
“Kalau begitu istirahatlah, aku akan menjagamu di sini. Katakan saja kalau kamu memerlukan sesuatu.” Mata Alaya hampir saja melotot ke arah Evan yang dengan santainya menarik kursi rias yang ada di kamar Alaya, dan menyeretnya mendekat ke tempat tidur, untuk kemudian dia dengan santainya duduk di sana, dengan posisi yang bisa mengawasi sosok Alaya dengan sempurna.
“Kenapa denganmu? Apa kamu merasa sudah jauh lebih baik, dan tidak jadi melanjutkan rencana istirahatmu?” Evan yang melihat bagaimana Alaya yang tanpa sadar karena jengkel terus memandangnya dengan posisi tidur terlentang dan kepala menoleh ke arah Evan langsung menggerakkan tubuhnya agar tidur dalam posisi miring membelakangi Evan kembali dengan tatapan mata yang Evan tahu, penuh dengan kejengkelan.
Alaya yang tidak menjawab pertanyaannya, dan langsung mengambil posisi membelakanginya, membuat Evan menyunggingkan senyum gelinya.
Apa maksudnya duke Evan melakukan itu? Bukannya pergi, justru nongkrong di kamar ini. Laki-laki itu benar-benar membuatku sakit kepala. Aku berharap dia segera mendapatkan telepon penting dari anak buahnya yang mengabarkan pekerjaan penting yang harus dia selesaikan. Kalau dia disini terus, bagaimana dengan nasibku? Duke Evan benar-benar membuatku kerepotan dan selalu membuatku dalam masalah.
Alaya yang melihat tindakan Evan hanya bisa mengomel dalam hati, dan bingung sendiri dengan apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi Evan.
Kalau begini terus caranya, bagaimana caraku untuk terus berpura-pura sakit di depannya? Jangan-jangan setelah ini dia memeriksa suhu tubuhku dengan paksa, seperti dia memintaku melepaskan selimutku. Laki-laki ini benar-benar tidak bisa dikalahkan dengan mudah. Dan terus berpura-pura seperti ini, sungguh membuatku tidak nyaman. Aku akan segera memikirkan cara agar dia segera keluar dari kamar ini. Yang pasti, aku tidak akan mengajaknya bicara agar dia mati kebosanan. Sepertinya hanya itu yang sekarang bisa aku lakukan untuk menghadapi duke Evan.
Alaya kembali mengomel dalam hati sambil sambil berpura-pura batuk lagi, membuat mata hijau Evan yang awalnya sedang melihat ke arah layar handphonenya langsung melirik ke arah Alaya dengan senyum di wajah tampannya.
My princess, sepertinya kamu masih begitu ingin melanjutkan aktingmu. Kalau begitu, kita berdua akan main drama bersama.
__ADS_1
Evan berkata dalam hati dengan mata terus menatap ke arah Alaya yang sedang membelakanginya.
Belum ada 2 menit berlalu, justru Alaya yang sudah merasa bosan setengah mati, karena dia harus terus berpura-pura sakit di depan Evan.
Alaya masih terus mencoba mencari cara untuk dapat segera mengusir Evan dari kamarnya, ketika didengarnya sebuah suara ketukan dari arah pintu kamarnya.
Siapa itu? Semoga itu adalah seseorang yang membawa kabar buruk untuk duke Evan, sehingga dia harus pergi dari sini secepatnya.
Dengan hati yang sangat berharap, Alaya berkata dalam hati sambil melirik ke arah pintu tanpa berani bersuara, agar Evan berpikir dia memang sedang beristirahat, karena sakitnya membuat tubuhnya lemah dan tidak bertenaga, karena itulah akting yang sedang dia lakukan, agar Evan mau membatalkan pertemuan keluarga besok.
Tapi sayangnya, harapan Alaya tinggallah harapan, karena yang datang adalah Sam, asisten pribadi Evan, yang diantar oleh nyonya Rose.
“Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu Duke Evan. Selamat siang. Saya akan segera kirimkan semua pesanan Duke Evan dalam waktu kurang dari 10 menit.” Kata-kata Sam membuat Evan tersenyum.
“Baik, aku akan tunggu. Kamu bisa kembali secepatnya. Selamat siang.” Evan berkata sambil menutup kembali pintu kamar Alaya, yang meskipun berada di tempat tidur yang letaknya cukup jauh dari pintu kamar, Evan tidak mau kalau ada seseorang, apagi pria lain yang melihat sosok cantik Alaya dalam balutan gaun tidurnya, yang bagi Evan terlihat cukup menggoda imannya sebagai laki-laki normal.
__ADS_1
Begitu Evan kembali ke posisinya semula, Alaya yang masih berpura-pura sakit sedikit melirik ke arah Evan yang sudah duduk kembali ke tempatnya tadi.
Kali ini Evan terlihat begitu berkharisma dengan sikap duduknya yang terlihat menyilangkan kaki, dan duduk dengan menyandarkan tubuhnya ke tembok, karena kursi yang didudukinya tidak ada sandarannya, dan Evan meletakkannya di dekat tembok yang ada tepat di samping tempat tidur Alaya.
Dan Alaya harus kembali dikagetkan dengan apa yang sedang dilakukan oleh Evan, karena laki-laki itu ternyata meminta Sam mengirimkannya beberapa buku untuk sengaja dia baca sambil menunggui Alaya.
Astaga! Duke Evan! Kamu benar-benar membuatku frustasi! Bagaimana bisa kamu membawa buku-buku itu dan membacanya di kamarku dengan sikap begitu santai, seolah ini adalah kamar pribadimu?
Alaya kembali berteriak dalam hati, karena dengan tindakan Evan, Alaya berani menjamin kalau Evan memang berniat menungguinya dalam waktu lama, bahkan akan betah berada di kamar itu selama berjam-jam, yang artinya tidak ada kesempatan bagi Alaya untuk beristirahat dalam berakting.
Padahal bagi Alaya, bepura-pura batuk, dan juga berpura-pura tidur terbaring dengan kondisi badan lemah, untuk orang yang aktif dan lincah sepertinya adalah sebuan penyiksaan, yang sebenarnya ingin segera dia akhiri setelah Evan pergi dari kamarnya, dan bersedia membatalkan rencana pertemuan dua keluarga besok.
Dan belum sempat Alaya selesai dengan rasa kaget dan kesal dengan adanya Evan yang dengan santainya sekarang duduk sambil membaca buku sambil menungguinya, setelah lewat beberapa menit, dari arah pintu kamar Alaya kembali terdengar sebuah ketukan pintu yang membuat Alaya kembali bertanya-tanya, siapa yang datang kali ini, dan apakah orang itu berhungan dengan Evan juga.
Kali ini, memang bukan Sam yang datang, akan tetapi sesuatu yang langsung menyapa hidung Alaya yang pada dasarnya sedang kelaparan, membuat Alaya langsung menelan ludahnya dengan perut yang mulai bereaksi dengan mengeluarkan suara sedikit nyaring, karena yang datang adalah kereta dorong makanan yang di atasnya tersaji banyak makanan yang terlihat begitu menarik dan baunya yang lezat langsung membuat orang sehat yang mencium baunya pasti tergugah selera makannya.
__ADS_1
Hanya sayangnya, Alaya yang sekarang sedang mengaku sakit, tentu saja akan terlihat sangat aneh jika dia begitu berselera saat melihat berbagai jenis makanan enak yang sudah dipesan Evan itu.
Dan Evan sengaja melakukan itu karena saat nyonya Rose menawarkan bubur untuk Alaya, Evan sempat mendengar suara perut Alaya yang keroncongan, meskipun tidak terdengar keras.