
Meskipun wajahnya terlihat jelas kalau dia tidak terima dengan penjelasan Alvero, Christopher hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar itu.
“Karena itu, Putra Mahkota Christopher harap mengerti dengan keputusan pihak kerajaan Gracetian untuk menolak lamaran Anda terhadap putri Alaya yang sudah memiliki seorang kekasih dan sebentar lagi akan melangsungkan pertunangannya dengan duke Evan.” Alvero kembali melanjutkan kata-kata yang membuat wajah Christopher bertambah mendung.
“Ke depannya, mungkin Putra Mahkota Christopher bisa bertemu dengan jodoh Anda. Aku sebagai ayah dari Alaya merasa beruntung memiliki putri yang bisa membuat orang hebat seperti Anda memintanya secara khusus untuk bisa menjadi istri Anda. Sayangnya Alaya sudah menetapkan hatinya untuk duke Evan.” Vincent ikut memberikan kata-katanya untuk menghibur Christopher, yang cukup membuat Alaya ingin tersenyum geli.
Menetapkan hatinya untuk Evan? Yang benar adalah ingin melarikan diri dari ketetapan yang sudah ditetapkan oleh Alvero antara dia dan Evan, itu yang sekarang sedang memenuhi pikiran Alaya saat ini.
Sekilas Alaya melirik ke arah Evan, yang jujur saja, wajah tampan, sikap wibawa dan ketenangan sikapnya saat menghadapi masalah, hampir saja membuat hati Alaya goyah terhadap niatnya untuk melarikan diri dari Evan, dan segera memikirkan bagaimana cara agar Evan membatalkan perjodohan mereka berdua.
Itu yang sedang ada di pikiran Alaya saat ini, sambil dengan bergerak pelan-pelan tanpa diketahui oleh yang lain, saat ini dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Evan.
Sayangnya, setiap kali merasakan pergerakan dari tubuh Alaya, Evan semakin mempererat perlukannya, bahkan mengeratkannya agar tubuh Alaya terdorong ke arahnya, dan semakin menempal di tubuhnya.
Apa maunya duke Evan ini? Kenapa dia justru membuat tubuhku semakin dekat dengannya? Sikap laki-laki ini sungguh menyebalkan.
Alaya hanya bisa mengomel dalam hati merasakan perlakuan Evan, yang tentu saja hanya dia yang tahu, karena Evan melakukannya tanpa gerakan yang bisa dilihat oleh orang lain yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
“Baiklah, aku mengerti dengan baik tentang itu. Sepertinya aku akan butuh waktu cukup lama untuk menemukan gadis lain yang bisa menggantikan posisi putri Alaya dalam hatiku. Dan meskipun malam ini aku sudah mendengar jawaban dari pihak kerajaan Gracetian, tapi aku berharap, bukan berarti aku tidak lagi diberikan kesempatan untuk menikmati bumi Gracetian beserta dengan keindahannya beberapa hari ke depan….” Christopher berkata dengan wajah yang menunjukkan bagaimana kecewanya dia sambil melirik ke arah Alaya.
Dan pandangan itu tepat pada saat Alaya terlihat berusaha menjauhkan dirinya dari Evan dengan menggeser tubuhnya ke samping, karena Alaya sudah tidak tahan lagi ingin segera menjauhi Evan sebelum dadanya meloncat keluar dari tempatnya.
Pemandangan itu membuat Christopher tiba-tiba kembali menyunggingkan sebuah senyuman tipis.
“Tentu saja, semua jadwal yang sudah diaturkan untuk Putra Mahkota Chrisitian selama berlibur di Gracetian tidak akan ada perubahan sama sekali jika Anda ingin tetap menjalankan jadwal itu.” Alvero langsung menanggapi perkataan Christopher.
“Terimakasih untuk sambutan hangatnya Yang Mulia Alvero. Mungkin bukan hari ini, tapi aku menantikan waktu yang tepat ke depannya untuk bisa menjalin kerjasama dengan lebih baik lagi dengan Anda, dan juga… putri Alaya tentunya.” Perkataan Christopher yang menyiratkan bagaimana dia masih mengharapkan Alaya membuat Alvero hampir saja mendengus kesal, sedang Evan, dalam sikap tenangnya, mata hijau indah miliknya terlihat berkilat tajam selama beberapa detik sebelum akhirnya dia hanya tersenyum tipis mendengar perkataan dari Christopher.
“Kalau begitu, lebih baik kita selesaikan pembicaraaan kita malam ini, karena aku rasa, Putra Mahkota Christopher pasti merasa lelah setelah perjalanan dan juga jadwal yang begitu padat sejak datang ke Gracetian.” Alvero berkata sambil melirik ke arah Deanda, yang sebenarnya tidak menunjukkan wajah lelahnya.
Apalagi, seperti biasanya, malam ini Alvero ingin kembali menikmati waktu berdua dengan Deanda, yang tentunya lebih menyenangkan baginya, bisa bergulat di balik selimut tanpa sehelai benangpun bersama istri tercintanya daripada menghabiskan malam dengan berbincang bersama Christopher yang tidak begitu disukainya itu.
Dan sikap Alvero yang segera ingin pembicaraan ini berakhir, terlihat begitu jelas dari cara dia yang langsung bangkit berdiri setelah mengucapkan kata-katanya barusan.
“Baiklah kalau begitu, aku akan meminta ijin untuk beristirahat. Semoga sisa hari ini menyenangkan untuk Anda sekalian.” Christopher segera membalas perkataan Alvero sambil ikut menyusul bangkit berdiri, setelah sebelumnya sempat kembali melirik ke arah Alaya yang langsung menghembuskan nafas lega melalui bibirnya, setelah Alvero memutuskan mengakhiri pembicaraan malam ini.
__ADS_1
Belum lagi tangan Evan yang sudah melepaskan pelukannya dari bahunya, yang merasa sedikit pegal karena berada dalam posisi yang membuat bahunya begitu tegang karena pelukan Evan, dan berlangsung cukup lama, membuat Alaya bisa bernafas dengan lega kembali.
Dengan gerakan hati-hati dan begitu pelan, Alaya memutar-mutar lengannya untuk menghilangkan rasa pegal karena pelukan Evan yang cukup lama dan erat tadi.
“Silahkan….” Alvero langsung mempersilahkan Christopher yang langsung berjalan ke arah pintu, dan tanpa diketahui siapapun sengaja mendekat kea rah Evan yang ikut mengantar kepergiannya.
“Sebaiknya Anda berhati-hati dalam bermain sandiwara, karena mata seluruh rakyat mengawasi Anda. Dan aku akan berusaha untuk membuat Anda mengakhiri drama yang Anda buat.” Dengan suara yang sangat pelan, Christopher berbisik ke arah Evan yang ternyata tidak menunjukkan rasa kaget atau khawatir sama sekali, jauh dari apa yang diharapkan oleh Christopher.
Sikap yang ditunjukkan oleh Evan tetap seperti biasanya, tenang dan terlihat berwibawa, yang justru membuat lawan bicaranya menjadi salah tingkah karena tidak berhasil melakukan intimidasi apapun terhadap Evan.
“Silahkan Anda mencoba untuk melakukan itu. Tapi lakukanlah dengan tindakan yang elegan sebagai putra mahkota Rodfeel, bukan dengan cara murahan seperti yang sudah Anda lakukan untuk menghalangi perjalananku ke istana. Apa Anda sedemikian takutnya padaku sehingga melakukan cara serendah itu?” Evan membalas kata-kata Christopher yang langsung terlihat kaget dengan wajah terlihat pias, karena tidak menyangka bahkan hari belum berakhir, akan tetapi Evan sudah tahu tentang siapa dalang di balik terhambatnya dia untuk datang ke istana.
Duke Evan…. Kamu benar-benar…! Secepatnya! Secepatnya aku akan segera mencari cara untuk membuatmu mengakui kemampuanku, dan membuktikan bahwa hubunganmu dengan putri Alaya hanyalah sebuah sandiwara saja!
Christopher berteriak dalam hati dengan sangat emosi. Tapi sayangnya , saat ini dia tidak bisa menunjukkan emosinya secara terang-terangan seperti biasanya di depan Evan, dan juga Alvero sebagai raja Gracetian, tempatnya bertamu.
“Orang-orang Anda berada di tempat yang aman sekarang. Setelah Anda kembali ke hotel, aku akan mengirimkan mereka kembali pada tuannya. Dan aku berharap, kejadian seperti ini tidak terulang, karena di masa depan aku tidak akan lagi menoleransi perbuatan mereka seperti hari ini.” Setelah melanjutkan kata-katanya yang membuat Christopher hanya bisa diam tanpa bisa membalasnya dengan wajah yang terlihat semakin pucat karena kaget, Evan langsung memperlambat langkah kakinya, sehingga posisinya jadi berada di belakang Christopher.
__ADS_1
“Sam, segera temukan siapa pengkhianat yang sudah berani menjadi mata-mata kerajaan Rodfeel.” Evan langsung berbisik, dan memberikan perintah pada Sam yang sejak datang ke istana menyusul Evan, dengan sikap siaga berjaga di depan pintu ruang pertemuan bersama dengan Erich, bersiap untuk menerima perintah dari Evan.