Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MENGENALI ALAYA


__ADS_3

Eh, bukannya gadis itu… adalah gadis kecil yang pernah aku tolong dulu? Wajah mereka sangat mirip. Aku tidak mungkin salah ingat kan? Apalagi gadis itu memiliki wajah cantik dan unik yang sulit untuk dilupakan oleh siapapun.


Evan berkata dalam hati begitu melihat sosok Alaya yang telapak tangannya masih terlihat menempel di atas meja yang ada di depannya dengan mata menatap Evan maupun pemuda itu dengan wajah galak.


Meskipun ini adalah pertemuan kedua mereka, tapi Evan masih ingat dengan jelas wajah gadis yang dulu pernah ditolongnya di depan sekolahnya ketika sedang dibully oleh teman-temannya.


Waktu itu papanya mengajak Evan ke negara ini dengan alasan mengunjungi salah satu teman karibnya, Alexis yang merupakan ayah kandung Deanda, hanya saja waktu itu Evan masih terlalu muda dan tidak mengetahui tentang hal itu.


Karena papanya, sebagai duke yang ikut membantu Alexis menyembunyikan keberadaan Larena dan Alaya di uar negeri, sengaja tidak menceritakan apapun tentang hal seperti pada Evan yang dianggapnya berlum waktunya tahu mengenai kondisi politik dan keamanan negara Gracetian secara mendetail.


Saat itu, yang Evan tahu gadis kecil itu adalah anak dari sahabat ayahnya, dan tinggal bersama mama serta pamannya yang juga merupakan sahabat papanya.


Bukannya gadis itu dulu terlihat begitu lemah? Sepertinya dia sudah tumbuh menjadi gadis kuat yang cantik. Tapi kenapa gadis itu terlihat marah dan pemuda ini... kenapa terlihat begitu takut pada gadis ini? Apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua?


Evan kembali berkata dalam hati sambil menatap Alaya dengan tatapan terlihat tetap tenang, meskipun Evan tahu gadis depannya itu terlihat seperti gunung api yang siap meledak sewaktu-waktu.


Mata hijau Evan yang sedang menatap ke arah Alaya tampak menatap Alaya dengan tatapan kagum.


Setelah lama tidak bertemu, ternyata gadis kecil yang ditolongnya dulu, sudah tumbuh dengan baik, menjadi gadis yang terlihat begit cantik bagi pemandangan seorang Evan, yang boleh dikata sangat jarang… bahkan hampir tidak pernah memuji kecantikan seorang gadis.


Sikap tenang Evan waktu pertemuan kembali mereka itu, bukannya meredakan emosi Alaya, justru membuat Alaya merasa kesal, karena dia menganggap Evan adalah pelindung komplotan para pembully itu dan sudah menganggapnya remeh.

__ADS_1


Dengan tatapan mata menyelidik ke arah Evan yang dari tampilan setelan pakaian yang terlihat mahal yang dikenakan oleh Evan, Alaya bisa menilai kalau laki-laki tampan di depannya sekarang ini bukanlah orang sembarangan, apalagi masuk dalam kategori golongan orang miskin.


“Tuan, dengan penampilan Tuan, sepertinya Tuan bukan orang yang kekurangan uang, tapi kenapa masih berusaha untuk mencari uang dengan cara melakukan bully dan palak kepada kami anak-anak sekolah?” Pertanyaan Alaya padanya membuat otak encer Evan mulai mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Mata Evan langsung melirik ke arah pemuda yang sedang bersembunyi di belakang punggungnya begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alaya padanya dengan nada menuduhnya.


Melihat tatapan Evan yang terlihat menyelidik, pemuda itu langsung menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya seolah memberi kode kalau apa yang dikatakan oleh Alaya tidak benar, membuat wajah Alaya semakin marah.


Tanpa disadari oleh pemuda itu, meskipun pemuda itu membuat dirinya seolah-olah tidak bersalah, tapi dari pengamatan Evan terlihat jelas bahwa pemuda itu sedang berbohong.


Apalagi dari saku celana pemuda itu Evan bisa melihat lembaran uang yang terilihat berantakan dan dimasukkan dengan buru-buru tanpa berpikir panjang, dan di sana juga terlihat suatu benda yang berkilau yang sedikit mencuat keluar diantara lembaran uang itu.


Hah, seorang pencuri kecil, tidak malu merampok anak-anak remaja, dan berusaha melarikan diri dari seorang gadis. Benar-benar tindakan memalukan bagi kaum pria.


Tangan Alaya sudah hampir mencapai kerah pemuda itu ketika tangan Evan dengan cepat menahan gerakan itu dengan memegang pergelangan tangan Alaya.


Sebuah pegangan tangan yang cukup erat, tapi tidak sampai menyakiti Alaya tentunya.


“Apa-apaan kamu? Kenapa tiba-tiba menghalangiku?” Dengan gerakan sekuat tenaga, Alaya mengipaskan tangannya dari cekalan tangan Evan yang langsung bangkit dari duduknya, dan berdiri diantara pemuda itu dan Alaya, membuat pemuda itu tampak menahan senyum leganya.


Dan tentu saja itu membuat Alaya semakin emosi, dan langsung melotot tajam dengan wajah menantang ke arah Evan.

__ADS_1


“Tenang dulu Nona… jangan emosi. Kita bicarakan dengan baik-baik. Jangan selalu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Jika bisa diselesaikan dengan kepala dingin, kenapa harus menggunakan kekerasan? Tidak semua hal akan selesai dengan jalan kekerasan.” Suara Evan yang tetap tenang, tidak membuat emosi Alaya reda, justru membuatnya semakin yakin kalau laki-laki muda berambut emas yang ada di depannya saat ini adalah komplotan dari pemuda yang sudah merampok teman-temannya itu.


“Tuan, jangan ikut campur urusan kami! Kalau Tuan tidak ingin aku kirim juga ke kantor polisi bersama pemuda itu.” Kata-kata Alaya langsung membuat Evan tersenyum sambil menghela nafas sebentar.


Benar-benar gadis yang keras kepala dan tidak mau mendengar penjelasan orang lain.


Evan berkata dalam hati sambil menahan senyum gelinya, karena dia merasa gemas sekali dengan sikap Alaya yang sok jagoan saat ini.


Meskipun di sisi lain, Evan merasa kagum dengan keberanian gadis yang sedang berdiri di depannya saat ini, karena gadis lain mungkin akan memilih tidak mau ikut campur urusan orang lain, tidak seperti Alaya ini.


Alaya… aku ingat nama gadis anak dari sahabat papa itu bernama Alaya. Sepertinya dia gadis yang tidak mudah menyerah terhadap sesuatu yang diyakininya benar. Nama yang cantik, seperti orangnya.


Evan yang masih ingat dengan jelas nama Alaya ketika dulu papanya memperkenalkan mereka, langsung tersenyum begitu nama gadis cantik itu terlintas di ingatannya kembali, meskipun saat itu, Evan tidak tahu siapa Alaya sebenarnya.


“Alaya… tolong tenangkan dirimu dahulu, jangan terbawa emosi.” Baik pemuda yang sedang dikejar Alaya, maupun Alaya sendiri tampak kaget begitu Evan dengan fasihnya menyebutkan nama Alaya, seperti orang yang sudah lama mengenal pemilik nama itu.


Eh! Apa-apaan ini? Ternyata mereka saling kenal? Apa mereka pemain sandiwara? Seorang aktor dan aktris? Sial! Sepertinya aku sudah terjebak oleh mereka berdua!


Pemuda itu berkata dalam hati dengan sikap panik dan bingung karena Evan yang tiba-tiba memanggil gadis itu dengan namanya.


Dan mau tidak mau, wajah pemuda itu langsung terlihat sedikit memucat begitu sadar bahwa situasi sekarang ini sangat tidak menguntungkan untuknya.

__ADS_1


Alaya sendiri tampak kaget karena ternyata pemuda tampan yang memiliki rambut emas dengan mata hijau yang menawan itu tahu namanya.


__ADS_2