
"Evan! bisa-bisanya kamu bersikap setenang itu?" Alaya berkata dengan gemas dan langsung melangkah maju, sehingga dia bisa berdiri tepat di depan Evan.
"Kenapa sih kamu bisa setenang itu? Padahal dengan kondisi kita sekarang, rasanya tidak pantas menemui tamu sepenting mereka." Alaya mengomel sambil mencebikkan bibirnya.
Sikap tenang Evan, selalu saja membuat Alaya kadang merasa gemas dan tidak bisa mengerti bagaimana bisa Evan selalu terlihat tenang dan bisa mengendalikan sikap seperti itu.
"Memangnya kenapa harus heboh untuk masalah kecil seperti itu? Ini bukan masalah perang dunia ketiga, apalagi berkaitan dengan nyawa seseorang, jadi kita tidak perlu bersikap sepanik itu." Evan berkata dengan sikap tetap tenang, bahkan dengan santai Evan yang sudah mengenakan piyama tidurnya duduk di pinggiran tempat tidur.
Alaya yang melihat tindakan Evan, jadi ingin ikut mengambil posisi duduk di samping Evan.
Dan tanpa disangka-sangka oleh Alaya, belum lagi panttt...at Alaya menyentuh tempat tidur, tiba-tiba dengan cepat Evan menarik pergelangan tangan Alaya hingga Alaya jatuh terduduk di pangkuan Evan.
"Evan...." Dengan suara pelan Alaya menyebutkan nama Evan, sambil berniat bangkit berdiri, tapi lengan Evan langsung melingkar di pinggang ramping Alaya, mengunci sekaligus menahannya sehingga Alaya tidak memiliki kesempatan untuk bergerak lagi.
"Kenapa kamu terlihat begitu heboh my princess. Sebenarnya apa yang membuatmu tidak nyaman untuk bertemu dengan mereka? Bukannya dari ceritamu, bahkan kamu terlihat begitu akrab dengan para istri mereka?" Evan bertanya sambil hidung mancungnya bergerak dengan lembut dan mesra, menciumi lengan Alaya, lalu naik ke bahu, dan beberapa kali menciumi bagian samping leher Alaya dengan intens.
"Evan... tolong... hentikan...." Dengan suara terbata-bata karena tindakan Evan yang sebenarnya cukup memancing gairahnya, Alaya berkata sambil menggerakkan tubuhnya agar lehernya sedikit menjauh dari jangkauan hidung mancung Evan, yang dengan ciumannya sudah membuat tubuh Alaya meremang, dengan jantung yang iramanya mulai bergerak lebih cepat dari biasanya.
Mendengar nada merajuk dari Alaya, Evan sedikit menahan nafasnya, sebelum akhirnya benar-benar menghentikan tindakannya barusan lalu tersenyum ke arah Alaya yang sedang menatapnya.
__ADS_1
Akan tetapi, tentu saja lengan Evan tetap melingkar dengan erat di pinggang Alaya, seolah menuggu kesempatan untuk dia bisa kembali mencumbu Alaya setelah Alaya puas menyampaikan keluh kesahnya tentang apa yang membuatnya heboh sendiri sedari tadi.
"Evan, coba kamu pikir, bagaimana kita bise bertemu dengan mereka dengan kondisi seperti ini? Lihat?" Alaya berkata sambil menunjuk lehernya sendiri dengan ujung jarinya, dan tanpa disangka-sangka oleh Evan, bahkan Alaya menarik bagian kerah gaun tidurnya untuk memperlihatkan banyaknya tanda kissmark yang sudah dibubuhkan Evan ke bagian dadanya, termasuk sekitar kedua bukit kembarnya yang dalam kondisi tanpa pelindung, sehingga Evan bisa melihat dengan jelas keindahannya yang membuat jiwa laki-lakinya langsung terusik seketika itu juga.
Dengan santainya Alaya menunjukkan keluhannya, tanpa menyadari kalau tindakannya itu justru membuat senjata pusaka milik Evan di bawah sana langsung menegang.
Ah... celaka, ada yang sepertinya sudah aku bangunkan tanpa sengaja. Aduh... bagaimana caraku untuk menidurkannya kembali ya? Aku benar-benar ceroboh.
Alaya yang merasakan ada sesuatu yang mengeras di bawah tempatnya duduk, langsung berkata dalam hati, dan jika bisa ingin sekali dia menepuk jidatnya sendiri sekarang ini karena tindakannya yang justru memancing Evan dengan cepat.
"Evan, dengarkan aku...." Alaya berkata sambil menarik dan merapikan kembali kerah gaun tidurnya.
“Evan, di lehermu juga ada tanda kissmark, kan jadi malu kalau sampai mereka melihatnya.” Alaya berkata sambil ujung jari telunjuknya menyentuh tanda merah gelap yang ada di leher Evan, yang tiba-tiba saja justru menarik jari telunjuk Alaya dan menjauhkan dari lehernya.
“Kenapa memangnya, tanda cinta darimu aku tidak keberatan orang lain melihatnya. Kalau bisa begitu mulai memudar, kamu harus memberikannya lagi.” Evan mengakhiri kata-katanya dengan senyum manisnya, sambil mendekatkan ujung jari telunjuk Alaya ke mulutnya, memasukkan ujungnya dan menghisapnya, membuat Alaya yang awalnya melotot semakin melotot.
Jika pelototan pertama karena kaget dengan kata-kata Evan tentang tanda cinta itu, pelototan kedua karena kali ini Evan membuat jantungnya benar-benar tidak bisa lagi dikondisikan di dalam sana.
“Evan… sepertinya… kita harus saling menahan diri beberapa waktu ini… sampai mereka datang dan pulang dari tempat ini… kalau tidak….”
__ADS_1
“Kalau tidak kenapa?” Evan yang sudah melepaskan tangan Alaya kembali langsung memotong perkataan Alaya dengan sebuah pertanyaan yang membuat Alaya terdiam sejenak.
“Nanti kita akan malu kalau mereka melihat kondisi kita….Kamu tahu… memang bisa sedikit ditutupi, tapi kan sulit sekali. Dan mungkin tetap akan sedikit terlihat…. Dan begitu orang lain melihat, pasti mereka akan langsung berpikir tentang kissmark, tidak berpikir itu bekas gigitan serangga atau apa….”
“Jelas saja Alaya, karena kita baru menikah, mereka pasti akan berpikir ke arah sana.” Perkataan Evan membuat mata Alaya berbinar, merasa Evan mendukung sepenuhnya tentang rencana bagaimana mereka harus menahan diri sekarang.
“Betul kan kata-kataku? Jadi sebaiknya kita berdua saling menahan diri dulu sementara waktu ini.” Alaya berkata sambil berusaha berdiri dari pangkuan Evan, tapi dengan gerakan cepat, lagi-lagi Evan menahan tubuh Alaya agar tetap duduk di pangkuannya.
“Alaya… jangan terlalu pusing dengan pikiranmu sendiri. Kita bisa menutupinya seperti katamu. Tapi aku keberatan jika harus menahannya karena alasan itu….” Evan berkata sambil dengan gerakan cepat memeluk tubuh Alaya sebelum menggerakkannya ke samping, menjatuhkannya ke atas tempat tidur dalam posisi telentang, dengan dadanya yang langsung terlihat naik turun dengan cepat, karena tidakan Evan, kembali membuat dadanya berdebar-debar.
“Aku tidak yankin kalau kamu juga tidak menginginkannya kembali….” Dengan kata-katanya yang terdengar lembut, tangan Evan bahkan sudah berada di balik gaun tidur Alaya dan menangkap salah satu bukit kembar yang menjadi salah satu bagian tubuh Alaya yang menjadi begitu favorit untuknya.
Alaya yang menyadari itu mau tidak mau harus menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, karena gerakan tangan Evan di area pribadinya itu sungguh sulit untuk membuatnya bisa mengendalikan dirinya untuk tidak ikut terpancing dalam gairah.
“Evan….” Suara Alaya yang sudah terdengar sedikit parau membuat senyum Evan lebar dengan wajahnya yang terlihat puas, karena tahu bahwa Alaya tidak akan bisa menolaknya lagi.
Masa bodoh dengan semua tanda itu. Toh bisa ditutupi dengan banyak cara. Aku akan memikirkannya nanti saja setelah ini.
Alaya berkata dalam hati dengan kedua lengannya bergerak ke arah leher Evan, berniat membalas kemesraan Evan pada tubuhnya.
__ADS_1