
“Tidak apa-apa, kan memang awalnya kita tidak ada rencana untuk bermain di sungai Goldie Tavisha. Lebih baik kita pulang saja sekarang ke istana.” Alaya berkata sambil memandang ke bagian bawah tubuhnya, dimana di lantai yang dia pijak sekarang, masih terlihat adanya air yang menetes dari pakaiannya.
Rasanya memang seharusnya Alaya mengeringkan pakaiannya dulu sebelum kebali ke istana, tapi keberadaan Evan di dekatnya, benar-benar membuat Alaya ingin secepatnya pergi dari Goldie Tavisha.
Alea sendiri, meski ukuran tubuh mereka hampir mirip, tentu saja tidak berani menawarkan pakaian yang dia miliki untuk dikenakan oleh Alaya yang merupakan seorang putri.
“Tapi Putri… pakaian Putri Alaya masih basah kuyub seperti itu, Putri bisa sakit kalau memaksa pulang dnegna pakaian basah seperti itu….”
“Selamat siang Duke Evan, Putri Alaya….” Suara sapaan dari Alexis yang berjalan mendekat bersama dengan Red, membuat Alea menghentikan kata-katanya.
“Uncle Alexis….” Begitu melihat sosok Alexis yang bagi Alaya sudah seperti ayahnya sendiri, gadis cantik itu langsung berjalan mendekati Alexis yang langsung mengernyitkan dahinya melihat bagaimana penampilan Alaya saat ini.
“Kenapa denganmu Alaya?” Kondisi Alaya membuat Alexis tanpa sadar memanggil Alaya tanpa embel-embel putri, seperti yang selama ini dia lakukan saat mereka berdua belum kembali ke Gracetian, dan Alaya kembali mendapatkan gelar putrinya.
“Apa kamu bermain di sungai lagi?” Sebelum Alaya sempat menjawab pertanyaan dari Alexis, laki-laki itu langsung menebak apa yang sudah terjadi pada Alaya.
“Eh… iya Uncle….” Dengan sikap ragu Alaya menjawab pertanyaan dari Alexis yang wajahnya menunjukkan sikap tidak sukanya mendengar jawaban dari Alaya, dan hal itu membuat Evan yang sedang mengamati mereka sedikit bertanya-tanya kenapa Alexis terlihat sedikit marah mendengar Alaya bermain di sungai.
__ADS_1
“Kamu kan tahu kamu ini paling tidak tahan dengan udara dingin dan tidak bisa telalu lama terkena air.” Omelan dari Alexis membuat Evan mulai bisa menebak kenapa Alexis terlihat tidak suka melihat kondisi Alaya yang basah kuyub.
“Tapi sudah lama aku tidak melakukan itu Uncle, dan aku sepertinya baik-baik sa…. Hatching!” Perkataan Alaya yang terputus oleh bersinnya, membuat Alexis langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Anak nakal. Cepat ganti pakaian basahmu kalau tidak ingin alergi dinginmu kambuh seperti biasanya.” Alexis langsung memberikan perintah kepada Alaya begitu melihat Alaya yang baru saja bersin dan ujung hidungnya terlihat mulai memerah, menunjukkan kalau alerginya mulai bereaksi.
Meskipun secara status sosial kedudukan Alexis sebenarnya lebih rendah dari Alaya, tapi karena sejak kecil Alexis adalah orang yang merawat Alaya dan sudah seperti ayahnya sendiri, sampai saat ini, kata-kata Alexis selalu diperhatikan dan dipatuhi oleh Alaya.
“Tapi aku tidak membawa pakaian ganti Uncle.” Alexis langsung menghembuskan nafasnya dengan keras melalui hidungnya begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alaya padanya.
“Aku rasa putriku tidak akan keberatan kalau pakaiannya dipinjam oleh oleh Alaya.” Alexis langsung menjawab, karena baginya saat ini lebih penting kesehatan Alaya dibandingkan dengan masalah pakaian milim Deanda. Apalagi Alexis tahu putri kesayangannya yang baik hati itu pasti tidak akan pernah keberatan untuk memminjamkan pakaiannya untuk Alaya yang merupakan adik iparnya sendiri.
“Kalau begitu, Alea… kamu antar putri Alaya ke rumah pohon, dan biarkan dia memilih sendiri pakaian milik nona besar Deanda agar bisa segera dikenakannya sebelum putri Alaya semakin kedinginan.” Red segera meminta Alea untuk mengajak Alaya ke rumah pohon milik Deanda.
“Ayo Putri…” Dengan cepat Alea langsung mengajak pergi Alaya yang juga ingin segera berganti pakaian karena dia sudah mulai merasakan tubuhnya yang menggigil kedinginan.
“Ini pakaian Anda Duke Evan.” Sam yang juga sudah kembali dengan membawa pakaian ganti Evan, langsung menyodorkan pakaian itu kepada Evan.
__ADS_1
“Apa putri Alaya memiliki sejarah alergi dingin?” Sambil menerima pakaian yang disodorkan oleh Sam, Evan bertanya kepada Alexis.
Bagaimanapun, sebentar lagi Alaya akan segera menjadi istrinya, dan Evan merasa dia harus tahu semua info tentang Alaya, bahkan info yang paling kecil sekalipun, agar ke depannya dia bisa melindungi Alaya dengan baik, dan membuatnya bahagia berada di sampingnya.
“Benar Duke Evan. Meskipun sekarang dia terlihat kuat dan lincah, juga mengusai beladiri dengan baik, tapi sebenarnya tubuh Alaya tidaklah sekuat yang terlihat. Dia harus mengalami banyak proses yang panjang dan tidak mudah untuk sampai pada titik dimana dia bisa sekuat sekarang ini. Seperti yang Duke Evan pernah dengar, ketika Alaya masih dalam kandungan ibu suri Larena, ibu suri pernah mengalami luka bakar yang sangat parah, bahkan waktu itu, hampir saja merenggut nyawa ibu suri, sehingga selama masa kehamilannya, ibu suri banyak mengalami gangguan kesehatan, yang akhirnya berimbas pada Alaya.” Alexis menghentikan sejenak perkataannya sambil menghela nafas panjang.
Alexis hanya berani menceritakan kepada Evan tentang kondisi luka fisik Larena, tanpa berani menceritakan kebenaran tentang kondisi mental Larena waktu itu, yang juga sempat sedikit terganggu karena trauma yang dialaminya.
Bagi Alexis, belum saatnya Evan tahu karena sampai detik ini Evan masih merupakan orang luar yang belum secara sah menjadi bagian dari anggota keluarga istana Gracetian.
Jika saatnya tiba, Evan sudah menikah dengan Alaya, Alexis berharap, Alaya sendiri yang akan menceritakan semua kisah hidupnya kepada Evan tanpa ada yang ditutup-tutupinya lagi.
“Karena itu, sejak lahir, Alaya memiliki tubuh yang tidak sesehat teman-teman seusianya, sehingga dia pernah menjadi korban bullying oleh teman-temannya yang memang nakal ketika Alaya masih kecil.” Evan langsung terdiam mendengar kisah menyedihkan dari calon istrinya tersebut.
“Eh, Duke Evan. Bukankah dulu Duke Evan pernah menolong Alaya ketika dia mengalami bullying di depan sekolahnya? Ketika itu aku sedikit terlambat menjemputnya karena ada pertemuan dengan ayah duke Evan waktu itu.” Evan langsung mengeryitkan dahinya begitu mendengar perkataan dari Alexis.
“Apa benar seperti itu Tuan Alexis? Terus terang… aku tidak mengingatnya sama sekali….” Evan berkata dengan nada terdengar ragu, karena dia memang tidak mengingat apa yang baru saja dikatakan oleh Alexis, tapi di dalam hatinya, dia merasa apa yang baru saja diceritakan oleh Alexis padanya tentang Alaya, terasa tidak asing, membuatnya seolah-olah benar-benar pernah mengalami kejadian itu.
__ADS_1