Tadi aku harus menjelaskan terlebih dahulu kepada mama apa yang sudah terjadi diantara kita di masa lalu, dan semua perbuatan rendah yang dilakukan duchess Kattie padaku.” Evan langsung memberika penjelasan kepada Alaya sebelum istrinya itu terus memborbardirnya dengan begitu pertanyaan lagi.
“Ah… duchess Danella ya? Apa tanggapannya tentang apa yang sudah terjadi diantara kita di masa lalu?” Dengan suara ragu Alaya bertanya kepada Evan, karena sebagai wanita, wajar sekali Alaya merasa perlu tahu, apakah mertuanya mendukung posisinya sebagai menantu atau tidak menginginkannya sebagai menantu baginya.
“My princess, jangan memanggil nama mamaku dengan sebutan duchess Danella panggil saja dengan mama Danella. Kenapa dengan pertanyaanmu tadi? Apa kamu takut mama akan tidak menyukaimu?” Seolah bisa tahu dengan apa yang sedang dikhawatirkan Alaya, Evan langsung bertanya balik kepada Alaya yang langsung terdiam.
__ADS_1
“Mama, sedari awal tahu tentang rencana perjodohan kita, dia adalah orang yang paling bersemangat diantara yang lainnya. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Dia pasti akan menyayangimu seperti anaknya sendiri.” Kata-kata Evan tanpa sadar membuat bibir Alaya tersenyum begitu lebar.