
Membayangkan bagaimana ke depannya dia akan memiliki hubungan dekat dengan dua gadis yang sejak awal sudah menimbulkan rasa sayangnya pada mereka, membuat Danella tersenyum dengan wajah bahagianya.
Danella tidak menyangka di usianya yang sekarang dia akan bisa menemukan gadis cantik yang sudah seperti anaknya sendiri dan juga calon menantu yang dari pertama melihatnya, hati Danella sudah terpikat pada gadis itu.
Apalagi begitu menyadari kalau Evan, putra satu-satunya, akhirnya akan segera melepas masa lajangnya, membuat Danella tidak bisa lagi menyembunyikan rasa syukur dan bahagianya.
Padahal selama ini, selain Deanda, Danella melihat bagaimana Evan selalu terlihat acuh tak acuh pada gadis-gadis di sekitarnya, meskipun selama ini Danella sudah berusaha keras memperkenalkan Evan dengan putri-putri cantik para bangsawan saat mengadakan pesta di kediaman keluarga Carsten.
Dengan pernikahan Deanda dan Alvero, Danella sempat putus asa dan berkecil hati melihat Evan yang tidak ingin mencari sosok gadis lain untuk didekatinya.
Dan akhirnya saat-saat yang ditungggu-tunggu dan begitu dirindukan oleh Danella telah datang… tanpa disangka-sangka oleh Danella, tiba-tiba saja Evan yang biasanya selalu menghindar jika Danella memaksanya segera memberinya menantu dan cucu, tanpa menunjukkan sikap penolakan sama sekali, langsung menerima penawaran Alvero tentang perjodohannya dengan Alaya.
Seperti yang sudah dirasakan oleh Evan, Danella tahu, dibalik sikap sembarangan dan sembrono yang diperlihatkan Alaya di depannya, Danella bisa merasakan kalau Alaya adalah seorang gadis yang baik.
Danella juga berharap, sosok Alaya bisa membuat hati Evan yang selama ini belum pernah terbuka dan menjalin hubungan dengan gadis manapun karena kesibukannya sebagai seorang duke, bisa tergerak.
"Putri Alaya, berikan salammu sebelum berpisah dengan duke Evan dan duchess Danella sebelum mereka kembali ke kediamannya." Alvero yang melihat gelagat Alaya yang ingin segera pergi meninggalkan mereka, langsung menarik pergelangan tangan Alaya yang hampir saja berhasil melarikan diri dengan mempercepat langkah-langkah kakinya.
Jika boleh jujur, rasanya ingin sekali Alaya memasang wajah memberengut untuk menyatakan protesnya terhadap tindakan Alvero yang tiba-tiba mencekal tangannya, dan menghalanginya untuk melarikan diri, menghindar untuk kembali berhadapan dengan Evan yang sepanjang malam ini sudah membuat hati dan pikirannya kacau sekaligus sangat kesal.
Dan yang membuat Alaya semakin bertambah kesal, dia tidak memiliki kesempatan ataupun kemampuan untuk meluapkan rasa kesalnya di hadapan Evan.
“Selamat malam Duke Evan, Duchess Danella, semoga selamat sampat tujuan kembali ke rumah.” Dengan terpaksa, Alaya berkata sambil menggerakkan tubuhnya, memberikan salam hormat sekaligus salam perpisahan pada Evan dan Danella.
__ADS_1
Evan yang melihat itu, langsung memberikan tanda kepada Alaya kalau dia menerima salam penghormatan gadis cantik itu, dan mengijinkannya untuk segera menegakkan tubuhnya kembali.
“Jika ada sesuatu yang perlu kalian bicarakan karena rencana pertunangan kalian akan diadakan secepatnya, kalian bisa saling menghubungi. Putri Alaya, berikan nomer handphonemu pada duke Evan.” Permintaan Alvero membuat Alaya langsung salah tingkah, karena dia sadar kalau antara dia dan Evan, sudah saling mengetahui nomer handphone satu dengan yang lain.
Bahkan tanpa sepengetahuan Alvero, Alaya bahkan kemarin sudah nekat menemui Evan di markas besar militer tempatnya bertugas, dan meminta Evan untuk menolak rencana perjodohan mereka.
Matilah aku! Kak Alvero pasti akan marah besar kalau sampai tahu kemarin aku sudah datang menemui duke Evan di markas besar kemiliteran.
Alaya berkata dalam hati dengan sikap salah canggung.
“Jangan khawatir Yang Mulia. Kami sudah saling bertukar nomer handphone Yang Mulia.” Evan segera menjawab perkataan Alvero begitu melihat Alaya terlihat bingung bagaimana harus menjawab perintah dari Alvero barusan.
“Astaga... ternyata kalian berdua sudah sangat kompak. Aku ikut senang mendengarnya. Semoga rencana pertunangan kalian bisa berjalan dengan lancar.” Deanda yang mendengar perkataan Evan langsung berkata sambil tersenyum senang dengan nada menggodanya, membuat Evan ikut tersenyum, tanpa menyadari wajah Alaya terlihat semakin cemberut begitu mendengar kata-kata Deanda yang terlihat begitu mendukung hubungannya dengan Evan.
Bahkan tadi di meja makan istana, Deanda sempat khawatir melihat bagaimana Alaya yang dengan gerakan tiba-tiba langsung mendekat ke arah Evan dengan wajah tegang, begitu Alvero selesai menyampaikan pengumuman tentang perjodohan mereka.
“Terimakasih untuk doa permaisuri bagi kami berdua.” Evan berkata sambil tersenyum ke arah Deanda.
“Ehem….” Sebuah deheman yang terdengar cukup keras langsung keluar dari bibir Alvero begitu melihat Evan yang sedang tersenyum pada Deanda, dan permaisuri tercintanya itu tampak membalas senyuman itu.
Evan hampir saja tersenyum geli melihat bagaimana sikap posesif Alvero yang benar-benar parah terhadap Deanda, sedang Alaya, langsung menahan nafasnya melihat peristiwa yang baru saja terjadi di depannya, sambil mengalihkan pandangan matanya dari mereka.
# # # # # # #
__ADS_1
"Hah... Alaya terbangun dari tidurnya dengan perasaan tidak nyaman karena mimpi buruk yang baru saja dialaminya.
Alaya langsung termenung di pinggiran tempat tidurnya begitu mengingat apa yang baru di mimpikannya.
"Sudah lama aku tidak memimpikan hal itu lagi. Kenapa tiba-tiba sekarang aku kembali memimpikannya?" Alaya bergumam pelan sambil menyeka keringat dingin yang membasahi pelipis dan keningnya, dan membuatnya kembali teringat akan masa kecilnya, ketika dia masih berusia 7 tahun.
"Lihat! Anak itu ternyata masih berani masuk ke sekolah sampai hari ini." Alaya yang saat itu sebenarnya masih kurang sehat karena memang sejak kecil tubuhnya kurus kering, lemah dan sakit-sakitan, hanya berjalan dengan langkah-langkah kecilnya, ke arah pintu gerbang sekolah.
"Hati-hati! Anak orang gila lewat."
"Hoi! Jangan dekat-dekat, nanti kalian akan tertular mamanya yang gila."
"Harusnya dia tidak berhak sekolah di sekolah mahal ini, dia kan tidak jelas asal usulnya." Salah seorang dari teman Alaya waktu itu bahkan merasa Alaya tidak layak untuk bersekolah di salah satu sekolah terbaik sekaligus termahal di kota itu.
"Dengan mamanya yang gila, kira-kira dia dapat uang darimana ya?"
"Selain gila, mamanya pasti juga seorang pencuri."
"Kenapa pihak sekolah mau menerima murid aneh seperti dia?"
Beberapa omongan kasar dan juga menyakitkan yang dengan sengaja diucapkan di depan Alaya, membuat Alaya hanya bisa terdiam dan pura-pura tidak mendengarnya.
Sejak dalam kandungan, karena luka bakar parah yang dialami Larena, dan juga kondisi kesehatan mental Larena, membuat Alaya lahir secara prematur, dengan kondisi tubuh yang tidak sekuat bayi biasanya, dan akhirnya berdampak pada pertumbuhan Alaya ketika Alaya masih kanak-kanak.
__ADS_1
Saat kanak-kanak, tubuh Alaya terlihat kurus kering, dengan wajah yang telrihat begitu teras dan sering terlihat pucat, yang membuatnya seringkali melewatkan pelajaran olahraga karena fisiknya yang tidak memungkinkan.