Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
PERPUSTAKAAN


__ADS_3

“Apa Kak Ornado berniat ikut kami berkeliling istana?” Evelyn langsung bertanya begitu melihat Cladia yang muncul di balik pintu bersama dengan Ornado juga.


“Tentu tidaklah. Aku mau menemui Alvero. Dimana dia sekarang Deanda?” Ornado berkata sambil memandang ke arah Deanda.


“Dia sedang berada di ruang kerjanya bersama Enzo. Kamu bisa langsung kesana.” Deanda yang tahu bahwa Ornado sudah tahu letak ruang kerja Alvero langsung menjawab pertanyaan Ornado.


“Apa dia sedang sibuk?”


“Aku rasa kalau untukmu, Alvero tidak akan pernah mengatakan dirinya sibuk. Kamu bisa langsung menemuinya kapanpun kamu mau.” Jawaban Deanda membuat Ornado maupun yang lain tersenyum.


“Kalau begitu, aku akan menemui Alvero di ruang kerjanya. Kalian bersenang-senanglah. Deanda, tolong jaga istriku dengan baik.” Ornado berkata sambil berjalan menjauhi para wanita itu, sebelum sekilas dia mengecup kening Cladia dan menggenggam tangannya sebelum akhirnya benar-benar melepaskannya, membiarkannya pergi bersama yang lain.


Sedang Deanda yang mendapatkan pesan dari Ornado langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya begitu mendengar perkataan Ornado sekaligus sikap manis Ornado pada Cladia.


“Aist Ad selalu saja seperti itu… melepas Cladia seolah Cladia mau bepergian jauh darinya, padahal mereka masih dalam satu lokasi yang sama.” Laurel berkata sambil tersenyum geli apalagi melihat Ornado yang berjalan me njauhi mereka sambil melambaikan tangannya setelah dia mendengar kata-kata Laurel yang memang sengaja diucapkannya tanpa berusaha membuatnya pelan.


“Ayo kita berkeliling sekarang….” Ajakan Cladia yang terlihat begitu bersemangat membuat yang lain langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Jadi, kita mau mulai darimana?” Deanda berkata sambil mulai melangkah diikuti dengan Evelyn, Laurel, dan juga Cladia.


Lorong istana yang cukup lebar membuat mereka bisa berjalan berdampingan dengan posisi berjajar.


“Terserah, kemanapun…. Kamu yang lebih tahu jalur mana yang paling enak dilalui pertama kali dan akhirnya.” Laurel berkata sambil menggamit lengan Evelyn yang berdiri tepat di sampingnya.


“Oke, aku akan menunjukkan terlebih dahulu bagian-bagian umum yang diperbolehkan dikunjungi oleh orang luar, setelah itu baru ke bagian yang lebih privat. Kita ke perpustakaan istana dan museum terlebih dahulu, setelah it uke gedung pertemuan istana.” Deanda berkata sambil menganggukkan kepalanya sambil menggerakkan tangannya, karena beberapa orang pelayan dan pengawal yang berpapasan dengannya langsung memberikan salam penghormatannya kepada permaisuri Gracetian itu.


Tiga tempat yang disebutkan oleh Deanda itu merupakan tempat yang memang diijinkan untuk dikunjungi oleh orang di luar penghuni istana, meskipun untuk dapat mengunjungi tempat-tempat itu, ada hari-hari tertentu yang dikhususkan, dan tidak bisa dilakukan setiap hari seperti mengunjungi tempat wisata.


Ruang perpustaan dari istana Gracetia terlihat begitu besar dan megah, di dominasi dengan warna perak, membuatnya terlihat modern, sedikit berbeda dengan bangunan lain di istana Gracetian yang tekesan klasik, beratap tinggi dimana rak-rak buku yang tingginya mencapai langit-langit tersusun rapi dengan buku-buku yang tentu saja disusun rapi, dengan petunjuk tentang apa saja buku-buku yang ada di sana.


Jutaan buku-buku yang ada disana merupakan buku dengan berbagai jenis pembahasan, mulai dari buu-buku sejarah tentang kerajaan Gracetian dan sejarah dunia, bisnis, fashion, hiburan, psikologi, pendidikan, kesehatan, food & beverage, kepemimpinan, bahkan novel semua ada disana.


Melihat banyaknya buku-buku itu, mata Cladia terlihat berbinar cerah, karena salah satu hobi Cladia yang adalah membaca.


Hal yang biasa dilakukan Cladia untuk menghabiskan waktu di masa lalu, karena sebelum menikah dia hampir tidak pernah keluar rumah kecuali untuk urusan pendidikannya, dan sesekali ke kantor untuk membantu Jeremy, meskipun sebagian pekerjaan lebih banyak dilakukan Cladia di dalam rumah, tempat yang baginya paling aman dan nyaman, jauh dari keramaian, dan tenutu saja, tidak perlu membuatnya banyak bertemu dengan makhluk yang dinamakan pria.

__ADS_1


Tanpa sadar, begitu melihat buku-buku itu, langkah kaki Cladia terlihat semakin cepat, dan dengan begitu antusias, Cladia mendekati rak demi rak buku dan juga membaca judul-judul buku yang ada di sana.


Sesekali Cladia tampak tersenyum, mengambil buku itu, membukanya beberapa lembar sebelum akhirnya meletakkannya kembali ke tempatnya dan beralih ke buku yang lain.


“Kamu boleh menuliskan mana saja buku yang kamu inginkan, aku akan meminjamkannya padamu dan mengirimkan ke Indonesia. Setelah selesai kamu bisa mengirimkannya kembali dan meminta buku yang lainnya.” Penawaran dari Deanda untuknya, membuat mata Cladia membulat sempurna dengan senyum kebar langsung mengembang di wajah cantiknya.


“Apa boleh begitu? Bukannya biasanya buku-buku dari perpustakaan istana tidak boleh keluar dari ruangan ini?”


“Tenang Cla, yang menjanjikan padamu adalah permaisuri Gracetian, mana ada yang bisa menolaknya? Kalaupun ada Deanda tinggal meminta Alvero memberikan stempelnya untuk membuat buku-buku itu bisa keluar dari sini untukmu. Aku tidak yakin kalau permaisurinya sudah turun tangan Alvero bisa menolaknya, kalau tidak ingin malamnya jadi dingin. Ya kan Deanda?” Pertanyaan dari Laurel langsung membuat Deanda tertawa kecil sambil menganggukkan kepalanya.


“Ternyata seperti kata kak Dave, kak Alvero tidak pernah menolak permintaan kak Deanda ya. Kenapa bisa seperti itu? Padahal kak Alvero adalah seorang raja Gracetian yang kekuasaannya lebih tinggi dari siapapun, benar tidak?” Evelyn yang sedari tadi diam tiba-tiba menyelutuk.


“Resikonya berat Evelyn kalau sampai Alvero berani menolak permintaan Deanda. Dia pasti tidak mau emngambil reesiko berat itu.” Laurel menjawab pertanyaan Evelyn yang baginya masih seperti sebuah teka-teki.


“Pada waktunya kamu akan tahu jawabannya.” Cladia yang biasanya diam ikut angkat bicara, membuat Evelyn mengernyitkan dahinya.


“Kapan itu?”

__ADS_1


“Setelah kamu menikah.” Dengan berbarengan Laurel, Cladia maupun Deanda menjawab pertanyaan Evelyn yang hanya bisa tersenyum meskipun dia tidak pasti apa yang sebenarnya dibicarakan oleh mereka, hanya sedikit mengira-ngira dalam hati.


__ADS_2