
Setelah memastikan semuanya sudah disiapkan dengan baik, Alaya memilih untuk sedikit bersantai di ruang tamu keluarga dari penthouse bersama Evan yang baru saja mengambil posisi duduk tepat di samping Alaya, setelah beberapa waktu sebelumnya, Evan menerima panggilan telepon dari Sam.
“Kenapa wajahmu serius sekali?” Melihat kedatangan Evan dengan wajah terlihat serius, Alaya yang awalnya sedang melihat-lihat pesan masuk di handphonenya langsung bertanya.
“Sam baru saja menghubungiku, mengatakan tentang kabar terbaru dari dhuchess Kattie.” Alaya langsung mengernyitkan dahinya begitu mendengar nama Kattie disebutkan di depannya, sebuah nama yang cukup mengganggunya setelah Alaya tahu apa yang sudah dilakukan Kattie pada Evannya.
“Beberapa saat ini, Sam memang selalu memantau perkembangan info keberadaan Kattie melalui pesan-pesan dari dokter Jordan untuk duchess Kattie untuk memancingnya keluar dari persembunyiannya. Hasil dari sadapan Sam terhadap handphone dokter Jordan, menunjukkan bahwa setelah beberapa hari ini tidak ada tanggapan dari duchess Kattie setelah dokter Jordan mengirimkan beberapa pesan untuknya, dan dengan sengaja berpura-pura kalau aku ingin melakukan hipnoterapi karena sakit kepala yang aku alami….”
“Dan dia tidak curiga tentang itu?” Alaya langsung bertanya kepada Evan dengan memotong perkataan Evan.
“Apa tanggapan duchess Kattie tentang berita dari dokter Jordan itu? Aku yakin dia akan merasa senang sekali mendengar kalau kamu ingin bertemu dengan dokter Jordan. Ck ck ck ck, benar-benar tidak tahu malu ya. Dengan tindakan licik yang pernah di lakukan, dia masih saja ingin mendapatkan kesempatan untuk memisahkan kita kembali.” Tanpa membiarkan Evan menjawab pertanyaannya, Alaya langsung berkata kembali dengan nada suara terlihat kesal, mengomel tentang Kattie yang setiap Alaya mengingat apa yang sudah dilakukan Kattie pada Evan, membuat Alaya ingin sekali mendapatkan kesempatan untuk membuat Kattie menyesal sudah berani mencari gara-gara dengannya.
“My princess… jangan terpancing emosi dulu….”
“Bagaimana bisa aku tenang, sedang Kattie masih berkeliaran diluar sana, dan masih menginginkanmu, tidak juga jera denga napa yang sudah dia lakukan pada kita, terutama padamu.” Alaya berkata dengan nada kesal.
“Tenang saja, pasti kami akan segera menangkapnya. Dan saat itu terjadi, seperti katamu, aku akan memberimu kesempatan padamu bertemu dengannnya dan bebas melakukan apapun padanya agar kamu merasa lega, dan kekesalanmu padanya terbayar lunas.” Perkataan Evan membuat Alaya menghela nafasnya.
__ADS_1
“Rasanya tidak sabar aku bisa bertemu dengannya dalam kondisi sudah tidak adalagi yang bisa dia andalkan untuk dapat membantunya.” Alaya berkata dengan sikap gemas sekaligus tidak sabar agar Kattie bisa segera ditangkap dan mempertanggung jawabkan terhadap apa yang sudah diperbuatnya waktu itu.
Meskipun bukan sebuah rencana kejam yang akan membuat Kattie tersakiti secara fisik, tapi Alaya sudah merencanakan sesuatu yang ingin diingat oleh Kattie seumur hidupnya, membekas dalam otaknya sehingga dia menyesali kebodohannya seumur hidupnya.
“Terimakasih Evan….” Alaya berkata pelan sambil sedikit berjinjit, mencium pipi Evan yang langsung menoleh begitu mendapatkan hadiah manis dari Alaya.
“Kamu sedang memancingku my princess?” Mata Alaya langsung membulat begitu mendengar pertanyaan Evan.
“Kamu ini…. Kita sedang sibuk sekarang, tidak ada waktu untuk memikirkan itu dulu….” Dengan lincahnya Alaya langsung menghindari Evan dan berlari ke arah pintu keluar dari kamar yang mereka tempati.
Sedang Evan, hanya memandang kepergian Alaya sambil tersenyum dan salah satu tangannya mengusap lembut pipi yang baru saja mendapatkan ciuman dari Alaya tadi.
# # # # # # #
“Selamat malam Yang Mulia Alvero, Permaisuri Deanda, dan juga Tuan dan Nyonya sekalian….” Nyonya Rose yang membukakan pintu penthouse didampingi oleh, Clare, Cleosa, Abella dan pelayan yang lain sambil memberikan salam penghormatan mereka, membuat Deanda tersenyum lebar sambil melirik ke arah Alvero yang begitu sadar sedang mendapatkan lirikan dari istrinya yang wajahnya begitu senang melihat kehadiran teman-teman dekatnya, langsung menyungingkan senyum dengan wajah bangganya.
Bagi Deanda, rasanya kebahagiaannya hari ini terasa begitu sempurna, karena semua teman dekatnya bisa hadir di sana, termasuk Alea yang sedang sibuk mengatur tempat acara makan malam yang belum terlihat batang hidiungnya oleh Deanda, tapi sudah berpamitan padanya ketika Alvero memberinya perintah untuk membantu nyonya Rose di penthouse, mempersiapkan acara makan malam untuk tamu-tamu penting hari ini.
__ADS_1
“Selamat malam Nyonya Rose….” Bukan hanya Alvero yang menjawab sapaan nyonya Rose sambil menggerakkan tangannya tanda menerima salam penghormatannya, akan tetapi semua tamu yang dibawa Alvero ikur menjawab sapaan nyonya Rose dengan ramah.
Meskipun di Gracetian, nyonya Rose mungkin hanya memiliki posisi sebagai seorang kepala pelayan, akan tetapi kedekatannya dengan Alvero yang sudah seperti ibunya sendiri, membuat mereka yang lain tahu kalau posisi nyonya Rose sudah seperti saudara bagi Alvero, salah satu wanita yang sentuhan fisiknya dengan Alvero tidak menyebabkan alergi.
“Apa semuanya sudah siap Nyonya Rose?”
“Sudah siap Yang Mulia, silahkan kalau Yang Mulia dan tamu lainnya langsung ke tempat acara makan malam.” Nyonya Rose segera menjawab pertanyaan Alvero.
“Sudah beberapa hari tidak bisa saling mengobrol, senang melihat kalian berada di sini.” Deanda berbisik opelan ke arah Cleosa dan Abella sebelum dia melangkah mengikuti langkah-langkah Alvero menuju taman yang ada di penthouse tersebut, tempat diadakannya makan malam hari ini.
Ah… Erich… senang bisa melihatnya di sini.
Cleosa langsung berkata dalam hati begitu melihat sosok Erich yang berdiri berjalan berdampingan dengan Ernest, di bagian paling belakang rombongan Alvero dan teman-temannya itu.
Seolah bisa mendengar suara panggilan dalam hati Cleosa yang menyebutkan namanya, Erich sedikit menoleh ke arah calon istrinya itu, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.
Bagi orang lain mungkin bahkan tidak bisa melihat senyum yang terlalu samar dari bibir Erich itu, tapi Cleosa bisa melihat dengan jelas bahwa senyum Erich saat ini adalah seuah senyum yang menyatakan rasa rindu dan cintanya pada Cleosa yang memang karena kesibukannya hampir dua pekan ini mereka tidak bisa saling bertemu, hanya sempat berpapasan beberapa kali di kantor tanpa bisa saling menyapa apalagi melepas rindu.
__ADS_1
Hah, kenapa semakin hari Cleosa tampak semakin cantik? Kalau aku tidak segera menikahinya, bisa-bisa ada pria lain yang merebutnya dariku. Apa lebih baik aku memintanya untuk mempercepat tanggal pernikahan kami?
Erich berkata dalam hati dengan sedikit melamun, sampai siku tangan Ernest terasa menyentuh pinggangnya, sengaja melakukan itu karena melihat Erich yang tiba-tiba tidak fokus dan ternyata sedang melamun setelah melihat ke arah Cleosa.