
Tanpa bisa mengendalikan dirinya sendiri, meskipun sempat mengomel saat melihat foto-foto candid Evan di medsos Kattie, tanpa sadar, Alaya justru merasa semakin penasaran dan tertarik dengan foto-foto Evan di medsos milik Kattie, sehingga dia sibuk melihat-lihat foto Evan di sana yang jumlahnya bukan lagi puluhan, tapi sudah ratusan jumlahnya.
Foto-foto yang menunjukkan Evan dalam berbagai pose, berbagai macam pakaian, dan berbagai situasi, membuat Alaya terus melihatnya satu persatu foto-foto candid itu tanpa bisa berhenti sedikitpun, seperti candu baginya dan seolah menjadi obat rindu yang begitu ampuh untuknya, setelah bertahun-tahun terpisah dari Evan.
Bahkan semakin lama Alaya melihat-lihat foto Evan, dadanya semakin berdebar dengan keras, dan tanpa sadar sebuah senyum tipis tidak bisa dia kendalikan begitu melihat foto yang menunjukkan Evan dalam pose yang begitu mempesona bagi Alaya, dimana foto itu menunjukkan Evan dengan pakaian kebesarannya sebagai seorang duke, sedang mengangkat sebuah gelas piala sambil tersenyum lebar saat dia menghadiri acara perayaan penobatannya sebagai jenderal besar Gracetian waktu itu.
Wajah tampan dan senyum malaikat yang sungguh mematikan.
Alaya berbisik dalam hati dan dengan cepat mengalihkan pandangan matanya dari foto yang membuat jantungnya semakin berdisko ria di dalam sana.
Keberadaan foto-foto candid itu pada akhirnya membuat Alaya sadar kalau Kattie hanyalah seorang gadis yang terlihat jelas begitu menyukai Evan, tapi sayangnya dari foto yang hanya bisa diambil diam-diam oleh Kattie menunjukkan kalau Evan tidak memiliki perasaan yang sama terhadap Kattie.
Apalagi dari ratusan foto-foto itu, hanya terlihat sosok Evan dan yang lainnya, tanpa adanya foto yang menunjukkan gambar Kattie berduaan dengan Evan sekalipun.
“Auwww… ternyata duchess Kattie ini penggemar setia dari duke Evan yang tidak sadar sedang diidolakan seperti itu. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya dia pasangan yang cocok dengan duke Evan, sama-sama terlahir sebagai bangsawan kelas atas, tanpa perlu belajar ekstra seperti aku inia.” Alaya berkata sambil meringis karena selain foto-foto Evan, beberapa perkataan yang dituliskan Kattie di medsosnya menyatakan bahwa dia tidak percaya kalau rencana pernikahan antara Alaya dan Evan murni karena mereka berdua saling mencintai, dan tidak memiliki maksud tersembunyi, yang berhubungan dengan hal yang berbau politik.
Disana Kattie juga menuliskan bahwa Alaya belumlah layak mendampingi Evan karena Alaya dianggap masih baru saja belajar kehidupan bangsawan setelah lebih dari dua puluh tahun hidup sebagai rakyat biasa, sedangkan Evan adalah seorang duke dengan kedudukan penting yang pastinya membutuhkan pendamping yang sepadan untuk mendukungnya.
__ADS_1
Di medsosnya, Kattie sibuk menggiring pemikiran orang lain agar ikut menentang dan mempertanyakan tujuan asli dari pernikahan Alaya dan Evan, dan membuat seolah-olah pernikahan itu hanyalah sekedar sebuah sandiwara untuk kepentingan politik kerajaan.
Dan meskipun beberapa bangsawan lain berusaha mengingatkan Kattie tentang kata-katanya yang bisa dianggap sebagai hal yang berbau makar, Kattie terus saja menuliskan kata-kata yang dia tujukan untuk membuat orang lain untuk ikut bersamanya mempertanyakan hubungan Alaya dan Evan.
(Secara harfiah makar adalah bentuk penyerangan atau perlawanan terhadap pemerintah yang sah dengan maksud untuk menjatuhkan pemerintahan atau menentang kebijaksanaan yang sudah menjadi ketetapan dengan melawan hukum, baik melalui kekuatan senjata maupun dengan cara lainnya, bahkan membunuh pimpinan tertinggi suatu negara. Makar mengarah pada tidakan pemberontakan atau tipu muslihat terhadap pemerintah yang sedang berkuasa).
“Melihat bagaimana history yang tertulis di medsosnya sepertinya Kattie bukan orang yang perduli dengan pendapat dan pandangan orang lain tentangnya. Dan orang-orang sepertinya juga sudah terbiasa melihat sikap arogan Kattie, dan hanya menganggapnya sebagai orang yang kurang waras yang sedang berusaha menarik perhatian orang lain.” Alaya memberikan penilaiannya terhadap Kattie setelah melihat medsos milik gadis itu.
“Aku jadi heran, kenapa kak Alvero maupun duke Evan membiarkan tulisan seperti ini dilihat dan dibaca oleh banyak orang? Terutama duke Evan? Apa dia tidak keberatan dengan semua tulisan duchess Kattie yang terkesan memojokkan dia setelah pengumuman resmi rencana pernikahan kami dinyatakan oleh pihak istana?” Alaya berkata sambil terus membaca apa yang dituliskan oleh Kattie di medsosnya.
“Padahal sebelum adanya pengumuman tentang rencana pernikahan kami, duchess Kattie selalu memposting tulisan-tulisan yang memuji dan membanggakan duke Evan di depan semua orang.” Alaya kembali berkata sambil menutup medsos milik Kattie dan mulai menjelajahi medsos milik para bangsawan Gracetian yang lainnya.
Karena kedua laki-laki hebat itu sedang menyusun strategi untuk membuat keluarga Brown semakin menunjukkan banyak kesalahan mereka, dan membuat Alvero maupun Evan ke depannya bisa mengumpulkan bukti-bukti yang kuat tentang kesalahan keluarga Brown, sehingga bisa menekan mereka untuk tidak dapat lagi mengelak untuk mendapatkan sanksi atas perbuatan mereka itu.
“Mmmmm….” Alaya masih begitu asyiknya melihat-lihat dan membaca-baca berita di internet, sampai sebuah bunyi suara telepon kamar hotel yang ada di atas nakas, di samping tempat tidurnya berbunyi nyaring.
“Eh….” Dengan gerakan cepat, Alaya membalikkan tubuhnya, dan duduk di pinggiran tempat tidur, lalu mengangkat gagang telepon.
__ADS_1
“Hallo….”
“Selamat sore Putri Alaya. Ini dengan Sophie, bagian front office Hotel Tavisha.” Bagian front office hotel segera menyapa Alaya dengan suara ramah dan sikap hormat.
“Selamat sore, apa ada paket atau kiriman barang untukku?” Alaya yang memang sedang menunggu suatu kiriman barang dari Alea yang dipesannya sejak tadi siang, langsung menanyakan paket itu.
“Maaf Putri, saya ingin menyampaikan hal lain untuk Putri.”
“O, ya? Ada apa?”
“Sekarang disini ada tamu yang ingin bertemu dengan Putri Alaya. Apakah boleh langsung saya antar untuk menemui Putri sekarang?” Alaya langsung mengenyitkan dahinya begitu mendengar perkataan dari Sophia, karena dia tidak sedang menunggu seseorang.
Siapa kira-kira yang datang? Alea? Atau kak Deanda dan kak Alvero? Kalau mereka yang datang, tidak mungkin mereka meminta ijin. Ini hotel milik kak Alvero, dia pasti akan langsung menerobos masuk kalau hanya sekedar ingin bertemu denganku. Dan pastinya tidak akan ada seorangpun yang berani menghalangi kak Alvero tentang hal itu.
Alaya berkata dalam hati dengan wajah penasarannya.
“Siapa tamu yang ingin bertemu denganku tanpa janji sebelumnya Nona Sophia?” Dengan nada penasaran, Alaya langsung bertanya kepada Sophia.
__ADS_1
“Duke Evan Carsten, Putri Alaya.” Dan dengan cepat pula, Sophia langsung menjawab pertanyaan Alaya, yang jantungnya langsung berdetak dengan begitu cepatnya begitu mendengar Evan sedang berada di bagian front office dan berniat menemuinya.