
Bukan sekedar nama Alaya yang membuat fokus Evan teralihkan, tapi sosok Alaya, pesona kecantikannya, meskipun sesekali Evan melihat bahwa Alaya seringkali cemberut dengan wajah protesnya saat dia tidak suka terhadap sesuatu, bagi Evan wajah Alaya justru terlihat menggemaskan.
Jika saja tadi pertemuan antara dia dan Alaya tidak dalam suasana tegang karena kehadiran Christopher, Evan yang begitu melihat sosok cantik Alaya, ingin sekali membiarkan mata hijaunya memandang sepuasnya ke arah gadis cantik yang membuatnya harus sembunyi-sembunyi menelan ludahnya karena cukup kaget melihat sosok Alaya yang terlihat anggun dan begitu cantik malam tadi, hasil pemaksaan nyonya Rose yang mendatangkan MUA untuk mendandani Alaya.
Pelukan lengan Evan, yang tadi sempat bertengger cukup lama di tubuh Alaya, masih saja terbayang dengan begitu jelas di ingatan Evan.
Bau parfum yang dikenakan oleh Alaya, juga hangatnya tubuh Alaya yang tadi berada di pelukannya, bagi Evan sungguh sulit untuk dilupakan baik oleh indra penciuman dan juga kulitnya yang masih belum bisa melupakan bagaimana hangat dan nyamannya saat dia memeluk Alaya tadi.
Jika saja mungkin, Evan ingin bisa mengulangi sensasi yang dia rasakan tadi, meskipun dia tahu resikonya, Alaya pasti akan menghindarinya jika tidak dalam keadaan terdesak seperti tadi.
Evan dengan buru-buru menghentikan lamunannya tentang Alaya yang sudah mulai membuat dadanya berdetak semakin keras dan membuat pikirannya melayang kemana-mana.
Saat ini Evan harus berusaha keras memaksa dirinya sendiri untuk kembali fokus pada Alvero yang barusan juga sedang berpikir untuk menyampaikan keinginannya pada Evan dengan kata-kata yang tepat, sehingga raja muda itu juga terdiam dan terlihat melamun seperti Evan untuk beberapa saat.
__ADS_1
“Agar dapat mencegah dan menghentikan tindakan tidak terduga dari dua putra mahkota yang merepotkan itu, jika saja mungkin… bisakah tanggal pertemuan keluarga Adalvino dan keluarga Carsten dipercepat? Agar tanggal pertunangan untuk kalian berdua bisa ditentukan lebih awal dari rencana awal?” Kata-kata Alvero membuat Evan sedikit tersentak kaget, karena bagaimanapun, meski dia memiliki niat tulus tentang pernikahannya dengan Alaya, tapi mereka masih baru bertemu beberapa kali dan perlu saling mengenal lebih dalam sebelum benar-benar terikat dalam sebuah tali pernikahan.
Bukannya Evan takut dia tidak bisa memenuhi janjinya pada Alvero untuk menjadikan Alaya sebagai satu-satunya wanita dalam hidupnya dan takut tidak bisa membahagiakan Alaya.
Akan tetapi Evan merasa sebelum mereka benar-benar menikah, dia ingin agar Alaya merasakan hal yang sama dengannya, dan dengan kerelaan hatinya menikah dengannya, karena bagi Evan, pernikahan adalah sebuah ikatan seumur hidup, bukan sebuah hal yang bisa dijadikan mainan, dan juga drama seperti yang dituduhkan Christopher padanya.
"Duke Evan... apa Duke Evan masih merasa ragu untuk secepatnya menikah dengan Alaya?" Melihat Evan yang terdiam dengan sikap tenang, membuat Alvero berpikir kalau Evan merasa keberatan dengan rencana pertunangan yang dipercepat oleh Alvero untuk mencegah gangguan dari Christopher maupun Hector.
Entah kenapa, sejak Alvero meminta dia menikah dengan Alaya, tidak ada sedikitpun keinginan dalam hati Evan untuk menolak apalagi melawan keputusan dari Alvero, bahkan dia sendiri yang sedari awal menyatakan untuk bersedia menikah dengan Alaya dan memberikan syarat agar Alvero sebagai raja Gracetian, tidak lagi berhak mencampuri urusannya dengan Alaya ke depannya.
Saat meminta syarat itu pada Alvero, Evan bukannya ingin bertindak semena-mena terhadap Alaya, dan bertindak seperti orang yang sehabis manis sepah dibuang di masa depan.
Justru karena selamanya Evan ingin mengikat Alaya di sisinya, maka Evan meminta syarat itu pada Alvero, agar tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan dia dan Alaya di masa depan.
__ADS_1
Hanya saja sosok Evan yang tenang, begitu menghargai dan menghormati wanita, dia ingin benar-benar mendapatkan hati Alaya, bukan hanya sekedar tubuhnya saja.
"Apa kamu takut Alaya akan membuat masalah tentang rencana ini? Karena dengan sifatnya, dia mungkin akan membuat keributan jika tahu hari pertunangannya akan dipercepat." Alvero yang mulai hafal dengan karakter Alaya langsung bertanya kepada Evan yang langsung tersenyum.
Yang Mulia sepertinya tahu betul dengan sifat keras kepala dan seenaknya dari Alaya. Tentu saja karena dalam tubuh mereka berdua mengalir darah yang sama, darah Adalvino. Melihat bagaimana keras kepalanya Alaya, aku juga bisa membayangkan bagaimana sulitnya Deanda menghadapi yang mulia Alvero saat itu. Saat dimana Deanda belum tahu bahwa yang mulia benar-benar mencintainya, dan sempat membuat Deanda salah faham kalau yang mulia ingin menikahi Deanda hanya karena untuk mempertahankan posisinya sebagai putra mahkota.
Evan berkata dalam hati dengan pikirannya yang teringat dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu antara Deanda dan Alvero, yang tidak sengaja dia ketahui dari Deanda waktu itu... karena bagi Deanda, Evan sudah seperti kakak baginya.
Apalagi saat itu Deanda tidak tahu kalau Evan juga jatuh cinta padanya.
"Saya hanya tidak ingin memaksa putri Alaya menikah dengan saya dalam waktu dekat untuk menjaga perasaannya Yang Mulia. Saya bukan tipe seorang pria yang akan memaksakan kehendak saya dengan cara yang kasar. Bagaimanapun saya harus bisa membahagiakan dan melindungi hati wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak saya kelak." Alvero langsung menyunggingkan senyumnya begitu mendengar jawaban dari Evan, meskipun tidak seratus persen Alvero setuju dengan pendapat Evan.
Karena Alvero sendiri masih ingat bagaimana dia yang beberapa kali dengan sengaja menjebak dan memaksa Deanda untuk memenuhi permintaannya, agar Deanda bisa segera menjadi istrinya.
__ADS_1