
“Sepeda motor ini cukup keren, dan aku yakin dia bisa berlari dengan kencang dan membawaku pergi dari are kemacetan ini. Lalu, alasan apa yang membuat sepeda motor ini tidak pantas untuk aku kendarai? Percayalah padaku, aku akan menjaganya dengan baik.” Evan segera berkata kembali untuk meyakinkan pemuda itu.
Mendengar perkataan Evan, pemuda itu langsung tersenyum.
“Kalau memang Duke Evan membutuhkannya, silahkan Duke Evan pakai selama apapun dan kemanapun Duke Evan pergi.” Akhirnya pemuda itu bersedia meminjamkan sepeda motornya.
“Kalau begitu terimakasih untuk bantuannya. Aku sedang ada urusan yang sangat mendesak, jadi aku harus pergi sekarang.” Evan berkata sambil menggerakkan kakinya, untuk dia bisa segera naik ke atas sepeda motor itu.
“Boleh aku pinjam helmmu?” Pertanyaan Evan langsung ditanggapi dengan sebuah anggukan berkali-kali dengan cepat oleh pemuda yang kehabisan kata-katanya itu, karena tidak percaya selain meminjam sepeda motornya bahkan Evan bersedia mengenakan helm miliknya, yang pasti bekas bertengger di atas kepalanya.
Duke Evan… betul kan dia benar-benar duke Evan? Aku tidak percaya! Benar-benar tidak percaya! Seorang duke Evan meminjam sepeda motorku dan memakai helmku di kepalanya? Aku pasti sedang bermimpi!
Pemuda itu berteriak dalam hati sambil dengan diam-diam, tanpa dilihat oleh Evan, berusaha mencoba mencubit bagian belakang pahanya sendiri untuk membuktikan bahwa sekarang dia tidak sedang bermimpi.
Ini benar-benar hari keberuntunganku. Untung saja aku datang ke tempat ini tadi. Apa perlu setelah duke Evan mengambalikan helmku nanti, aku membelikan sebuah lemari kaca dan menyimpannya di sana sebagai bukti bahwa duke Evan pernah memakainya? Aku akan memamerkannya pada teman-temanku. Mereka pasti akan iri. He he he.
Pemuda itu kembali melanjutkan kata-katanya dalam hati dengan dada yang berdebar keras karena merasa begitu bahagia.
“Aku pergi dulu ya…. Eh… siapa namamu?” Evan yang berencana langsung pergi, tiba-tiba ingat untuk menanyakan siapa nama pemuda baik hati itu.
“Jacob Duke Evan, nama saya Jacob Riverstoon.” Pemuda itu segera menjawab pertanyaan Evan tentang namanya dengan suara bersemangat.
__ADS_1
“Oke Jacob, senang bertemu denganmu, sayangnya aku harus pergi sekarang karena sebenarnya aku sudah terlambat dan tidak ingin keterlambatanku semakin parah. Kalau begitu… aku pergi dulu Jacob.” Setelah mengakhiri kata-katanya, Evan segera menutup kaca bagian depan helm yang dikenakannya, dan langsung menginjak gas sepeda motor yang dikendarainya dan melaju pergi meninggalkan Jacob yang masih memandang kepergian Evan dengan tatapan mata antara tidak percaya sekaligus bercampur dengan rasa bangga yang tak terkira.
“Lho…. Duke Evan…. Bagaimana dengan nomer kontak... ku…” Jacob tidak lagi melanjutkan kata-katanya karena dilihatnya Evan sudah pergi dengan mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan cukup tinggi.
Apalagi suara deruman keras dari knalpot sepeda motornya membuat suara Jacob tertelan habis.
“Kalau duke Evan tidak mengetahui kontakku, bagaimana dia bisa menghubungiku saat ingin mengembalikan sepeda motorku nanti?” Jacob bergumam pelan dengan wajah bingungnya, karena tidak terpikir olehnya bagaimana cara untuk menemukan sosok seseorang dengan cepat tanpa mengetahui nomer telepon orang yang bersangkutan.
Padahal bagi seorang Evan, hal itu sangat mudah seperti membunuh seekor semut yang melintas di depan matanya.
Evan sendiri dengan fasihnya melajukan sepeda motor itu, meliuk ke kanan dan ke kirin, meninggalkan kerumunan kemacetan yang sudah membuatnya terjebak cukup lama.
Aku harus secepat mungkin sampai di istana.
# # # # # # #
“Kami sebagai pihak dari kerajaan Gracetian merasa bangga dan berterimakasih untuk lamaran yang diajukan Putra Mahkota Christopher terhadap putri Alaya. Akan tetapi dengan berat hati, aku terpaksa menolak lamaran itu karena sebentar lagi putri Alaya akan bertunangan dengan kekasihnya.” Mendengar kata-kata Alvero yang terdengar sopan namun menusuk karena berisi sebuah penolakan, semua yang hadir di situ wajahnya terlihat tegang, kecuali Christopher.
Mendengar perkataan dari Alvero, Christopher terlihat tetap tenang, seolah yang baru didengarnya bukanlah suatu hal yang buruk. Padahal mana pernah sebuah penolakan dianggap sebagai hal yang baik?.
Di wajah laki-laki tampan berambut pirang itu, tidak menunjukkan tanda kecewa apalagi terkejut, seolah-olah dia sudah tahu bahwa malam ini dia akan mengalami penolakan itu, dan itu membuat Alvero justru merasa aneh.
__ADS_1
“Ooo, jadi seperti itu ya… ternyata putri Alaya sudah memiliki seorang kekasih dan sedang merencanakan pertunangan mereka. Siapa kira-kira laki-laki yang sangat beruntung itu Yang Mulia Alvero?” Christopher bertanya sambil melirik ke arah Alaya yang sedari awal memilih untuk berdiam diri, memlih sebagai pendengar yang baik dengan wajah tanpa senyum sama sekali.
Eh, kenapa wajah putra mahkota Christopher teriihat begitu tenang, bahkan tidak menunjukkan reaksi apapun atas penolakan yang sudah aku beritahukan padanya? Sepertinya ada yang aneh dengan itu. Apa dia sudah tahu kalau dia bakal ditolak? Kalau begitu kenapa dia harus repot-repot datang ke Gracetian kalau tahu akan ditolak? Apa dia sedang memiliki rencana lain di Gracetian?
Alvero mulai menebak-nebak dalam hati karena sikap Christopher yang baginya justru terlihat mencurigakan dengan sikap tenangnya.
Meski tidak dekat dan tidak mengenal dengan baik pihak keluarga kerajaan Rodfell, tapi Alvero sering mendengar bagaimana temperamentalnya Christopher yang dikatakan seringkali tidak akan mudah mengalah pada orang lain, terutama putra mahkota Hector yang selalu dianggapnya sebagai saingan beratnya sejak mereka berdua masih kanak-kanak.
“Kalau boleh, bisakah aku mengetahui siapa kekasih putri Alaya yang tidak pernah ada berita apapun tentang Putri Alaya, yang ternyata sedang menjalin hubungan serius dengan seorang pria?” Christopher kembali menanyakan tentang siapa laki-laki yang menjadi kekasih Alaya saat ini.
Sebuah ketukan dari arah pintu, membuat Alvero dan yang lain menoleh ke arah sana. Ernest yang berada di dekat pintu dengan sikap siaganya, langsung membuka pintu ruangan itu setelah Alvero menganggukkan kepalanya ke arah Ernest, memberi tanda kalau dia mengijinkan Ernest untuk membuka pintu.
Karena Alvero yakin, bahwa yang sedang mengetuk pintu pastilah orang penting atau orang yagn membawa berita penting.
Kalau tidak, tidak mungkin seseorang berani menggganggu acara pertemuan penting antara Alvero dan Christopher.
“Apa Yang Mulia sedang menunggu seseorang untuk bergabung dengan pembicaraan kita malam ini?” Christopher yang merasa pertemuannya dengan Alvero terganggu dengan bunyi ketukan pintu itu, langsung bertanya kepada Alvero.
“Ya, seseorang yang penting.” Alvero langsung menjawab dengan suara tenang dan berwibawanya, tanpa menunjukkan emosi apapun di wajahnya, agar Christopher tidak melihat bahwa saat ini Alvero merasa tidak nyaman dengan pembicaraan mereka dan ingin segera menyelesaikannya.
Semoga yang datang ke sini adalah duke Evan, agar aku bisa dengan segera menyelesaikan masalahku dengan putra mahkota Christopher. Rasanya melihat bagaimana sikap dan tindakan dia selama di Gracetian, jika tidak mengingat tentang sopan santun, aku begitu ingin mengusirnya dari Gracetian secepat mungkin.
__ADS_1
Alvero berkata dalam hati dengan perasaan berharap memang benar yang ada di balik pintu itu adalah Evan.