
Kenapa Alaya terlihat berjalan menjauhi ruang perjamuan? Apa dia berniat melarikan diri dari acara itu?
Deanda yang baru saja keluar dari ruang perjamuan untuk menemui nyonya Rose dan memastikan semuanya beres langsung mengernyitkan dahinya begitu melihat sosok Alaya yang sedang berjalan ke arah lain, bukan ke ruang perjamuan.
"Alaya...." Suara panggilan Deanda, secara otomatis membuat langkah-langkah Alaya terhenti, dan membuatnya harus langsung menyungingkan senyum pada Deanda agar tidak curiga bahwa dia baru saja hampir menangis keras karena Evan.
"Kak Deanda...." Deanda yang baru saja mau kembali ke ruang tempat diadakannya jamuan makan siang bersama keluarga Carsten, langsung melangkah mendekati Alaya yang baru saja menyahuti panggilan darinya.
"Apa urusanmu dengan duke Evan sudah selesai?" Deanda bertanya kepada Alaya yang langsung mengangguk, dengan berusaha untuk tetap tersenyum.
Sayangnya, Deanda bukanlah orang yang tidak peka, sehingga dia bisa melihat bagaimana senyum yang begitu dipaksakan oleh Alaya saat ini.
Apalagi warna merah di mata Alaya yang masih sempat tertangkap oleh mata Deanda, membuat permaisuri Gracetian yang cantik dan baik hati itu bisa menebak ada sesuatu yang sudah terjadi antara Evan dan Alaya, dan yang pasti itu ada hubungannya dengan pernolakan Alaya terhadap Evan.
"Apa yang sudah terjadi antara kamu dan Evan? Apa dia sudah melakukan hal yang menyakitimu?" Meskipun Deanda tahu dengan pasti Evan adalah orang yang tenang dan lembut, tapi Deanda tetap mempertanyakan apa yang sudah dilakukan Evan terhadap Alaya, kenapa adik iparnya itu wajahnya terlihat bersedih, meskipun sekilas dia tampak terus berusaha untuk tersenyum di depan orang lain.
Celaka, sepertinya kak Deanda mencurigai ada sesuatu yang tidak beres antara aku dan duke Evan. Padahal aku berencana melarikan diri dari makan siang bersama keluarga Carsten. Untuk saat ini aku butuh waktu sendiri, dan menjauhkan diri dari duke Evan. Rasanya untuk hari ini, aku tidak sanggup jika harus bertemu lagi dengan duke Evan.
Alaya berkata dalam hati dengan menahan nafasnya sebentar, menahan gejolak dalam dadanya yang masih dipenuhi dengan kemarahan, kekecewaaan tapi juga rasa rindu dan cintanya pada Evan yang seolah-olah bisa meledakkan dadanya.
__ADS_1
"Eh, tidak apa-apa Kak Deanda. Aku baik-baik saja. Duke Evan juga tidak melakukan hal yang salah padaku." Mendengar perkataan dari Alaya yang jelas-jelas berbohong, Deanda langsung menggamit lengan Alaya dan mengajaknya berjalan ke arah ruang perjamuan, membuat Alaya tidak bisa menghindar.
Deanda sengaja memperlambat gerakan kakinya ketika dilihatnya sosok Evan yang tampak dengan langkah terburu-buru sedang berjalan dari arah lain, menuju ruang perjamuan, membuat Alaya ikut memperlambat langkah-langkah kakinya.
Evan yang sedang berjalan dengan wajah terlihat tegang, dan langkah-langkah kaki lebar dan cepat, membuat laki-laki itu tidak melihat keberadaan Deanda dan Alaya yang memang cukup jauh dari tempatnya berada.
Tanpa sadar Alaya yang melihat ke arah Evan yang bergegas ke arah ruang pertemuan, langsung menghentikan langkah kakinya, membuat Deanda sedikit menghela nafasnya.
Sedikit banyak, Deanda bisa merasakan apa yang sedang dialami oleh Alaya, karena dia pernah berada dalam situasi seperti Alaya, ketika Alvero memaksanya untuk menikah dengannya.
Waktu yang diberikan Alvero padanya waktu itu juga tidak banyak, padahal Deanda adalah gadis miskin, bukan dari kalangan bangsawan yang tidak mengerti sama sekali dengan kehidupan di istana.
Apalagi saat itu, Deanda belum menyadari kalau dia juga mencintai Alvero, dia hanya berpikir bahwa dia cuma mengagumi Alvero sebagai sosok putra mahkota Gracetian yang tampan dan hebat.
Kalau sebelumnya aku tidak mengenal duke Evan, dan dia tidak ingkar janji padaku, justru mungkin aku akan memberinya kesempatan untuk kami berdua menjalin hubungan. Kasusku dan kasus kak Deanda bersama kak Alvero, jelas total berbeda. Sedari awal, kak Alvero hanya mencintai kak Deanda dan tidak pernah sedetikpun berpaling dari kak Deanda.
Alaya berkata dalam hati tanpa berani mengungkapkan pendapatnya pada Deanda, karena bagi Alaya, kenangannya bersama Evan di masa lalu, ingin dia kubur dalam-dalam, dan tidak ingin dia bicarakan dengan siapapun.
"Percayalah cinta akan membimbingmu menemukan belahan jiwamu. Dan semoga itu adalah duke Evan. Meskipun duke Evan adalah orang yang ramah, dia tidak pernah mau sembarangan dekat dengan para gadis. Tapi kepadamu, dari yang aku lihat, sikap duke Evan terlihat begitu hangat dan penuh dengan perhatian." Deanda berkata sambil memberikan senyum manisnya kepada Alaya, berusaha untuk menghibur Alaya, yang dia tahu, hatinya sedang galau.
__ADS_1
# # # # # #
"Yang Mulia Alvero...." Panggilan Evan kepada Alvero dengan sikap hormatnya, membuat Alvero yang sedang berbincang dengan salah satu paman Evan, langsung menoleh ke arah Evan.
"Maaf Yang Mulia, bisakah Yang Mulia memberikan saya waktu sebentar untuk berbicara secara pribadi dengan Yang Mulia Alvero?" Permintaan Evan membuat Alvero sedikit mengernyitkan dahinya.
Dan begitu melihat wajah serius dari Evan, Alvero segera menganggukkan kepalanya, tanda setuju dan mengabulkan permintaan Evan barusan.
“Permisi, aku akan berbicara sebentar dengan duke Evan.”
“O, silahkan Yang Mulia, silahkan….” Paman Alvero segera menanggapi perkataan Alvero dan mempersilahkan Alvero untuk pergi bersama Evan.
# # # # # # #
“Apa maksudmu duke Evan? Apa kamu serius dengan itu? Kenapa tiba-tiba sekali kamu meminta hal seperti itu padaku? Bagaimanapun Alaya adalah adik kandungku, yang ingin aku lindungi dan jaga dengan baik. Aku tidak akan pernah mengampuni siapapun laki-laki yang menyakiti hatinya, dan hanya membuatnya sebagai mainanannya saja.” Alvero berkata dengan nada seriusnya, sambil memandang kea rah Evan.
Sebelumnya, Evan yang mengaja bicara Alvero secara pribadi, tiba-tiba saja meminta kepada Alvero untuk mengijinkannya mempercepat waktu pernikahan antara dia dan Alaya.
Tidak main-main, Evan bahkan ingin bulan depan yang seharusnya merupakan hari pertunangannya, Evan meminta kepada Alvero agar mengijinkannya untuk merubah hari pertunangan itu menjadi hari pernikahan mereka tanpa harus menunggu 2 bulan lagi seperti rencana awal, yang artinya, Evan ingin mempercepat waktu pernikahannya dengan Alaya.
__ADS_1
“Saya benar-benar serius Yang Mulia, saya ingin segera menikah dengan putri Alaya, dan saya berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan putri Alaya dengan posisinya sebagai duchess Carsten.” Evan berkata dengan nada optimis.
Daripada memikirkan bagaimana jika sampai Alaya menghilang dari hidupnya, Evan lebih memilih untuk repot di depan untuk menghadapi Alaya yang memiliki begitu banyak cara untuk membuatnya menyerah terhadap hubungan perjodohan mereka berdua.