Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MULAI MENJALANKAN RENCANA


__ADS_3

Bagi Alaya, yang sejak kecil tidak bisa mendapatkan kasih sayang secara utuh karena Vincent tidak ada bersamanya, juga kelemahan fisik yang sempat dia derita ketika masih kecil, cukup membuat rasa percaya dirinya terganggu.


Dan salah satu orang yang sempat membuat dirinya berjuang dengan sekuat tenaga untuk menjadi kuat adalah Evan, laki-laki yang selama ini menjadi sumber inspirasinya.


Sehingga begitu dia mendengar kata-kata Evan tentang Danella yang pasti akan menerima dan menyayanginya, membuat hati Alaya seperti tanah kering yang disiram oleh air, memuaskan dahaganya, menenangkan hatinya.


"Mama ingin kamu menemaninya pergi berbelanja. Setelah semuanya bisa kita bereskan, aku harap kamu tidak keberatan untuk menemani mama pergi seperti keinginannya." Senyum di wajah Alaya terlihat semakin melebar begitu mendengar kata-kata Evan, sehingga secara tidak sadar, Alaya tetap diam dengan pikiran yang langsung membayangkan bagaimana senangnya jika itu sudah benar-benar terjadi.


"My princess... Alaya...."


"Ah.. ehmm... ya Evan, kenapa?" Dengan tergagap, Alaya menjawab panggilan Evan.


"Kenapa denganmu my princess? Apa kamu sedang melamun barusan? Jangan berpikir macam-macam terhadap mama. Kamu bahkan tahu, dia merupakan sahabat dekat mamamu, jadi tidak mungkin dia tidak menyukaimu. Yang ada justru bisa-bisa posisiku sebagai anak kandungnya jadi tergeser karena sekarang dia memiliki menantu perempuan yang sudah lama ditunggu-tunggunya." Evan berkata sambil tertawa kecil dengan wajah bahagia.

__ADS_1


Kata-katanya, mengingatkan Evan kepada dirinya sendiri tentang bagaimana Danella yang memang sudah begitu lama menantikan kehadiran menantu untuknya, berharap dia bisa dekat dengan menantunya, dan melakukan banyak hal bersama.


Berbelanja, mengobrol, menghadiri undangan pesta, berkebun, memasak bersama... ada begitu banyak hal dalam pikiran Danella yang begitu ingin dia lakukan bersama dengan menantunya di masa depan, bahkan sejak Evan baru saja beranjak dewasa dulu.


"Tapi sungguh berbeda Evan, hubungan antara anak sahabat dan anak menantu, pasti berbeda. Pasti akan lebih banyak tuntutan jika posisi kita sebagai anak menantu." Alaya berkata tanpa berusaha menutupi kekhawatirannya terhadap penolakan Danella padanya.


"Hust... hentikan kata-katamu itu my princess. Siapa wanita yang tidak ingin anak laki-lakinya menikah dengan seorang putri cantik yang menawan sepertimu. Kamu tahu di luar sana, banyak pria yang pasti akan rela mengantri untuk menjadikanmu istrinya. Apalagi, aku mengenal baik mamaku. Sejak awal dia begitu bahagia mendengar rencana perjodohan kita." Perkataan Evan membuat Alaya menghela nafasnya.


"Tapi dia juga pasti melihat bagaimana aku yang selama ini selalu bersikap tidak bersahabat padamu, dan mungkin sedikit... kurang ajar padamu...." Akhirnya Alaya mengungkapkan alasannya kenapa dia takut Danella tidak mau menerimanya karena semua yang pernah dia lakukan pada Evan di masa lalu, yang terhitung sebagai tindakan kurangajarnya kepada seorang duke.


"Evan...." Dengan suara manja Alaya langsung menyebutkan nama Evan, berharap Evan menghentikan tawa yang sudah membuat Alaya semakin merasa malu setiap kali dia mengingat apa yang dulu pernah dia lakukan pada Evan agar Evan membencinya dan menolak untuk menikahinya.


"Bagian mana yang kamu maksudkan my princess? Apakah tentang bagaimana kamu menerobos masuk ke markas militer? Atau tentang teh istimewamu waktu itu? Atau kemarahanmu di kantor kakakmu di istana? Atau...."

__ADS_1


"Evan...." Kali ini bukan hanya suara manja, tapi Alaya menyebutkan nama Evan dengan suara merengek, membuat Evan tertawa.


"Kalau semua itu yang kamu khawatirkan, tenang saja.... Karena tidak ada satupun kejadian itu yang diketahui oleh mama Danella. Bagi mama Danella, kamu adalah anak sahabatnya yang cantik, yang baik, dan paling pantas untuk menjadi istri anak laki-laki kesayangannya. Bagiku, cukup untuk aku saja cerita tentang semua perilakumu saat itu." Perkataan Evan membuat Alaya langsung menghembuskan nafas lega.


"Asal kamu tahu saja, semua yang kamu lakukan, waktu itu justru membuatku semakin tertarik untuk segera mengikatmu. Ternyata di alam bawah sadarku, aku begitu menginginkanmu dan mencintaimu." Evan mengatakan kata-katanya sambil menarik nafas panjang, merasa senang pada akhirnya dia bisa memiliki Alaya secara utuh sebagai istrinya, dengan semua ingatannya tentang Alaya yang tidak terlupakan sedikitpun.


"Evan...."


"My princess... kita berdua ini sekarang bukanlah orang yang sedang berpacaran lagi, jadi lebih baik kita segera bertemu dan melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan oleh orang yang sudah menikah." Dengan cepat Evan memotong perkataan Alaya, karena dia sendiri, saat ini begitu ingin berada di dekat Alaya, bukan sekedar berbicara melalui telepon.


"Lalu, apa yang bisa aku lakukan untuk keluar dari istana?" Alaya bertanya sambil mengambil posisi duduk bersila di atas tempat tidurnya dengan wajah terlihat serius.


"Segera cari alasan untuk keluar dari istana. Ajaklah Alea sebagai sopirmu. Aku akan memberikan alamat dimana kamu harus pergi. Disana nanti kamu langsung saja ke tempat parkir VIP, aku akan meminta bagian security untuk membukakan akses untukmu. Di tempat parkir, Sam akan menemuimu dan mengantarmu ke tempat kita bisa bersama malam ini." Penjelasan Evan membuat dahi Alaya berkerut.

__ADS_1


"Memang kemana kamu akan meminta aku pergi ntuk menemuimu?" Pertanyaan Alaya yang diucapkannya dengan nada begitu serius membuat Evan sedikit meringis, dan justru ingin menggoda Alaya.


"Kenapa my princess? Apa kamu takut aku melakukan sesuatu yang buruk padamu? Bahkan kamu sudah dengan rela memberikan mahkotamu yang paling berharga, apalagi yang kamu takutkan saat berada di dekatku?" Evan berkata sambil menggigit bagian bawah bibirnya, karena lagi-lagi pikirannya dipenuhi dengan bayangan betapa nikmatnya percintaan yang sudah mereka lakukan tadi sore.


__ADS_2