
Begitu melihat penampilan Alaya yang membangkitkan jiwa laki-lakinya itu, Evan yang awalnya datang menemui Alaya untuk memberikan handphone dan dompet Alaya yang dia simpan, dan juga menanyakan tentang apa hubungan mereka di masa lalu, semua yang sudah direncanakan oleh Evan langsung menguap begitu saja tanpa bekas.
Pikiran Evan bahkan langsung kosong dan melupakan semua niat awal kenapa dia ingin bertemu dengan Alaya saat ini, dan secara tiba-tiba membuat Evan bahkan kehilangan kemampuannya untuk berkata-kata, hanya matanya yang menatap tanpa berkedip ke arah Alaya dengan penampilan sekkk…ssinya.
“Apa Duke Evan suka dengan penampilan baruku? Opss… maaf salah bicara… sebenarnya bukan penampilan baru sih. Biasanya aku suka sekali berpakaian seperti ini, hanya saja, semua aturan ketat di istana, membuatku seperti terkurung di sangkar emas dan tidak bisa mengekspresikan diriku yang sebenarnya.” Alaya berkata sambil dengan sengaja membasahi bibirnya yang tadi dipolesnya dengan lipstik berwarna merah terang, dengan lidahnya, sehingga semakin menimbulkan kesan sekkk…ssi dan menggoda.
Alaya sengaja melakukan hal-hal yang baginya menjijikkan, agar Evan juga melihatnya dengan jijik, meskipun hati Alaya saat ini terus berdebar dengan begitu keras, karena sedari awal, dia bukannya melihat tatapan jijik dari Evan, tapi tatapan kaget, dan gugup, juga salah tingkah dari seorang Evan yang biasanya selelu terlihat tenang.
Bahkan bukan hanya itu saja, Alaya bisa melihat adanya tatapan penuh gairah pada mata Evan saat ini, dan itu membuat Alaya sebenarnya ingin menghentikan ide gilanya saat ini, hanya saja dia tidak bisa menghentikannya dengan tiba-tiba jika dia tidak ingin merasa malu, karena dia sudah kepalang basah.
My princess… apa dia tidak sadar, apa yang dilakukannya sekarang sungguh membuatnya terlihat semakin menggemaskan dan membuatku sulit untuk menahan diri? Jika itu wanita lain… mungkin aku akan merasa mual, tapi my princess… dia adalah istriku yang sah… dan satu-satunya wanita yang paling aku cintai saat ini, yang juga ingin segera aku jadikan milikku seutuhnya.
Evan berkata dalam hati sambil menahan nafasnya, berusaha mengatur detak jantungnya, dan memerintahkan pada pikirannya sendiri untuk tenang dan tidak terlarut dalam suasana.
Begitu Evan sudah berhasil menguasai dirinya dengan baik, dengan langkah perlahan, Evan melangkah mendekat ke arah Alaya, yang jujur saja tidak siap dengan reaksi Evan yang terlihat begitu tenang, padahal dia berharap Evan marah dan menjadi jijik padanya, bahkan Alaya sudah siap jika Evan membentak atau memakinya dengan suara keras.
__ADS_1
Sayangnya yang terjadi saat ini benar-benar tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Alaya.
Astaga! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sepertinya duke Evan tidak menunjukkan tanda-tanda marah melihat penampilanku yang sekarang. Aduh… jangan mendekat… please… kenapa juga duke Evan mendekat ke arahku sekarang? Apa yang mau dilakukan duke Evan padaku?
Melihat reaksi Evan, Alaya justru kebingungan, dan terus mengomel dalam hati.
Benar-benar celaka kalau sampai duke Evan tidak bereaksi seperti yang aku inginkan. Bagaimana nasibku kalau ternyata aku benar-benar membuat duke Evan justru bernafsu? Hih….
Dengan gugup dan bergidik ngeri Alaya berkata dalam hati, sambil membenarkan posisi duduknya, agar tidak lagi dalam posisi menggoda bagi Evan, membuat posisi duduknya lebih santai agar dadanya tidak lagi membusung memamerkan keindahan bentuk dua gunung kembarnya di depan Evan.
Seperti rencana-rencana yang pernah dia siapkan sebelumnya, menemui Evan di markas besar, berpura-pura sakit, memberikan teh yang dibenci Evan, Alaya jadi tersadar bahwa tidak pernah ada satupun dari rencananya pernah berhasil melawan Evan.
Dan untuk rencananya tampil seperti wanita nakal di hadapan Evan, saat ini, Evan tidak memandangnya dengan marah apalagi jijik, tapi justru terus tersenyum dengan mata yang menatap ke arahnya tanpa berkedip, mengakibatkan Alaya justru merasa seperti ditelanjangi oleh tatapan mata hijau yang indah itu, membuat Alaya semakin merasa frustasi.
“Tidak! Mana mungkin aku ingin menggodamu? Justru aku ingin agar kamu menjauh dariku dan kamu melihat kenyataan bahwa aku bukan tipe gadis yang layak untuk menikah denganmu!” Alaya berkata sambil bangkit dari duduknya, dan tanpa menggunakan bahasa non formal saat berbicara dengan Evan, begitu sadar kalau rencananya sudah gagal.
__ADS_1
Melihat itu, Evan justru merasa gemas pada Alaya yang saat ini wajahnya terlihat begitu memerah sambil salah satu tangannya berusaha menarik-narik bagian bawah lingerienya, agar menutupi pahanya yang putih mulus dan terlihat begitu jelas di depan Evan.
Sedang tangannya yang satu lagi terlihat sibuk menarik bagian atas lingerienya agar menutupi dadanya yang menonjol dan menunjukkan sebagian besar belahan dari gunung kembarnya, yang sedari awal ketika melihat Alaya dalam balutan lingerie itu, membuat Evan beberapa kali harus menelan ludahnya dan sedikit mengatupkan erat gerahamnya untuk menahan dirinya agar tidak gelap mata dan terlarut dalam gairahnya.
Dan yang membuat Evan sangat sulit untuk menahan dirinya adalah saat dia memikirkan bahwa sebenarnya, saat ini, gadis cantik yang begitu menggoda itu sebenarnya adalah istrinya yang sah, sehingga sebenarnya membuatnya berhak mencumbui atau melakukan hal yang lebih dari itu pada Alaya.
Sikap Alaya yang berubah drastis, dari sikap berani dan gerak tubuh menggodanya menjadi sikap gugup dan tidak percaya diri, membuat Evan justru ingin menggodanya.
“Apa pakaian seminim ini belum kamu kategorikan menggoda bagi kami kaum adam?” Evan yang sudah berada tepat di hadapan Alaya berkata sambil menggerakkan jari-jari tangannya, menyentuh tali tipis lingerie Alaya di bagian bahu, membuat Alaya hampir saja tersedak karena harus menahan nafasnya dengan begitu tiba-tiba karena tindakan Evan yang baginya bisa membuat jantungnya berhenti seketika.
Gerakan tangan jari-jari tangan Evan yang terasa hangat saat mengelus lembut tali spaghetti lingerie yang dikenakannya, yang mau tidak mau menyentuh kulit bahunya juga, langsung membuat dada Alaya terasa sesak, dan jantungnya berdebar dengan begitu keras, dan bulu kuduk di seluruh tubuh Alaya meremang tanpa bisa dia kendalikan.
“Apa kamu berniat melakukan hal yang lebih untuk menggodaku?” Evan berkata sambil menyentuh tali lingerie di bahu Alaya, menjepitnya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, dan tanpa disangka-sangka oleh Alaya, tiba-tiba kedua jari itu menggeser tali lingerie Alaya ke arah lengan meskipun sedikit, seolah ingin melepas lingerie itu dari tubuh Alaya.
Mendapatkan perlakuan dari Evan yang dianggapnya kurang ajar, dengan cepat Alaya langsung mundur dua langkah sambil mendorong tubuh Evan dengan sekuat tenaga, dan tangannya langsung bergerak cepat memperbaiki letak tali lingerie yang tadi sempat digeser oleh Evan, dan jika diteruskan pasti akan membuat lingerie yang dikenakan Alaya melorot ke bawah.
__ADS_1