
Seperti kata Alvero, Deanda yakin jika dia dalam posisi Evan, Alvero pasti tidak akan tinggal diam begitu saja dan pasrah dengan keadaan yang mengharuskan dia berpisah dari wanita yang dicintainya.
Seorang Alvero pasti akan memikirkan segala cara yang dia bisa agar bisa selalu bersama dengan Deanda.
Dalam hal taktik dan ide gila untuk selalu berada di dekat Deanda, sepertinya Deanda tidak perlu meragukan Alvero untuk hal seperti itu, membuat Deanda memiih untuk diam, tidak lagi melanjutkan pembicaraan mereka tentang apa yang terjadi pada Alaya dan Evan.
Untuk saat ini, Alvero sengaja berdiam diri, tidak berusaha membantu Alaya yang sedang galau karena merindukan laki-laki yang dicintainya, karena Alvero ingin Evan bertindak terlebih dahulu untuk itu, bukan dia yang memulai, untuk menunjukkan seberapa besar rasa rindu dan cinta yang dimiliki Evan untuk Alaya saat ini.
“Kamu sebaiknya kembali ke kamarmu, dan lanjutkan pembicaraan kalian di sana.” Deanda berkata sambil menarik tangan Alvero, agar lak-laki tampan itu tidak lagi menganggu Alaya, meskipun Deanda tahu resikonya, tindakannya itu akan membuat Alvero yang justru akan mengganggunya, mengganggu dalam arti dan cara yang berbeda tentunya.
Dan tanpa membantah sedikitpun, Alvero langsung mengikuti keingingan Deanda untuk tidak lagi meneror Alaya dengan kata-katanya, dan berjalan ke arah kamarnya sendiri.
Syukurlah kak Deanda bisa mencegah kak Alvero menjadikanku bahan ledekannya yang berkepanjangan. Sepertinya dia belum puas menggodaku karena sekarang aku sudah menerima Evan sebagai suamiku. Aku akui, sikapku terhadap Evan sebelumnya memang cukup keterlaluan, membuat kak Alvero cukup kesal. Dan kak Alvero yang melihat itu pasti merasa gemas dan ingin mengejekku habis-habisan.
Alaya berkata dalam hati sambil berjalan menuju kamarnya sendiri dengan langkah terburu-buru, karena daripada sekedar pesan dari Evan, Alaya ingin berbicara langsung dengan Evan.
__ADS_1
Seperti kata Alvero, belum lagi waktu berjalan lebih dari 5 menit dari dia berpidah dari Evan, tapi rasanya Alaya sudah begitu ingin mendengar lagi suara Evan di telinganya.
Begitu sampai di depan pintu kamarnya, dengan cepat Alaya masuk ke kamarnya, menutup pintu kamarnya dengan rapat, bahkan menguncinya dari dalam.
Setelah itu dengan langkah terburu-buru, Alaya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, berbaring di atasnya sambil melakukan panggilan dari Evan.
Evan sedikit mengeryitkan dahinya begitu melihat ada panggilan di layar handphonenya dengan nama my princess tertera di sana, karena sebenarnya Evan ingin menghubungi Alaya setelah sampai di kediamannya, bukan dalam posisi dia masih di dalam mobil seperti sekarang ini.
Sebenarnya, Evan bukan hanya ingin melakukan panggilan kepada Alaya melalui suara, tapi melalui video call, agar dia bisa terus memandangi wajah cantik wanitanya itu.
Evan berkata dalam hati dengan senyum terlukis di wajahnya yang tampan, karena ingatannya tentang beberapa kejadian sebelumnya, dimana menunjukkan bagaimana sosok istrinya itu merupakan orang yang sedikit ceroboh, meskipun Evan harus mengakui bahwa Alaya adalah sosok yang berani.
Kalau tidak, tidak mungkin akan ada kejadian dimana Alaya memarahinya karena dianggap ingkar janji, ketika Evan tidak menolak untuk dijodohkan dengannya, padahal Alaya berpikir dengan dia menemui Evan langsung di markas besar militer waktu itu, Evan akan mengabulkan permintaannya.
Belum lagi kejadian dimana Alaya sengaja menyuguhkan teh yang tidak disukai oleh Evan, dan mencampurnya dengan garam.
__ADS_1
Sampai saat ini, jika Evan mengingat begitu berani dan nekatnya tindakan Alaya padanya itu, masih saja menyisakan rasa gemas Evan pada Alaya, sehingga ingin sekali rasanya Evan mencubit kedua pipi Alaya, walaupun setelahnya, Evan ingin sekali mencium bibir istrinya yang terasa begitu manis dan menggairahkan baginya itu.
Tapi mau tidak mau, melihat siapa yang sedang menghubunginya adalah wanita yang begitu penting dalam hidupnya, membuat Evan langsung menerima panggilan telepon itu.
“Hallo my princess… kenapa buru-buru menghubungiku? Apa ada sesuatu yang penting yang sudah terjadi padamu? Atau ada hal penting yang ingin kamu sampaikan padaku?” Sapaan Evan yang diikuti dengan pertanyaan yang menunjukkan betapa perdulinya Evan pada Alaya, membuat Alaya langsung tersenyum dengan wajah sedikit memerah.
Rasa bangga, bahagia, tapi juga malu bercampur menjadi satu dalam diri Alaya, membuat wajahnya tersipu-sipu, sama dengan yang pernah dia alami bertahun-tahun lalu, ketika menjadi kekasih Evan.
“Apa aku dilarang menghubungimu sebelum ada perintah darimu Duke Evan?” Dengan suara bernada pura-pura kesal, Alaya berkata kepada Evan yang langsung tertawa kecil mendengar protes dari istrinya tersebut.
“Mana berani aku berpikir seperti itu my princess? Aku bukan laki-laki bodoh yang akan membuat wanita yang dicintainya marah dan pergi menjauh dariku, atau aku akan membuat diriku sendiri sekarat karena hal itu. Setiap saat, setiap waktu, kapanpu, dimanapun kamu ingin menghubungiku, dengan alasan apapun, tidak akan ada larangan untuk itu, termasuk dari diriku sendiri.” Kata-kata manis Evan membuat Alaya langsung tersenyum lebar.
Seperti Evan yang aku kenal dulu… selalu bersikap lembut dan manis padaku. Evan yang hanya akan bersikap manis hanya kepadaku, hanya memandang ke arahku dan tidak pernah melirik gadis lain. Evan, kekasihku, benar-benar sudah kembali padaku.
Alaya berkata kepada dirinya sendiri dalam hati dengan rasa haru yang memenuhi dadanya dan hampir saja meneteskan air mata harunya, begitu Alaya mengingat di masa lalu, Evan memang selalu memperlakukannnya dengan lembut dan manis, juga begitu mesra dan romantis.
__ADS_1