Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
TIDAK BISA MENAHAN DIRI


__ADS_3

Belum lagi karena gerakan terjatuh dari Alaya di atas tempat tidur itu, membuat sebagian dari rok yang dikenakan oleh Alaya juga tersingkap ke atas dan menunjukkan kulit mulus dari istri Evan itu, hampir sampai ke arah pangkal paha Alaya, dimana lebih naik sedikit lagi adalah bagian tubuh Alaya yang membuat senjata pusaka Evan langsung tegak berdiri, meski hanya dengan membayangkannya saja.


"Bagaimana bisa kamu tidak mengenali suamimu sendiri? Sepertinya percintaan kita yang tadi masih sangat kurang untukmu, sehingga kamu belum tahu dengan detail tentang tubuhku." Evan berkata dengan senyum manisnya yang bagi Alaya adalah sebuah senyum mematikan, yang selalu membuatnya mabuk kepayang.


"Setelah ini, kamu harus memperhatikan dengan jelas setiap inchi demi inchi dari tubuhku dengan tidak ada yang terlewatkan, agar kamu bisa langsung mengenaliku, dalam penampilan apapun. Seperti aku yang sudah begitu hafal dengan setiap inchi lekuk tubuhmu yang indah dan memabukkan ini, termasuk bau tubuhmu yang begitu menggairahkan bagiku.... Mulai sekarang... meskipun kamu berusaha menyamar seperti apapun, aku akan selalu bisa mengenalimu dengan baik." Lagi-lagi Evan berkata sambil matanya menatap ke arah Alaya dengan tatapan penuh hasrat, yang bahkan membuat tubuhnya terasa gerah dan ingin segera melepaskan semua kain yang menutupi kulit tubuhnya, sehingga kulitnya bisa bersentuhan langsung dengan kulit tubuh Alaya.


“Dan ternyata… mau berpenampilan seaneh apapun… kamu tetaplah wanita milikku yang paling cantik dan menggoda bagiku….” Evan berkata sambil tangannya bergerak ke arah rambut Alaya, dan melepaskan rambut Alaya yang awalnya dikonde sederhana dan menunjukkan leher jenjang Alaya sedari tadi begitu menggodanya.


Gerakan rambut Alaya yang jatuh terurai dan berhamburan di atas tempat tidur, membuat Evan langsung menahan nafas sambil menelan ludahnya kembali, disertai dengan detakan jantung yang menggila di dalam dadanya.


Bahkan tanpa sadar, nafas Evan sudah semakin memburu, dengan tangannya yang sedang tidak memegang pergelangan tangan Alaya tiba-tiba sudah menelusup masuk ke balik pakaian Alaya, dan merayap ke bagian atas tubuh Alaya, yang tubuhnya langsung menggeliat, antara geli tapi juga menikmati sentuhan Evan itu, apalagi setelah tangan Evan menelusup lebih dalam lagi ke dalam bra yang dikenakannya.


Begitu tangannya berhasil mendapatkan benda kenyal yang begitu diidamkannya, dan melihat bagaimana tubuh Alaya yang tersentak sambil menggigit bagian bawah bibirnya saat merasakan tangan Evan mulai memijat dan memainkan ujung salah satu bukit kembarnya, Evan dengan sengaja melepaskan tangannya yang sedang memegang pergelangan tangan Alaya, dan menarik tangan itu ke arah tubuh Evan.

__ADS_1


Dengan gerakan pelan, Evan mengarahkan tangan Alaya ke dadanya, membiarkan telapak tangan Alaya menyentuh perut berototnya yang terbentuk sempurna, dengan guratan di tubuhnya yang membentuk six pack.


"Kalau begitu... kamu bisa mulai menghafalkan inchi demi inchi bentuk tubuhku, agar kamu tidak mudah untuk melupakannya." Evan berkata sambil melepaskan tangannya yang baru saja menuntun tangan Alaya ke tubuhnya, dan mulai membuka kancing pakaian pengawal yang dikenakannya, termasuk melepaskan sabuk yang dikenakannya dan melemparnya begitu saja ke sembarang arah.


Meskipun tidak rela berpisah sekejap dari bagian tubuh Alaya yang memberinya sensasi yang begitu menggairahkan dan membuatnya sulit untuk berhenti, untuk sementara waktu Evan terpaksa menjauhkan tangannya dari salah satu bukit kembar milik Alaya, dan menegakkan tubuhnya, agar dengan cepat dia bisa melepaskan dirinya dari pakaian dan celana yang dianggapnya begitu mengganggu kegiatan yang akan dia lakukan selanjutnya bersama Alaya.


Setelah itu, dengan gerakan tidak sabar, karena pikiran liarnya yang sudah kemana-mana, Evan yang sudah berdiri di pinggiran tempat tidur tanpa sehelai benangpun langsung menggerakkan tangannya ke arah Alaya dan melepaskan semua kain yang menutupi tubuh istrinya itu, termasuk dua benda pengaman yang menutupi kedua aset berharga milik Alaya, goa kenikmatan tempat benda pusaka Evan akan berlabuh nantinya, dan dua bukit kembar dengan ujungnyaa yang langsung membuat Evan lupa diri dan langsung mengulumnya dengan rakus.


Meskipun awalnya ingin sedikit menahan dirinya, tapi ternyata bibir Alaya tidak sanggup juga untuk tidak mengeluarkan suara desss...ssahann dengan tubuh yang menggelinjang karena Evan yang sudah berhasil membawa pikiran dan tubuhnya merasakan sensasi kenikmatan yang tiada taranya.


Gerakan tubuh Alaya yang bagi Evan terlihat erotis, dan juga suara dessss...ssahannn dari bibir Alaya yang semakin membangkitkan jiwa laki-laki Evan, langsung membuat Evan ingin segera menunjukkan keperkasaannya sebagai seorang pria yang bisa memuaskan wanita yang dicintainya itu, membawanya sama-sama menikmati indahnya surga dunia, dimana mereka melakukannya atas dasar cinta yang begitu dalam satu dengan yang lain.


Dengan gerakan pelan, jari-jari Evan bergerak di bawah sana, memastikan bahwa bagian inti Alaya sudah siap untuk menerima kedatangan senjata pusakanya.

__ADS_1


Dan gerakan Evan itu, mau tidak mau membuat tubuh Alaya semakin menggelinjang, dengan wajah yang terlihat begitu memerah menahan gairah yang memuncak seiring dengan gerakan jari-jari tangan Evan di bawah sana yang membuat tubuh Alaya semakin sulit untuk tidak menggeliat.


"Ahh...." Sebuah dess...ssahann yang cukup keras langsung terdengar dari bibir Alaya begitu dia merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba mendesak masuk ke bagian intinya, tanpa bisa Alaya menahan suara itu lagi.


Sebuah senyum bangga langsung terlihat di wajah Evan begitu melihat reaksi Alaya atas aksi yang baru saja dilakukannya, apalagi suara dari bibir Alaya terus terdengar disertai dengan kedua lengan Alaya yang memeluk leher Evan, dengan wajah yang terlihat semakin memerah, dan sesekali tampak menggigit bagian bawah bibirnya dengan cukup keras sambil memejamkan matanya, menunjukkan bagaimana Alaya begitu menikmati apa yang sedang dilakukan Evan pada tubuhnya sekarang ini.


"Jangan tahan suaramu my princess…. Panggil namaku my princess... akulah satu-satunya priamu... panggil namaku, teriakkan namaku dengan bibir manismu itu...." Suara Evan yang terdengar parau, dengan mata menikmati pemandangan wajah cantik yand sedang berada di bawah kungkungan kedua lengannya, membuat Alaya yang masih saja memejamkan matanya karena gelombang kenikmatan yang dibawa oleh Evan tersenyum.


"Evan... ah... Evan.... Evanku…." Suara dari bibir Alaya terdengar begitu serak dan juga manja, seolah menahan sesuatu yang rasanya hampir meledak dari dalam tubuhnya.


Suara Alaya yang menyebutkan namanya dengan suara yang menunjukkan bahwa Alaya begitu bergairah karenanya, membuat Evan tidak lagi menahan dirinya untuk menggerakkan senjata pusakanya di bawah sana dengan kecepatan tinggi.


"Evan... I love you...." Dan pernyataan cinta Alaya padanya disertai dengan suara desss…ssahannn Alaya, membuat Evan langsung tersenyum bahagia, disertai dengan semburan  calon benih penerus keluarga Carsten ke dalam rahim Alaya.

__ADS_1


(Semoga episode kali ini memuaskan para pembaca yang sudah menunggu kebucinan antara Alaya dan Evan. Semoga tidak terlalu vulgar. Author mengetiknya sampai ikut deg-degan dan berkeringat dingin. Terimakasih untuk dukungan para pembaca setia novel ini).


__ADS_2