
Nyonya Rose sendiri, meskipun tahu bagaimana jelas dan banyaknya kissmark yang terlihat di leher dan bagian atas dada Alaya yang pakalan tidurnya berkerah rendah sedari awal bukannya tidak tahu tentang semua itu.
Hanya saja nyonya Rose memilih untuk diam dan pura-pura tidak tahu, sedang Alaya sendiri, entar kenapa, terhadap nyonya Rose dia bisa begitu bersikap santai, tidak terlalu khawatir jika nyonya Rose melihat itu, karena Alaya yakin, nyoya Rose adalah orang yang bisa dipercaya dan akan selalu bisa menjaga bibirnyua dengan baik terhadap orang lain.
Matilah aku! Pasti aku akan menjadi bulan-bulanan James dan kak Enzo kalau mereka bertemu dan melihat kondisiku. Aku harus segera memberitahu Evan tentang rencana kedatangan mereka, dan sebaiknya, untuk sementara sampai mereka pergi kami hentikan dulu kegiatan kami, atau ukiran di tubuhku akan semakin bertambah.
Alaya berkata dalam hati sambil mengigit bagian bawah bibirnya, merasa lebih baik jika dia meminta Evan untuk tidak melakukan aktivitas percintaan mereka, meskipun tentu saja apa yang direncanakan oleh Alaya itu tidak akan mengubah apapun, karena tanda cinta di tubuhnya tidak akan mungkin hilang dalam satu dua hari saja.
Kalau Ornado dan Dave, Alaya tidak perlu khawatir karena dua pria itu merupakan orang yang sifatnya cukup serius dan tidak suka menggoda orang lain, kecuali Ornado yang biasanya menggoda Laurel istri Dave yang dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri.
Ah ya, ada kak Laurel datang bersama dengan mereka… bisa-bisaya aku melupakan kak Laurel yang juga pasti akan menggodaku habis-habisan. Dengan sifat cerianya, aku yakin dia tidak akan membairkanku lolos begitu saja. Aduh….
Alaya hanya bisa meringis menyadari satu orang lagi yang paling jago menggoda orang lain selain Enzo dan James, karena selama berlibur bersama mereka, Alaya bisa melihat bagaimana dengan mudahnya Laurel membuat James dan yang lainnya mati kutu karena godaannya.
Bahkan godaan Laurel yang emmang banyak akal itu, kadang bisa membuat seorang Ornado yang hebat kehabisan kata-kata untuk membalasnya.
__ADS_1
Hubungan kedua orang yang sudah seperti kakak adik kandung itu seringkali justru menghidupkan suasana saat mereka berkumpul, membuat Cladia maupun Dave yang sama-sama pendiam sebagai pasangan mereka hanya bisa tersenyum geli setiap Ornado dan Laurel beradu pendapat.
“Nyonya Rose… apa tidak ada tempat pertemuan lain di sini? Atau waktu pertemuan bisa ditunda beberapa hari lagi?” Nyonya Rose yang mendengar pertanyaan Alaya sebenarnya ingin tertawa, tapi tentu saja dia tidak berani melakukan itu atau dia bisa-bisa dianggap orang yang tidak tahu diri dan bersikap kurangajar dengan orang yang kedudukannya sanat tinggi seperti Alaya sebagai istri Evan.
“Maaf Duches Alaya, saya hanya menyampaikan pesan dari yang mulia Alvero. Untuk lebih jelasnya, tentang waktu dan alasannya, mungkin Duchess Alaya bisa menanyakan langsung kepada yang mulia Alvero.” Mendengar jawaban dari nyonya Rose, Alaya hanya bisa menghela nafasnya.
“Kalau itu sudah keputusan dari kak Alvero, memmang aku bisa apa? Nyonya Rose pasti tahu kakakku yang satu itu paling sulit untuk dinego. Baginya keputusannya adalah harga mati.” Alaya berkata dengan nada pasrah.
“Tapi Nyonya Rose, aku minta tolong, untuk berita ini, tolong jangan beritahukan apapun kepada duke Evan, biar aku sendiri yang akan memberitahunya sendiri.” Perkataan Alaya langsung ditanggapi dengan sebuah anggukan kecil dari nyonya Rose.
“Kalau nanti sudah selesai, atau ada hal lain yang dibutuhkan, silahkan hubungi saya Duchess Alaya.” Nyonya Rose kembali berkata sambil melangkahkan kakinya mundur ke belakang.
“Eh Nyonya Rose… tolong… jangan kirim orang lain ke kamar ini ya…. Meskipun mungkin merepotkan Nyonya Rose tolong Nyonya Rose sendiri yang melayani kami berdua dan hanya Nyonya Rose yang boleh masuk ke kamar ini….”
“Tidak merepotkan sama sekali Duchess Alaya. Saya sendiri yang akan mengurus kamar ini dan Anda berdua.” Dengan sikap hormat, nyonya Rose menanggapi perkataan Alaya, yang langsung tersenyum lebar.
__ADS_1
“Terimakasih Nyonya Rose… Nyonya Rose memang yang terbaik….” Alaya berkata sabil memberikan bentuk tanda cinta dengan kedua tangannya kea rah nyonya Rose yang langsung tersenyum melihat sikap Alaya yang sejak awal memperlakukannya dengan baik seperti Alvero maupun Deanda memperlakukannya, dan itu membaut nyonya Rose begitu menyayangi dan membela mereka dalam kondisi apapun, ingin memberikan yang terbaik untuk mereka semua yang dia bisa.
# # # # # # #
“Kira-kira kemana perginya anak nakal itu?” Hugo berkata dengan wajah masamnya kepada Elio, asistennya.
“Maaf Duke Hugo, saya sudah berusaha untuk mencarinya, tapi sepertinya duchess Kattie sengaja menghilang dan mematikan alat komunikasi yang terhubung dengannya.” Elio berkata sambil mengingat bagaimana beberapa kali timnya berusaha melakukan penyisiran di seluruh sudut kota Tavisha dan tidak menemukan keberadaan Kattie.
Nimer telepon mikik Kattie pun tidak ada satupun yang bisa dihubungi, bahkan satu nomer khusus yang memang hanya Hugo yang tahu tentang nomer telepon itu.
“Sebenarnya kenapa dia melarikan diri seperti tikus dikejar kucing, toh duke Evan dan putri Alaya, pernikahan mereka belum dikonfirmasi secara jelas di depan semua rakyat. Dan aku yakin ingatan duke Evan belum kembali, dan aku harap tidak pernah kembali.” Hugo berkata sambil menatap lurus ke arah Elio.
“Karena jika duke Evan sudah bisa mengingat semuanya, dia pasti akan menemuiku dan meminta keterangan tentang keberadaan Kattie. Sampai sekarang tidak ada pergerakan dari duke Evan, bahkan info dari para pengawas yang kita sebar, terakhir duke Evan tampak memasuki tempat kediamannya, sedang putri Alaya, kembali ke istana. Berarti mereka hidup terpisah meskipun sudah menikah. Itu adalah kabar baik yang membuktikan hubungan mereka memang bermasalah.” Hugo berkata sambil tersenyum menyeringai.
“Dan ada baiknya, kamu segera singkirkan bukti-bukti keterlibatan kita dengan putra mahkota Christopher dalam membantunya mengambil hak milik tanah di Gracetian dengan menggunakan nama orang lain. Kita harus lepas tangan sebelum mereka mencium keterlibatan kita dalam hal ini.” Hugo berkata sambil membuka lacinya meja kerjanya, mengambil kunci brankas dan bangkit dari duduknya.
__ADS_1