
Kenapa duke Evan… tiba-tiba bisa ada di tempat ini? Aku memang sudah berencana menemuinya setelah keluar dari hotel ini, tapi tidak sekarang… aku belum siap bertemu dengannya. Aku masih ingin menata hatiku, dan mempersiapkan diriku berhadapan langsung dengannya.
Alaya berkata dalam hati dengan sikap panik, sambil salah satu tangannya memegang dadanya yang terasa hamoir meledak, karena kaget dan panik bercampur jadi satu.
Cantik… kamu terlihat cantik sekali hari ini my princess.
Evan berkata dalam hati sambil menatap tanpa berkedip sosok istrinya dengan gaun berwarna merah mudah yang membuatnya tampil begitu cantik, lembut dan anggun, sedikit berbeda dengan penampilan Alaya yang biasanya tampak lincah.
“My princess….” Suara lembut Evan, bukannya membuat Alaya menjadi tenang, justru membuatnya merasa semakin panik, dan menundukkan wajahnya tanpa berani menatap Evan, karena dia yakin saat ini wajahnya pasti memerah karena rasa kaget dan juga… jika harus jujur, dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya bisa melihat sosok tampan dari Evan.
“Kenapa kamu datang kesini?” Dengan tetap menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mata Evan, Alaya berkata dengan nada suara yang jelas-jelas menunjukkan dia sedang gugup saat ini kerena kehadiran Evan yang tiba-tiba.
“Maafkan aku my princess… aku sudah menyia-nyiakan cintamu yang begitu besar padaku selama beberapa tahun ini…. Aku sudah melanggar semua janjiku padamu, membiarkanmu menungguku dalam kesendirian tanpa kepastian.... maafkan aku...” Kata-kata Evan tanpa sadar membuat kepala Alaya kembali mendongak dengan wajah kagetnya.
Kenapa duke Evan berkata seperti itu? Seolah-olah dia sudah mengingat apa yang pernah terjadi di antara kami beberapa tahun yang lalu. Apa benar dia sudah mengingatku?
__ADS_1
Alaya berkata daam hati dengan wajah bingung, sampai tiba-tiba tanpa perduli lagi, Evan langsung memeluk erat tubuh Alaya yang masih diam mematung di tempatnya.
"Kamu pantas untuk marah dan sakit hati padaku, setelah apa yang aku lakukan padamu my princess. Maaf... maafkan aku... meskipun aku tahu, ratusan ataupun ribuan kata maaf dari bibirku, mungkin tidak bisa menghapuskan luka di hatimu karena ketololanku waktu itu. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu begitu saja? Kamu yang merupakan separuh dari jiwaku…." Evan berkata sambil menutup matanya, mencegah agar airmata harunya tidak jatuh.
Aku hampir kehilanganmu untuk selamanya my princess, jika saja Alvero tidak menjodohkan kita, aku pasti sudah kehilangan kamu.... Jika itu terjadi, bagaimana aku bisa hidup menghadapi masa depanku yang kosong karena tidak adanya kamu disana? Jika sampai aku sudah mengingat semuanya seperti hari ini, tapi tidak bisa menemukanmu dan tidak bisa lagi memilikimu, bagaimana aku harus menjalani hari-hariku dengan penuh penyesalan yang tiada akhir. Syukurlah kamu masih ada di dekatku, dan bahkan sudah menjadi istriku. Syukurlah my princess…. Cintaku….
Evan berbisik pelan dalam hati dengan hati yang bersyukur pada akhirnya dia tetap dapat memiliki Alaya.
Dan kali ini, Evan tidak bisa mencegah cairan bening dari sudut matanya yang terpejam untuk menerobos keluar dan menetes dari sudut matanya.
"Duke... Evan...." Alaya berkata lirih sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Evan yang begitu erat, yang bahkan membuatnya sulit untuk bernafas dengan leluasa.
"Apa kamu sudah mengingat semuanya?" Alaya langsung memotong perkataan Evan yang sedikit melonggarkan pelukannya, setelah itu menjauhkan tubuhnya dari Alaya agar bisa menatap ke arah wajah istrinya itu, dengan kedua tangannya tetap memegang lengan Alaya, seolah takut gadis itu akan lari darinya, jika dia melepaskan tangannya dari sana.
Alaya sendiri mencoba menunggu jawaban Evan atas pertanyaannya barusan, dengan wajah mendongak, dan tatapan matanya memandang ke arah Evan yang wajahnya terlihat begitu sayu saat ini.
__ADS_1
"Aku ingat... aku ingat semuanya... ingat tentang kita, tentang cinta kita. Tentang semua hal yang pernah kita alami, termasuk tentang janji-janji yang pernah aku ucapkan padamu, yang hampir saja tidak bisa aku penuhi." Perkataan Evan membuat Alaya diam mematung, dengan hati bergetar hebat, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Evan padanya, dan beberapa saat kemudian airmata mulai turun membasahi pipi Alaya, semakin lama semakin deras.
Dia ingat.... dia ingat tentang aku? Dia mengingatku? Apa benar dia sudah mengingatku?
Alaya berkata dalam hati dan tidak bisa lagi menahan gejolak dalam dadanya, disertai dengan airmatanya yang turun semakin deras, karena rasa tidak percaya, haru, lega, sedih, rindu, bahagia bercampur aduk jadi satu dalam hatinya saat ini.
"My princess... maafkan aku... maafkan aku...." Evan kembali mengatakan kata maafnya sambil memandang ke arah Alaya yang wajahnya masih terlihat sedikit bingung, seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Evan.
"Kamu ingat semuanya? Kamu... kembali padaku? Evan… Evan milikku... benar-benar kembali padaku?" Alaya berkata dengan suara terdengar parau, karena suara tangisnya bercampur dengan suaranya yang saat ini begitu sulit untuk keluar karena tenggorakannya yang tersekat.
"Ya Alaya... aku Evan kekasihmu, aku kembali padamu setelah sekian lama. Aku tidak akan pernah lagi membiarkan diriku melupakanmu barang sedetikpun. Alaya... my princess.... I miss You. I love You...." Evan berkata sambil mendekat ke arah Alaya, kembali memeluknya, kali ini dengan penuh rasa cinta dan kerinduan yang begitu memenuhi dadanya.
"Hiks.... Evan! Evanku!" Alaya berteriak kecil dengan tangisnya yang semakin keras, dan tangannya membalas pelukan Evan, sehingga dia bisa merasakan hangatnya suhu tubuh Evan, membuktikan bahwa saat ini dia tidak sedang bermimpi.
"Kenapa kamu bisa melupakan aku begitu saja? Hiks... rasanya seperti mau mati melihatmu berada begitu dekat denganku, dalam jangkauan mata dan tanganku... aku ingin sekali memelukmu... tapi kamu menatapku seperti orang asing.... Aku begitu merindukanmu… sangat merindukanmu.... bertahun-tahun aku menunggu. Tapi… jangankan dirimu, bahkan kabar tentangmu saja aku tidak pernah mengetahuinya. Kalaupun ada yang mengatakan kamu mungkin sudah meninggal, aku tidak akan percaya sebelum melihat kuburmu. Aku kembali ke Gracetian karena melihat berita tentang kamu sebagai duke Gracetian. Aku berpikir jika saja kita bertemu, kamu akan langsung mendekat dan memelukku. Aku sungguh sangat merindukanmu, setiap hari, setiap saat....." Alaya terus berkata dalam tangisnya, membuat akhirnya Evan ikut menangis, karena ikut merasakan kesedihan yang sedang dirasakan Alaya sekarang.
__ADS_1
Kata-kata Alaya membuat Evan semakin merasa bersalah dan menyesal. Dengan mata terpejam, Evan yang masih terus mendengarkan kata-kata Alaya, mengelus-elus punggung Alaya dan juga rambut Alaya.
"Maafkan aku my princess... maaf... maaf untuk semua rasa sakit yang harus kamu derita karena aku yang tidak bisa mengingatmu waktu itu." Rasanya puluhan kata maaf bagi Evan tidak bisa menghapuskan rasa bersalah yang begitu besar dalam hatinya saat ini.