
"Maaf Putri Alaya, nyonya Rose memanggilku. Aku harus pergi sekarang. Semoga Putri berhasil melalui masalah Putri dengan baik." Alea kembali berbisik pelan dan dengan gerakan cepat langsung memasukkan handphonenya di saku pakaiannya, sambil berpura-pura membersihkan meja yang ada di depannya dengan lap di tangannya, jika tidak ingin nyonya Rose memarahinya karena ketahuan menjadi informan bagi Alaya secara diam-diam.
“Celaka! Benar-benar celaka! Bagaimana aku harus menghadapi duke Evan?” Alaya berkata sambil menggigit-gigit bagian bawah bibirnya, dan salah satu tangannya mengacak-acak rambut di kepalanya dengan frustasi.
“Apa yang harus kulakukan sekarang? Kalau sampai duke Evan tahu aku berbohong, habislah aku!” Alaya berkata pada dirinya sendiri dengan gusar.
Meskipun Alaya tahu bagaimana ramah dan tenangnya sikap Evan dengan mata hijaunya yang terlihat teduh, tapi Alaya tahu bagaimana tajamnya tatapan Evan yang cukup mendominasi dan membuat lawan bicara terintimadasi saat dia menghadapi musuhnya.
Sama seperti yang pernah Alaya lihat saat Evan bertemu dengan Christopher, dan juga… tatapan mata yang sama beberapa tahun lalu, yang sudah tidak lagi diingat oleh Evan sedikitpun, sedang bagi Alaya ingatan itu masih begitu terpatri dengan begitu jelas dalam ingatan dan hatinya.
Tatapan mata dari mata hijau seorang laki-laki berambut emas, yang selalu saja membuat Alaya terpaku dan tidak berdaya menolak pesonanya.
“Akh!” Dengan sedikit berteriak Alaya mencoba menghapuskan seluruh ingatan yang akhir-akhir ini membuatnya begitu tertekan.
“Harus cepat! Aku harus cepat menemukan ide sebelum duke Evan datang ke kamarku!” Alaya kembali bergumam pada dirinya sendiri sambil berjalan mondar-mandir, sampai dia menemukan sebuah ide.
“Hah! Bukankah aku sedang berpura-pura demam dan batuk? Kalau begitu aku tinggal membuatnya seperti sungguhan.” Alaya berkata sambil berlari ke arah akmar mandi, dan langsung membuka kran wastafel ke mode air panas.
Begitu air yang keluar dari kran sudah panas, Alaya langsung mengambil handuk kecil yang tersimpan di dalam loker yang ada di bagian bawah wastafel, dan dengan segera membasahi handuk itu dengan air panas.
Setelah itu perlahan Alaya menutupi wajahnya dengan handuk yang sudah basah dengan air panas itu, lalu menahannya selama beberapa detik, melepaskan, lalu kembali membasahinya dengan air panas, menempelkannya di wajahnya.
__ADS_1
Beberapa kali Alaya melakukan itu sehingga saat melihat wajahnya di cermin, Alaya langsung tersenyum lebar karena kulit wajahnya yang putih mulus menjadi memerah dan jika disentuh, terasa lebih panas dari suhu tubuh normal pada umumnya.
Setelah itu dengan sengaja Alaya memercikkan sedikit air di dahinya, agar terkesan tubunya berkeringat karena suhu tubuhnya yang panas karena demam.
Belum puas sampai di situ, Alaya mengambil sebuah gelas, mengisinya dengan air panas, dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Saat gadis cantik itu sudah kembali ke tempat tidurnya, gelas berisi air panas dia letakkan di atas meja, lalu dia mengambil thermometer digital dari laci nakasnya dan mencelupkannya ke gelas berisi air panas yang dibawanya tadi.
Sambil menunggu suhu thermometer naik ke angka yang diinginkannya, 38,5, Alaya berlari ke arah pintu kamarnya, membuka kuncinya, lalu kembali berlari ke arah tempat tidurnya.
(Salah satu cara paling cepat dan mudah untuk menaikkan suhu thermometer tubuh adalah dengan menggunakan air panas, dengan menempatkan bagian ujung thermometer pada air panas, hingga suhu panas yang diinginkan tercapai, misalnya 37 atau 39. Cara ini biasanya akan bertahan 2-3 menit, atau kadang sampai 4 menit).
Dan dengan gerakan terburu-buru, Alaya membaringkan tubuhnya, menutupi tubuhnya dengan selimut sampai sebatas leher, dan mengambil thermometer dari dalam gelas, meletakkannya di atas meja, berharap Evan Evan segera datang dan nanti melihat angka yang tertera di thermometer tersebut dan percaya kalau dia benar-benar sedang demam.
Sebuah ketukan dari arah pintu kamarnya membuat Alaya tersenyum puas, karena semuanya berjalan sesuai dengan harapannya.
Itu pasti duke Evan. Semoga aktingku kali ini bisa bagus dan membuatnya percaya.
Alaya berkata dalam hati sambil berdehem pelan untuk mempersiapkan dirinya sebelum berhadapan dengan Evan.
“Uhuk… silahkan masuk… uhuk….” Alaya sengaja membuat suar batuknya cukup keras sambil mengacak-acak rambutnya agar terlihat berantakan, dan tampilannya semakin meyakinkan kalau dia sedang sakit.
__ADS_1
Menghadapi duke Evan, harus cerdas dan penuh dengan totalitas, kalau tidak ingin kebohonganku terbongkar dalam hitungan detik.
Alaya berkata dalam hati sambil berusaha meyembunyikan senyum seringai di wajahnya, seolah-olah, hari ini dia adalah pemenangnya, merasa hebat dengan semua rencananya membuat Evan percaya kalau dia sedang sakit dan dengan kerelaannya membatalkan pertemuan kedua keluarga besar mereka besok.
Begitu pintu terbuka, tampak nyonya Rose yang datang mengantar Evan ke kamar Alaya.
“Selamat siang Putri. Duke Evan datang berkunjung untuk menjenguk Putri Alaya yang menurut info dari yang mulia Alvero sedang sakit.” Nyonya Rose berkata sambil mendekat ke arah temat tidur yang sedang ditempati oleh Alaya.
"Selamat siang Duke Evan... Nyonya Rose... uhuk...." Dengan gaya lemas dan suara pelan, Alaya menyapa Evan dan nyonya Rose yang terlihat tidak tenang melihat Alaya sakit, sedang Evan tetap terlihat tenang seperti biasanya.
“Putri Alaya, bagaimana bisa mendadak terserang demam dan flu? Padahal tadi pagi Putri dalam kondisi baik-baik saja. Permisi Putri Alaya, biar saya periksa suhu tubuh Putri Alaya.” Nyonya Rose berkata sambil memegang kening Alaya yang memang terasa hangat di punggung telapak tangannya, membuat nyonya Rose percaya kalau Alaya memang sedang terkena flu dan demam.
Belum lagi angka yang terlihat di thermometer menunjukkan angka lebih tinggi dengan suhu tubuh manusia noirmal pada umumnya.
“Putri Alaya, apa perlu saya panggilkan dokter untuk Putri?” Pertanyaan nyonya Rose membuat Alaya sedikit gugup, tapi dengan begitu cepat dia langsung berusaha membuat wajahnya tenang-tenang saja.
“Tidak perlu Nyonya Rose. Aku tidak terbiasa diperiksa oleh dokter yang tidak aku kenal dengan baik sebelumnya. Aku hanya perlu banyak istirahat untuk memulihkan kondisi tubuhku.” Alaya berusaha langsung mengelak dari penawaran nyonya Rose.
“Biarkan aku yang menemani putri Alaya beristirahat Nyonya Rose. Anda bisa mngerjakan kembali rutinitas nyonya Rose. Aku yang akan menjaga putri Alaya. Jika nanti aku atau putri Alaya membutuhkan sesuatu, aku akan minta bantuan pada nyonya Rose.” Kata-kata Evan seketika hampir saja membuat Alaya tersedak oleh air ludahnya sendiri.
Apa maksud perkataan dari duke Evan? Dia mau… men… jagaku? Dia... mau tetap tinggal di kamar ini? Berasamaku? Berdua? Mana boleh seperti itu? Bukankah seharusnya dia segera kembali pergi meninggalkan istana? Kan dia sudah melihat kondisiku?
__ADS_1
Alaya hanya berani menyatakan protesnya dalam hati tanpa berani mengucapkannya dalam bentuk kata-kata di depan Evan yang sedang tersenyum manis ke arahnya, setelah melirik thermometer di atas nakas, dan tidak lupa, melirik ke arah gelas yang ada di dekat thermometer, yang tadi dengan gerakan cepat tanpa diketahui oleh siapapun, sempat disentuh oleh Evan, untuk melakukan pengecekan terhadap suhu air yang ada di dalam gelas itu.