
“Kamu ternyata juga sudah mengenal asisten Evan waktu itu. Berarti hubungan kalian sudah benar-benar dekat sampai Evan membiarkanmu tahu siapa asisten pribadinya. Biasanya bangsawan dengan kedudukan tinggi seperti Evan, tidak akan dengan sembarangan memperkenalkan asisten atau pengawal pribadinya pada orang lain. Jadi, sedari awal, bagi Evan, kamu adalah orang yang istimewa.” Alvero langsung menanggapi pertanyaan dari Alaya tentang Ramon.
Sejak menjadi kekasih Alaya, Evan memang seringkali membelikan Alaya barang atau makanan kesukaan kekasihnya itu, karena Evan tahu setelah kembali ke Gracetian, dia akan langsung berkutat dengan banyakanya pekerjaan yang menanti, dan butuh waktu tidak sebentar untuk dia bisa kembali bertemu dengan Alaya.
Karena itu dengan waktu yang ada, saat itu Evan ingin memberikan semua yang terbaik untuk Alaya.
Bagi Alaya, sosok Ramon merupakan seorang asisten dengan totalitas penuh saat bekerja pada Evan.
Menurut Alaya, Ramom adalah sosok yang tidak sekedar tampan, gagah dan atletis tapi dia begitu cekatan, cepat bertindak dan sungguh mengerti dengan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, apalagi jika itu tentang Evan.
Meskipun Sam sebagai asisten Evan yang sekarang tidak kalah bagusnya, tapi dalam hal perhatian dan wajah ramahnya tehadap orang lain, boleh dikata, Sam kalah jauh dengan Ramon.
Ibaratnya Ramon sifatnya seperti Ernest, sedang Sam, lebih mirip seperti Erich.
__ADS_1
“Apa kecelakaan itu sedemikian parah hingga membuat Ramon meninggal?” Dengan suara ragu, Alaya bertanya kembali kepada Alvero.
“Benar, sepulang dari melaksanakan tugasnya waktu itu, Evan mengalami kecelakaan maut yang membuat nyawa Ramon tidak bisa diselamatkan lagi, karena menurut info dari data-data yang ditemukan di lokasi kejadian, sepertinya Ramon mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Evan. Dia membuat arah mobil yang mengalami kecelakaan itu sebisa mungkin yang terhantam lebih dahulu dan lebih keras adalah di bagian pengemudi, sehingga Evan bisa selamat.” Penjelasan dari Alvero, membuat dada Alaya berdeteak kencang.
Meskipun sampai saat ini dia masih merasa tidak bsia menerima kehadiran Evan kembali, tapi membayangkan bagaimana kecelakaan itu bisa saja juga merenggut nyawa Evan, timbul rasa tidak rela dalam hati Alaya.
“Untung saja secara fisik Evan selamat, tapi benturan di kepalanya waktu itu sempat membuatnya tidak sadar selama beberapa hari, dan untuk beberapa waktu setelah sadar, Evan bahkan sempat mengalami amnesia meskipun tidak lama. Hanya saja….” Alvero berhenti sejenak dengan kata-katanya.
“Untuk aku, dia tetap melupakannya, bahkan tidak mengingat tentang aku sedikitpun.” Alaya tiba-tiba langsung menyambung kata-kata dari Alvero.
“Alaya, pernikahan ini… kamu tahu tidak bisa dibatalkan lagi. Bisakah kamu menerima Evan sebagai suamimu? Mama bisa melihat bagaimana selama kamu tidak sadarkan diri, dengan setia dia menemani dan ikut merawatmu.” Pada akhirnya Larena turut buka suara, menyampaikan pendapatnya.
“Mama belum begitu mengenal Evan, tapi mendengar cerita dari Alvero dan Deanda tentang sosok Evan, dan juga mama mengenal baik duchess Danella, seorang mama yang lemah lembut dan begitu menyayangi Evan, mama yakin Evan adalah laki-laki yang baik. Mama bsia melihat dia yang begitu menyayangi duchess Danella, pasti akan lebih menyayangimu sebagai istrinya.” Larena melanjutkan bicaranya untuk membujuk dan menenangkan putri satu-satunya yang dia tahu sifat keras kepalanya kadang memang sangat merepotkan.
__ADS_1
“Seperti kata Deanda, Evan bukan pria yang membiarkan dirinya terlihat mesra dengan perempuan lain. Dan aku yakin, jika dia tidak memiliki perasaan apapun padamu sejak pertama kali aku menawarkan perjodohan kalian berdua, dia pasti akan langsung menolaknya. Karena sosok Evan yagn memiliki pendirian teguh, tidak akan mungkin mau menerima rencana perjodohan ini hanya karena aku yang memintanya. Apalagi saat itu aku hanya menawarkan padanya, tidak memaksanya.” Alvero akhirnya itu membela Evan, dengan mengakui secara terbuka sifat Evan sebagai pria dengan kedudukan tinggi yang cukup membuat salut Alvero.
Dengan kekuasaan dan kekayaan yang dia miliki, Evan bisa saja menolak perjodohan itu jika memang ada gadis lain yang dia suka. Tapi sampai pada akhirnya, bahkan Evan memilih menuruti semua kemauan Alvero, termasuk menikahi Alaya dengan waktu yang sangat cepat waktu itu.
“Evan setuju untuk menikahimu yang dalam kondisi tidak sadar waktu itu, karena aku mengancam untuk membawa pergi kamu dari kediamannya. Dan Evan rasa tidak rela kehilanganmu sudah membuat Evan melakukan pernikahan itu. Padahal jika dipikir, dengan pernikahan ini, keluarga istana jauh lebih diuntungkan daripada dia, karena pernikahan ini membuat semua yang berusaha menjatuhkan keluarga istana bungkam seketika, dan serangan gosip dari kerajaan tetangga langsung mereda. Rencana licik mereka juga bisa langsung kita tahan.” Ucapan Alvero mau tidak mau mengingatkan pada Alaya tentang bagaimana perannya sebagai putri Gracetian, kadang memang harus mendahulukan kepentingan negaranya dibandingkan dengan kepentingan pribadinya.
“Tolong beri aku waktu… aku ingin menenangkan hati dan pikiranku. Saat aku siap, aku akan menemui Evan dan mengajaknya bicara tentang apa yang sudah terjadi pada kami. Tapi tolong… beri aku waktu sebentar saja….” Alaya berkata lirih dengan kepala sedikit tertunduk.
Bagaimanapun, dia tidak bisa memungkiri bagaimana perasaannya pada Evan yang sebenarnya tidak pernah berubah sedikitpun, hanya tertutup dengan rasa kecewa dan emosinya.
“Hah….” Alvero menghela nafasnya sambil bangkit berdiri, berjalan ke arah Alaya, dan dengan gerakan cepat, Alvero meraih kepala Alaya dan memeluknya dengan erat, membuat Alaya tidak bisa menahan tangisnya mendapatkan perlakuan lembut dari kakak laki-laki yang menyatakan rasa sayangnya dengan sentuhannya, meskipun tanpa kata-kata yang terucap.
"Percayalah Alaya aku sungguh mengerti dengan apa yang swdang kamu rasakan terhadap Evan. Aku tahu bagaimana rasanya diabaikan dan dilupakan oleh orang yang kita sayangi." Kata-kata Alvero membuat Larena maupun Vincent sama-sama terdiam dengan rasa bersalahnya.
__ADS_1
“Aku tahu rasa kecewamu, tapi percayalah, Evan pasti bukan dengan sengaja berniat melupakanmu, dan tidak menepati janjinya padamu. Kalau dia berani melakukan itu padamu, aku sendiri yang akan menghajarnya hingga dia tidak bisa lagi bangun dan berdiri tegak di hadapanmu. Dan sampai saat ini aku masih percaya aku tidak perlu melakukan itu pada Evan, karena aku bsia melihat bagaimana dia yang begitu mencintaimu.” Alvero berkata lembut sambil tangannya mengelus rambut di kepala Alaya.
“Sebagai sesame pria, aku bisa melihat dengan jelas dari bahasa tubuh dan tatapannya padamu, Evan sungguh-sungguh mencintaimu, dan dia menikahimu bukan karena mengambil keuntungan darimu atau dari keluarga Adalvino.” Alvero kembali memberikan pembelaannya untuk Evan, membuat Alaya yang masih dalam posisi memeluk pinggang Alvero terdiam tanpa membalas apa yang dikatakan oleh Alvero tentang Evan, yang sekarang merupakan suaminya.