
"Aku tidak tahu bagaimana caraku untuk menebus kesalahanku padamu my princess. Aku tidak keberatan untuk membayarnya seumur hidupku. Katakan padaku... apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya itu, asal jangan menjauh dan pergi dariku. Tetaplah di sisiku sampai kita menua bersama, selama kita hidup, kita harus terus bersama. Kalau kamu meninggalkanku, aku tidak akan bisa bertahan lagi kali ini my princess." Evan berkata pelan dengan nada memohon, sambil menciumi kepala Alaya secara bertubi-tubi, dengan kedua tangannya terus memeluk erat tubuh Alaya, tidak memberikan kesempatan bagi Alaya untuk menolak tindakan mesra Evan, yang menunjukkan bagaimana besarnya rasa rindu Evan tarhadapnya, juga rasa lega karena sudah berhasil menemukan kembali ingatannya.
"Aku mohon, jangan lagi menjauh dariku, jangan mengabaikanku, jangan menghilang dariku… meskipun aku bersalah padamu." Evan berkata dengan nada memohon, seolah dia tidak perduli lagi dengan statusnya sebagai seorang jenderal besar.
Baginya, asal Alaya tetap berada di sisinya, menjadi miliknya dan tidak pergi darinya karena tidak bisa memaafkannya, Evan rela melakukan apapun untuk Alaya, bahkan jika dia harus berlutut dan memohon pada Alaya, satu-satunya wanita yang begitu dicintainya.
"Tidak... aku tidak akan pernah pergi darimu… karena sekarang kamu sudah kembali padaku Evan. Evan milikku... Evan yang hanya milikku seorang...." Alaya langsung berkata pelan sambil membalas perlukan Evan dengan erat, dengan tangisnya yang belum juga mau berhenti, meskipun dia sebenarnya mencoba untuk berhenti.
“Ya.. iya… aku hanya milikmu seorang my princess. Akan selalu jadi milikmu saja. I love You my princess….” Evan berkata sambil tangan kanannya memegang dagu Alaya dan mengangkat wajah Alaya yang sedang memejamkan matanya dengan wajah penuh dengan airmata.
“I love You too Evan, more than you know. Terimakasih sudah kembali padaku…” Alaya berkata lirih dengan suara sisa tangisnya yang masih terdengar.
"Tapi kenapa saat bertemu denganku, kamu tidak mencoba untuk menjelaskan padaku tentang kita?" Evan berusaha mengetahui apa alasan Alaya tidak memberitahukan kebenaran tentang hubungan mereka ketika Alaya pertama kali bertemu dengannya, dan dia tidak menyadari bahwa Alaya adalah gadis yang menjadi kekasihnya sejak beberapa tahun yang lalu.
"Kamu yang ternyata seorang duke Gracetian, bagaimana bisa kamu menyuruhku tiba-tiba mendatangi seorang laki-laki dengan kedudukan lebih tinggi dariku, dan dengan percaya diri menjelaskan siapa diriku yang sebenarnya dan membeberkan apa hubungan kita? Orang lain yang melihat akan berpikir bahwa aku adalah gadis murahan yang sedang berusaha mencari perhatianmu Duke Evan. Belum lagi kamu yang tidak mengingatku, apa kamu akan begitu saja dengan mudahnya percaya padaku waktu itu? Sebagai seorang jenderal besar, aku tidak yakin kamu akan semudah itu percaya pada orang lain.” Alaya menjawab sambil menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1
Yang paling Alaya takutkan adalah penolakan dan wajah tidak percaya Evan jika waktu itu dia bersikeras untuk menjelaskan dan mengingatkan kepada Evan tentang hubungan mereka.
Ah… my princess…. Bagaimanapun kamu adalah keturunan Adalvino, pasti dengan harga dirimu yang tinggi, kamu tidak akan pernah mau melakukan hal yang bisa merendahkanmu seperti itu. Tidak seperti Kattie atau mungkin beberapa gadis murahan lainnya. Dan itu kelebihanmu, tetap menjaga harga dirimu dengan baik, layaknya seorang bangsawan.
Evan berkata dalam hati sambil menghela nafasnya pelan, cukup maklum dengan apa yang baru saja dijelaskan pada Alaya kepadanya, tentang alasan kenapa waktu itu, dia tidak langsung meminta penjelasan kepada Evan tentang sikap Evan yang seolah tidak pernah mengenalnya.
“Maaf… aku tidak mempertimbangkan hal itu…” Evan menjawab lirih perkataan Alaya, meskipun dalam hati, Evan tidak yakin dia akan melakukan seperti itu pada Alaya.
Karena meskipun belum bisa mengingat siapa Alaya, ketika pertama kali bertemu dengan Alaya di acara afternoon tea, seperti magnet yang menariknya, mata Evan dan hati Evan sudah melekat pada sosok Alaya, meskipun belum ada pernyataan cinta waktu itu.
“Ah… my princess… betapa aku mencintaimu....” Evan berbisik lembut dengan wajah bahagianya.
Setelah sekian lama seolah hidupnya kering, saat ini Evan bisa merasakan lega yang luar biasa dalam hatinya, seperti menemukan oasis di padang gurun.
(Oasis (disebut juga oase) atau wahah dalam ilmu geografi adalah suatu daerah yang subur dan terpencil yang berada di tengah gurun, umumnya mengelilingi suatu mata air atau sumber air lainnya dan memiliki beberapa pepohonan disekitarnya. Oasis juga dapat menjadi habitat bagi hewan dan bahkan manusia jika memiliki area yang cukup luas. Lokasi oasis sangatlah penting dalam rute perdagangan dan transportasi di daerah gurun.
__ADS_1
Para kafilah harus melintasi oasis sehingga persediaan air dan makanan dapat diisi kembali. Dengan demikian, kendali politik maupun militer terhadap suatu oasis pada umumnya terjadi untuk mengendalikan rute perdagangan tertentu. Sebagai contoh, oasis Awjila, Ghadames dan Kufra, terletak di daerah Libya, menjadi bagian vital dalam rute perdagangan lintas Sahara).
Cukup lama Evan menikmati sensasi kelembutan dan rasa manis pada diri Alaya, sampai dia tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak melakukan hal lebih dari sekedar itu, dengan pelan menggerakkan bibirnya ke leher jenjang Alaya, dan mulai mencumbu Alaya dengan penuh gairah.
“I love You….” Berkali-kali tanpa bosannya Evan mengucapkan kata cintanya pada Alaya, dengan tangannya yang mulai bergerak menyingkap gaun murah muda yang dikenakan Alaya, terus naik ke atas sampai dia menemukan sesuatu di bagian tubuh Alaya, yang langsung membuat Evan langsung menahan nafasnya disertai dengan detak jantungnya yang langsung menggila karena sensasi yang timbul, yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.
Bahkan tanpa sadar, nafas Evan mulai memburu dan tidak lagi terkendali, sedang otot-otot di seluruh tubuhnya menegang, karena gairah saat ini sedang memenuhi dirinya, bahkan membuat mata hijaunya berkabut, penuh dengan gairah.
“Ah… Evan….” Tanpa sadar, Alaya menyebutkan nama Evan dengan disertai dengan sebuah desss… sahan yang menunjukkan bahwa gadis itu, tidak kalah bergairahnya dengan Evan, yang sedari tadi terus mencumbunya dan menggiringnya ikut menikmati kedekatan fisik mereka saat ini.
Suara desss…sahan dari Alaya yang juga menyebutkan namanya dengan suara serak karena menahan gejolak gairahnya, membuat tanpa ragu Evan semakin berani, menggerakkan tangannya untuk menelusup masuk, dan meraih bukit kembar yang masih tertutup rapat di balik kain yang dikenakan Alaya.
“Jadilah milikku seutuhnya my princess… hanya milikku seorang… seperti aku yang akan selalu menjadi milikmu seorang…. Jadilah duchess Carsten yang sebenarnya untukku….” Kata-kata lembut dan bernada rayuan dari Evan, sama sekali tidak dijawab oleh Alaya.
Akan tetapi melihat bagaimana Alaya yang semakin menekan tubuhnya pada tubuh Evan, dan sedikit membusungkan dadanya begitu Evan menynetuh aset pribadinya sambil tangannnya memeluk tubuh Evan dengan begitu erat, Evan sudah tahu apa jawaban dari gadis cantiknya itu, tanpa harus mendengar suara dari bibirnya yang menjawab iya.
__ADS_1