Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MASIH TERUS BERLANJUT


__ADS_3

"Pernikahan antara dua orang besar seperti Duke Evan dan putri Alaya, sepertinya sudah ditunggu-tunggu oleh banyak orang...." Dokter itu berkata sambil tersenyum mengingat bagaimana setiap kali dia berkunjung ke toko atau tempat makan, dimana-mana dan kapanpun semua orang sedang membicarakan tentang rencana pernikahan Evan dan Alaya.


Sedang dokter dan perawat lainnya yang berdiri di berjajar di belakang dokter yang sedang berbicara dengan Evan itu hanya diam mendengarkan pembicaraan antara rekannya dan Evan, sambil sesekali menyunggingkan senyum mereka.


Banyak dari antara mereka memang menantikan dengan tidak sabar dan penasaran tentang pesta besar bersatunya keluarga Carsten dan Adalvino yang akan memperkuat pemerintahan keluarga Adalvino di Gracetian, dan memperkuat pengaruh dan kekuasaan keluarga Carsten di Gracetian.


Meskipun tentu saja ada pihak-pihak yang merasa khawatir dengan bersatunya kedua keluarga besar yang kuat itu membuat mereka kehilangan kesempatan untuk berbuat curang dan mengambil keuntungan besar dari negara dengan sembunyi-sembunyi.


Bersatunya kedua keluarga besar yang sama-sama kuat itu, akan membuat mereka yang biasa bertindak untuk keuntungan mereka pribadi, akan semakin sulit untuk bergerak leluasa seperti biasanya.


"Saya juga ingin segera menyaksikan pernikahan Anda berdua bersama dengan tim dokter yang lain. Anda dan putri Alaya adalah pasangan yang sangat serasi, dan pastinya akan menjadi momen yang romantis dan mendebarkan, dinanti oleh banyak orang." Dokter itu kembali melanjutkan kata-kata yang membuat Alaya semakin kesal tanpa bisa menunjukkan rasa kesalnya itu.


Kata-kata dokter itu, yang menunjukkan bagaimana dia begitu mendukung Evan, membuat Alaya ingin sekali melotot ke arah dokter itu, sambil mengamati wajah dokter itu baik-baik dan juga membaca siapa nama dokter itu, untuk mengingat dengan baik sosok dokter itu, agar suatu ketika Alaya bisa memarahi dokter itu karena bicara tentang hal yang tidak disukainya itu.


"Tentu saja Dok, secara pribadi aku dan putri Alaya ingin di masa depan menjadi pasangan yang bisa menginspirasi banyak orang." Evan berkata sambil melirik ke arah Alaya dengan menahan senyum gelinya, melihat sedikit pergerakan dari tubuh Alaya karena kata-katanya yang menunjukkan bahwa Alaya merasa tidak tenang karena kata-kata yang sengaja diucapkannya untuk menggoda Alaya itu.


Pergerakan tubuh Alaya itu membuat pemikiran Evan tentang Alaya yang sedang berpura-pura masih tidak sadarkan diri semakin kuat, yakin seratus persen tentang hal itu.

__ADS_1


Gila! Inspirasi kepalamu? Apa kepalamu barusan terbentur tembok? Bisa-bisanya berkata seperti itu? Apa maksudmu dengan kata-kata inspirasi Duke Evan? Sebenarnya apa isi di kepalamu sampai bicara hal gila seperti itu? Siapa yang ingin mendjadi inspirasi bersamamu! Benar-benar sok tahu dan terlalu percaya diri!


Jika saja dia tidak ingat bahwa saat ini dia sedang berpura-pura belum sadar, rasanya Alaya ingin sekali bangun dari tidurnya dan mendorong tubuh Evan sambil mengomelinya sampai laki-laki itu tidak mampu berkata-kata.


Bahkan jika saja bisa, rasanya Alaya ingin mengeluarkan semua jenis kata-kata umpatan yang dia tahu dari a sampai z untuk menunjukkan rasa kesalnya pada sikap Evan yang terdengar begitu santai dalam menanggapi kata-kata dokter itu.


Tapi sayangnya, Alaya masih cukup waras untuk tidak melakukan hal seperti itu pada seorang Evan yang merupakan duke Gracetian.


Selain karena saat ini dia sedang berpura-pura, Alaya tahu tidak semudah bayangannya itu menghadapi Evan yang seringkali membuatnya mati kutu dan justru kehabisan kata-kata, tidak pernah bisa melawan Evan.


"Terimakasih untuk semua penjelasan yang dokter berikan. Silahkan meninggalkan kamar ini, karena aku ingin suasana tenang bersama putri Alaya sementara waktu ini." Kata-kata Evan jelas saja membuat dada Alaya langsung berdebar dengan begitu kencang.


Dengan kebingungan Alaya berkata dalam hati, berusaha tetap diam seperti patung, tapi otot-otot tubuhnya menjadi begitu tegang karena rasa khawatirnya saat ini.


Benar-benar celaka kalau sampai dia tahu aku sudah terbangun dan mau melarikan diri dari tempat tinggalnya ini. Akh... benar-benar sial! Kenapa aku harus bertemu dengan duke Evan di Goldie Tavisha saat itu? Hih! Aku harus secepatnya meninggalkan tempat mengerikan ini!


Alaya terus mengomel hingga tanpa sadar dahinya terlihat sedikit mengernyit, menunjukkan kalau saat ini Alaya sedang berpikir keras, membuat Evan kembali menahan senyum gelinya.

__ADS_1


"Baik Duke Evan, kami akan menunggu bersama yang lain di luar. Jika Duke Evan membutuhkan kami, silahkan memanggil kami dengan segera. Meskipun saya sendiri optimis, kondisi putri Alaya sudah tidak dalam masalah untuk sekarang ini." Dokter itu sedikit membungkukkan tubuhnya di depan Evan dengan sikap hormat begitu selesai mengucapkan kata-kata pamitnya, diikuti dengan rekan-rekannya yang lain.


"Baik, semoga putri Alaya segera sadar dan pulih kembali seperti sediakala." Evan berkata sambil menatap ke arah sosok dokter yang bertugas menangani Alaya.


Begitu dokter itu keluar bersama yang lain dari kamarnya, dan pintu kamar sudah tertutup kembali, Evan langsung memandang ke arah Alaya yang masih terlihat memejamkan mata, tapi Evan bisa melihat kalau di dalam sana bola mata Alaya terlihat bergerak-gerak karena perasaan tidak tenangnya saat ini, salah tingkah karena meskipun dengan mata terpejam, Alaya bisa menebak dan merasakan bahwa Evan sedang memandangnya dengan intens saat ini.


Dan satu hal yang tidak bisa dilihat oleh Alaya saat ini, Evan sengaja cukup lama berdiri di samping tempat tidur, sambil menundukkan kepala, memandang ke arah Alaya dengan senyum geli terus terkulum di bibirnya, melihat bagaimana nakalnya tindakan istrinya itu.


Cantik... dan mempersonanya istriku, meskipun tingkah lakunya kadang terlihat sangat jauh dari kata seperti layaknya sifat yang harus dimiliki oleh seorang putri. Tapi bagiku, dia tetaplah penguasa hatiku, dan dia adalah putri tercantik dan terbaik milikku.


Evan berkata dalam hati dengan menghela nafas lega, melihat bagaimana Alaya yang sebenarnya merasa canggung dan bingung sendiri


My princess, perilakumu sungguh membuatku bertambah gemas. Bisa-bisanya kamu melakukan hal menggelikan seperti ini padaku. Sampai kapan kamu mau terus berpura-pura tetap tidak sadarkan diri?


Evan berkata dalam hati dan hampir saja tidak bisa mengendalikan tangannya untuk bergerak mencubit pipi Alaya yang sudah terlihat memerah, tidak lagi pucat seperti sebelumnya, bagi Evan apapun kondisi Alaya tetap saja membuatnya terpesona.


Belum lagi karena kondisinya sekarang, wajah Alaya memang memerah menahan rasa canggung dan malu karena Evan masih saja berdiri di samping tempatnya berbaring dan memandanginya, membuat Alaya bahkan merasa sulit untuk bernafas karena dadanya yang berdebar-debar karena keberadaan Evan, dan posisinya yang sedang berpura-pura sekarang.

__ADS_1


Dan kulit wajah Alaya yang memerah membuat wajah Alaya terlihat lebih segar dan sehat, sehingga membuatnya semakin cantik dan menarik.


Setelah puas memandangi wajah Alaya yang baginya sungguh menggemaskan, sehingga membuatnya takut tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh gadis itu, Evan sedikit bergerak ke samping dan mendekati meja dorong makanan dimana semua makanan yang ada di dalamnya sudah habis, sudah tandas dan pelakunya adalah Alaya.


__ADS_2