Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
BERSIAP


__ADS_3

Aduh yang mulia…. Alaya pasti malu sekali digoda seperti itu. Suamiku ini, memang diam-diam ternyata suka iseng kepada ornag lain dibalik sikap acuh tak acuhnya. Bisa-bisanya menggoda Alaya sampai ke urusan ranjang seperti itu.


Deanda berkata dalam hati sambil melihat sekelilingnya, untuk memastikan tidak ada orang yang sedang mencuri dengar apa yang sedang dibicarakan oleh Alvero kepada Alaya.


"Kak...." Suara rengekan dari Alaya karena merasa salah tingkah dan malu justru membuat Alvero tersenyum dengan wajah menyeringai.


"Lho, kenapa? Bukannya itu benar? Masa tidak cukup waktu satu setengah jam? Harusnya kalau normal dua ronde juga masih bisa." Kali ini, dengan sembunyi-sembunyi, Deanda langsung mencubit pelan lengan Alvero begitu mendengar Alvero yang ternyata masih melanjutkan godaannya kepada Alaya yang wajahnya terlihat semakin memerah.


"Aduh...." Alvero berkata pelan dengan sikap seolah-olah benar-benar merasa kesakitan akibat cubitan dari Deanda yang sebenarnya tidak terlalu keras.


"Ah, maaf my Al...." Deanda berkata pelan tapi di samping itu justru kembali mencubit Alvero dengan gemas karena berpura-pura sakit akibat cubitannya yang sebelumnya.


"Kenapa denganmu Kak?" Di seberang sana, Alaya langsung bereaksi dengan wajah khawatirnya mendengar kata "aduh" dari Alvero barusan.


"Tidak apa-apa, kakakmu Deanda sepertinya merasa iri denganmu dan Evan sehingga memberi kode padaku untuk itu." Mata Deanda langsung membulat sempurna mendengar perkataan Alvero yang tersenyum menyeringai ke arahnya sambil mengedipkan salah satu matanya.


Sebuah kebiasaan yang seringkali dilakukan Alvero saat menggoda Deanda, wanita yang selalu membuat Alvero gemas dan ingin menggodanya, bahkan sejak mereka belum menikah, dan Alvero masih harus berjuang, berusaha untuk mendapatkan hati dari Deanda waktu itu.

__ADS_1


Tangan Deanda dengan cepat bergerak untuk merebut handphone di tangan Alvero, berencana untuk menjelaskan pada Alaya agar tidak salah faham terhadap perkataan Alvero barusan.


Akan tetapi dengan cepat, Alvero menggerakkan tangannya yang memegang handphone, menjauhkannya dari Deanda, yang mau tidak mau langsung menghentikan tindakannya agar tidak dilihat oleh yang lain, karena mereka sedang berada di tengah-tengah acara afternoon tea.


“Alaya, aku sudahi dulu teleponnya. Pokoknya siap-siap saja. Satu setengah jam lagi, paling lama kami sudah akan tiba di sana. Jadi kalau kamu mau melakukannya bersama Evan, lebih baik lakukan sekarang mumpung waktunya masih panjang.” Dengan nada suara terdengar santai, Alvero berkata kepada Alaya, dan langsung benar-benar mematikan panggilan telepon mereka berdua, tanpa perduli kalau Alaya di seberang sana hanya bisa melongo mendengar kata-kata Alvero.


“Alaya….”


“Ah! Iya Kak Alvero…..” Sapaan Evan dengan suaranya yang lembut bahkan tetap membuat Alaya tersentak kaget sambil menjauhkan handphonenya yang sudah tidak memperdengarkan suara Alvero dauri telinganya.


“Kenapa denganmu? Kenapa tiba-tiba tersentak kaget sambil meneriakkan nama Alvero? Siapa yang baru saja berbicara denganmu di telepon? Apa itu kakakmu Alvero?” Evan bertanya sambil menepuk lembut pipi Alaya yang sedang menatap ke arah Evan.


“Jadi kapan mereka akan datang?” Evan yang ikut duduk di samping Alaya bertanya sambil menyibakkan rambut panjang Alaya yang sedikit bergelombang ke arah yang berlawanan.


“Satu setengah jam lagi mereka akan tiba di tempat ini.” Alaya berkata dengan suara pelan sambil menatap kea rah Evan dengan tatapan menyelidik, karena dari sikapnya, Evan tampak sedang ingin menerkamnya saat ini juga.


“Ternyata masih banyak waktu untuk melakukannya lagi….” Evan berkata sambil langsung mendekatkan wajahnya ke arah leher jenjang Alaya, dimana sudah bersih dari rambut Alaya yang tadi sempat menutupi leher Alaya yang selalu saja terlihat begitu indah dan menggoda bagi Evan.

__ADS_1


Wah… ternyata… pikiran Evan tidak jauh-jauh dari pikiran kak Alvero. Bagaimana bisa antara kak Alvero dan Evan memiliki pemikiran yang sama?


Alaya bertanya-tanya dalam hati dengan sikap sedikit bingung, melihat bagaimana bisa-bisanya Evan mengatakan hal yang sama dengan Alvero.


“Tapi Evan… mereka sudah mau datang….” Alaya berkata sambil menarik kepalanya menjauh dari hidung mancung Evan, karena dia tadi sudah merasa berhasil menutupi bekas tanda cinta Evan di lehernya, yang tadi cukup menguras tenaga dan waktunya, karena dia mencoba beberapa teknik yang ada.


Karena itu Alaya sadar betul, pasti akan merepotkan jika sampai tanda cinta itu bertambah, sedangkan yang lama saja sudah membuatnya repot, apalagi jika ada yang baru.


Godaan dari Enzo dan Alvero, Alaya tahu dia bisa menahannya, tapi James dan Laurel? Membayangkannya sudah membuat Alaya bergidik ngeri mengingat dua orang itu memang begitu suka menggoda orang lain sampai tidak berkutik dan kehabisan kata-kata, meskipun Leo belum terlalu dekat dengannya sehingga Alaya tidak terlalu khawatir.


Untuk Dave dan Ornado, kedua laki-laki tampan yang sama-sama bermata biru itu memang tidak terlalu banyak bicara dan jauh lebih pendiam dibanding James dan Leo, tapi justru sikap mereka yang berwibawa membuat Alaya kadang merasa segan dengan kedua laki-laki itu, terutama Ornado yang sikapnya mirip dengan kakaknya Alvero, yang seringkali bersikap dingin terhadap orang yang tidak begitu dikenalnya dan tidak memiliki hubungan dekat dengannya, meskipun jika itu Cladia, di depan siapapun, Ornado akan memperlakukan istrinya itu seperti seorang ratu.


Kalau Cladia dan Elenora, Alaya yakin dua wanita itu akan memilih diam karena bukan tipe mereka suka menggoda orang lain.


“Hampir semua dari emreka sudah pernah merasakan menjadi pengantin baru, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Mereka pasti mengerti….”


“Dan pasti menggoda kita habis-habisan….” Alaya berkata sambil tersenyum ke arah Evan.

__ADS_1


“Meskipun ini penthouse kak Alvero dan dia yang sudah merencanakan semua acara di tempat ini, tapi saat ini kita adalah tuan rumahnya karena tinggal disini. Apalagi mereka memang sengaja datang ke tempat ini karena ingin bertemu dengan kita. Dan belum memungkinkan untuk kita bertemu di tempat lain karena kondisi. Jadi… sebaiknya kita melakukan pengecekan terhadap persiapan acara makan malam sebelum mereka datang.” Perkatan Alaya membuat Evan tersenyum, sambil mengelus puncak kepala Alaya dengan lembut.


“As you wish my princess….” (Sesuai dengan yang kamu inginkan my princess) Evan berkata sambil melingkarkan lengannya ke pinggang Alaya dan mengajaknya bangkit berdiri, untuk melakukan apa yang tadi dikatakan oleh Alaya.


__ADS_2