Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
CINCIN MILIK DUCHESS CARSTEN


__ADS_3

“Alaya… aku tahu kamu pasti kecewa dengan pernikahan kita yang tiba-tiba saja harus terjadi, tapi percayalah aku melakukan itu untuk kebaikan kita semua, termasuk Gracetian. Biarkan aku menjelaskan semuanya padamu….” Evan kembali berkata tenang dan lembut kepada Alaya, seperti biasanya.


“Pergilah dari sini sekarang, karena sebelum kamu pergi, aku juga tidak akan mau keluar dari sini. Aku mau sendiri, jangan menggangguku.” Kata-kata Alaya sudah cukup bagi Evan membuatnya untuk tidak melanjutkan niatnya, untuk kembali berusaha mengajak Alaya bicara dari hati ke hati tentang masa lalu mereka, dan juga tentang kondisi pernikahan mereka untuk sekarang ini.


Bahkan Evan yang ingin menceritakan tentang kecelakaan maut yang sudah membuatnya melupakan Alaya, tidak memiiki kesempatan untuk melakukan itu.


Kamu pasti sangat terguncang sekarang…. Apapun yang akan aku katakan saat ini, sepertinya tidak akan didengar dengan baik oleh my princess. Dalam kemarahannya pasti setiap apa yang aku ucapkan tidak akan dipercayai oleh dia. Lebih baik membiarkan dia sendiri dulu, agar dia bisa menenangkan hati dan pikirannya.


Evan berkata dalam hati sambil menghela nafasnya, tidak ingin memaksa Alaya untuk mendengarkannya untuk saat ini, meskipun Evan juga tidak akan membiarkan Alaya lepas dari sisinya.


“Saat ini kamu memang butuh waktu untuk menenangkan diri. Sebaiknya kamu keluar dari sana, dan istirahat sekarang. Kamu baru saja pulih dari sakitmu, jangan menyiksa dirimu seperti itu.” Evan berkata dengan suara lembut yang bagi Alaya justru membuat hatinya terasa semakin sakit.


Sikap lembut dan perhatian Evan, yang dulunya selalu membuatnya terpesona dan semakin jatuh cinta, saat ini membuat Alaya sadar bagaimana dia yang masih begitu mencintai lelaki itu masih saja terpesona dengan segala apa yang ada pada Evan, tapi dia juga sadar bahwa di sisi lain dia sangat kecewa dan membenci Evan yang bisa begitu saja melupakannya setelah semua janji yang diucapkannya, dan juga setiap kenangan manis berdua yang pernah mereka jalani.


Berita bahwa Evan pernah mencoba menggantikan posisinya dengan wanita lain yang sekarang justru menjadi kakak iparnya, juga membuat alasan kuat bagi Alaya untuk tidak mau memberikan kesempatan apda dirinya sendiri, karena saat mereka menikah, itu artinya Evan akan sering bertemu dengan Deanda karena akhirnya mereka berada dalam lingkaran keluarga yang sama.


Seorang Alaya yang merupakan keturunan Adalvino seperti Alvero, membuatnya sebagai seorang gadis yang berkarakter lurus tapi keras dan juga pencemburu, tentu saja tidak bisa menerima kenyataan seperti itu.


Bagi Alaya, lebih baik dia tidak lagi bersama Evan, daripada setiap melihat Evan dan Deanda, dia jadi teringat bahwa Evan pernah begitu menyukai Deanda.

__ADS_1


Dan Alaya tidak tahu bahwa keberadaan Deanda waktu itu, hanyalah sebagai bayangan Alaya yang terkubur di dalam ingatan Evan, sehingga ketika melihat sosok Deanda, sempat membuat Evan menyukainya, karena di dalam hatinya, Evan sedang begitu merindukan sosok kekasihnya yang terpisah jauh dan lama, yang terpendam di dalam alam bawah sadarnya.


“Aku akan pergi sekarang, kamu bisa menghubungiku kapan saja, saat kamu membutuhkan batuanku. Saat kamu sudah merasa lebih tenang, aku harap kita memiliki waktu untuk saling bicara dari hati ke hati. Aku akan meletakkan handphone dan dompetmu di atas nakas.” Evan menghentikan kata-katanya sejenak sambil mengambil barang-barang yang disebutkannya tadi dari dalam saku celananya.


“Tolong… jangan menyiksa dirimu sendiri seperti itu, jaga dirimu baik-baik. Aku akan meminta ijin kepada Deanda agar Alea bisa menemanimu selama kamu tinggal di sini.” Evan melanjutkan kata-katanya kembali, dan mulai melangkah menjauh dari pintu kamar mandi.


Bagaimanapun, Evan merasa khawatir dengan kondisi Alaya jika dia terus-menerus berada di kamar mandi yang akan dapat memicu alergi Alaya kembali, kerena udara di kota Tavisha beberapa waktu ini memang cenderung dingin.


Evan masih begitu ingat dengan jelas, bagaimana menyedihkan dan mengkhawatirkannya kondisi Alaya ketika alergi dinginnya kambuh, membuat Evan serasa kehilangan harapan dan masa depannya saat itu.


Dan pastinya, Evan tidak ingin peristiwa itu terulang lagi pada Alaya yang selalu ingin dijaga dan dilindunginya dengan baik sebagai istri yang dicintainya.


Dengan gerakan pelan sambil menahan nafasnya, Evan membuka genggaman tangannya, dimana sebuah cincin berlian berada di sana, cincin pernikahannya dengan Alaya.


Setelah beberapa saat memandangi cincin itu, Evan meletakkannya di atas dompet Alaya yang sudah terlebih dahulu dia letakkan di atas nakas.


Cukup lama Evan berdiam memandangi pintu kamar mandi, sebelum akhirnya dia melangkah keluar dari kamar itu, dan menutup pintu, memastikan pintu itu tertutup dengan rapat dengan mencobanya untuk membukanya kembali dari luar, agar tidak ada orang lain yang bisa masuk ke dalam tanpa sepengetahuan dan seijin Alaya.


Evan langsung menarik nafas lega begitu pintu itu tidak dapat dibukanya kembali.

__ADS_1


Semoga hatimu segera tenang, dan kita bisa segera bertemu kembali my princess. Aku harap saat itu tiba, kamu mau mendengar semua penjelasanku.


Evan berbisik dalam hati sebelum akhirnya meninggalkan kamar Alaya.


Begitu terdengar suara pintu kamar hotelnya tertutup, Alaya menarik nafas panjang sambil memegang dadanya yang masih terasa sesak.


Rasanya Alaya masih belum percaya dengan apa yang terjadi hari ini padanya.


Semua rencananya yang gagal, dan juga berita tentang penikahannya dengan Evan, benar-benar membuat pikirannya menjadi kosong dan membuatnya seperti orang linglung.


Aku sudah menikah dengan duke Evan? Bagaimana bisa? Kenapa bisa begitu? Teganya kak Alvero dan duke Evan melakukan hal seperti itu padaku?


Alaya berkata sambil mencoba untuk membuat kakinya melangkah keluar dari kamar mandi, dan berjalan ke arah tempat tidur.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar menghadapi jalan buntu sekarang. Bagaimana caraku untuk bisa pergi dari duke Evan, sedangkan kami berdua ternyata sudah menikah. Apa aku bisa menuntut perceraian sedangkan dia pasti mengikatku dengan hukum istana Gracetian seperti yang sudah menjadi niatnya dari awal?


Alaya berkata dalam hati sambil matanya memandang ke arah benda-benda yang diletakkan Evan di atas nakas dengan tatapan mata terlihat sayu dan meyedihkan.


Tanpa sadar, setelah beberapa lama memandang ke arah benda-benda itu tanpa berkedip dengan mata merah, Alaya mengulurkan tangannya, dan mengambil cincin yang tergeletak di sana.

__ADS_1


Cincin berlian yang sangat cantik dan indah, membuat Alaya mau tidak mau harus mengakui bahwa cincin itu memang sungguh mempesona, dan bagi seorang wanita, itu akan menjadi cincin kawin yang begitu membanggakan, dan yang pasti, wanita itu bukanlah Alaya yang memang tidak mengingikan pernikahan ini.


__ADS_2