
Shi...iitt! Apa maunya duke Evan dan Ornado Xanderson ini? Kenapa mereka tiba-tiba saja datang bersama dengan pasukan yang terlihat siap tempur itu? Aku harus tetap tenang dan membuat mereka tidak memiliki kesempatan untuk mencari-cari kesalahanku. Apalagi mereka datang dengan tangan kosong seperti itu, mestinya mereka tidak akan berani melakukan apa-apa padaku meskipun ada nama besar yang mulia Alvero di belakang mereka.
Hugo berkata dalam hati sambil menenangkan dirinya sendiri agar tidak terpancing emosinya.
Kondisi yang dialaminya sekarang, membuat Hugo mau tidak mau harus mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh Ornado sebelumnya, memberikan tanda agar para petugas keamanan tempat kediamannya menurunkan senjata mereka, meskipun mereka semua tidak menurunkan kewaspadaan mereka.
Hari ini Hugo berusaha untuk tidak bersikap bodoh, dan otaknya justru sedang mencari cara bagaimana agar dia bisa segera pergi meninggalkan mereka tanpa dicurigai sedikitpun.
"Ah, Tuan Ornado Xanderson. Dari yang aku ketahui info tentang Anda, Anda merupakan pengusaha sukses yang memiliki pengaruh besar dalam pergerakan roda ekonomi dunia...." Hugo berkata dengan sikap seramah mungkin yang bisa dia tunjukkan pada Ornado saat ini.
"Merupakan satu kehormatan besar bisa bertatap muka langsung dengan Anda Tuan Xanderson. Hanya saja, kita belum ada janji temu sebelumnya, apa ada sesuatu yang sangat penting sehingga Anda tiba-tiba datang berkunjung selarut ini?" Dengan mencoba untuk tetap bersikap tenang dan terlihat baik-baik saja.
"Mungkin Duke Evan yang bisa menjelaskan kepentingan kita datang selarut ini di sini." Ornado berkata sambil tangannya mempersilahkan Evan untuk membuka pembicaraan.
"Selamat malam Duke Hugo. Malam ini sebaiknya Duke Hugo ikut dengan kami untuk mengikuti penyelidikan tentang beberapa peristiwa yang sepertinya melibatkan Anda." Dahi Hugo langsung mengernyit begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Evan kepadanya.
__ADS_1
"Dari kata-katamu terdengar seperti orang yang sedang berbicara kepada seorang penjahat. Apa di sini aku sebagai penjahatnya?" Hugo langsung bertanya tanpa bisa menyembunyikan wajah tidak sukanya karena kata-kata Evan sebelumnya.
"Itu akan bisa kita tentukan setelah Duke Hugo menjalani penyelidikan dari pihak kami sebagai perwakilan dari pihak berwenang." Perkataan Evan membuat Hugo sedikit melotot.
Apa-apaan ini? Seenaknya saja duke Evan berkata seperti itu padaku? Benar-benar tidak ada sopan santunnya sama sekali padaku. Padahal status kami sama-sama sebagai seorang duke.
Hugo mulai mengomel dalam hati dengan perasaan kesalnya yang semakin menjadi kepada Evan.
Ernest yang awalnya berada di samping Ornado, sedikit menggerakkan tubuhnya ke samping begitu ada salah satu dari pengawal kerajaan yang meminta waktu untuk memberitahukan sesuatu padanya.
Beberapa kalimat yang diucapkan oleh pengawal kerajaan itu membuat Ernest sesekali mengernyitkan keningnya, sambil melirik ke arah belakang barisan, dan Ernest langsung mendekat ke arah Evan begitu pengawal itu pergi kembali ke barisannya.
"Duke Evan...." Ernest berkata lirih sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Evan dan mulai membisikkan sesuatu pada Evan.
"Bagaimana? Kalau kalian tidak bisa menunjukkan buktinya, lebih baik kita semua bubar sekarang, karena aku juga sedang ada urusan penting yang sedang menungguku." Setelah melihat Ernest yang masih sibuk berbisik pada Evan, Hugo berkata dengan wajah terlihat tidak sabar, karena jujur saja dia ingin segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Bagi Hugo bertemu dengan Evan maupun Ornado, meskipun tidak ingin menunjukkan rasa tidak percaya dirinya, tapi dia merasa sangat tidak nyaman dan merasa terintimidasi.
Dua laki-laki itu, baik Evan maupun Ornado, membawa aura yang sedikit berbeda meskipun sama-sama terlihat tenang, tatapan tajam mata biru milik Ornado, dan tatapan menyelidik dan siaga dari mata hijau milik Evan, menunjukkan bagaimana kedua laki-laki itu seolah siap menelanjangi sisi bobrok dari Hugo.
"Bukti? Masalah bukti, aku akan menanyakan sesuatu padamu terkait bukti itu." Evan berkata sambil menunggu seseorang berjalan ke arahnya setelah Ernest memberikan kode melalui lambaian tangannya.
Awalnya ada sebuah senyum tipis di bibir Hugo begitu melihat seseorang yang mendekat ke arah Evan terlihat datang dengan tangan kosong.
Akan tetapi, sebuah kerutan dan mata yang menyipit langsung terlihat di wajah Hugo begitu seseorang itu mengeluarkan sebuah pena yang dari saku pakaiannya.
Sebuah pena yang terbungkus rapi dalam sebuah plastik, yang sangat dikenal baik oleh Hugo maupun Evan.
Selama beberapa waktu ini, secara diam-diam, di kantornya, Hugo selalu menggunakan pena itu saat bekerja, meskipun tidak membawanya saat dia berada di depan umum tapi Hugo memang benar-benar menyukai pena yang tampak indah dan mewah itu.
Evan sendiri begitu melihat pena itu langsung menarik nafas panjang, karena meski belum menyentuhnya, dia sangat ingat dengan pena yang dia pesan secara khusus sebagai hadiah untuk sahabatnya Edward.
__ADS_1
Sial! Bagaimana bisa pena itu ada di tangan mereka? Apa mereka sudah mengobrak-abrik kantorku? Lalu bagaimana dengan para penjaga disana? Kenapa belum ada laporan tentang adanya para penyusup yang berusaha memasuki kantorku? Kemana saja mereka? Kenapa bisa gedung perkantoran dengan penjagaan seketat itu bisa dengan mudah dibobol oleh mereka? Dasar oran-orang tidak berguna! Semoga duke Evan tidak tahu tentang pena itu, karena tidak ada petunjuk apapun pada pena itu.
Hugo memaki dalam hati dengan mata yang sulit lepas dari pena yang sedang disodorkan kepada Evan itu.