
“Kenapa Dok? Apa Dokter pernah memiliki pasien dengan kisah yang sama seperti yang baru saja saya ceritakan pada dokter?” Perkataan Sam semakin membuat dokter Jordan merasa tidak tenang dan merasa terpojok.
“Ah, tentu saja tidak, karena kasus ini cukup unik Tuan. Biasanya seseorang yang mengalami amnesia di satu periode, akan tidak ingat semua kejadian saat itu, tidak hanya satu kasus seperti Anda. Mungkin Anda salah dalam menafsirkan apa yang sedang Anda alami. Mungkin bukan melupakan, tapi memang Anda tidak pernah mengalami itu, tapi merasa pernah. Itu mungkin hanya sekedar halusinasi.” Dokter Jordan berkata dengan berusaha untuk bersikap tetap tenang.
“Apa Anda sedang menuduhku sebagai orang yang tidak waras sehingga terganggu sarafku Dokter? Sehingga aku sudah mulai berhalusinasi?” Perkataan Sam membuat sebulir keringat dingin mengalir di dahi dokter Jordan.
“Tidak… Tentu saja tidak Tuan, itu hanya analisa saya saja, belum tentu benar.” Dengan sikap mulai terlihat gugup dokter Jordan menjawab pertanyaan Sam, yang justru tampak terlihat senang melihat bagaimana mangsanya semakin terpojok dan tampak bingung.
“Dokter… saya mendengar kemampuan hinoterapi Anda sangat mengagumkan. Bisakah Anda melakukan hipnoterapi pada saya, agar orang yang saya cintai itu saya ingat kembali?” Pertanyaan Sam selanjutnya membuat dokter Jordan semakin tidak tenang.
“Tuan, permintaan Tuan bagi saya sangat aneh, bagaimana bisa saya melakukan suatu hal seperti itu. Maksud saya… saya juga tidak emngenal siapa orang yang Tuan cintai, bagaimana bisa saya mengembalikan ingatan Tuan tentang orang itu?” Jawaban dari dokter Jordan membuat Sam mengangguk-anggukan kepalanya.
“Begitu ya… apa mungkin itu karena bukan Dokter yang menghapuskan ingatan saya waktu itu? Bagaimana kalau Dokter yang dulunya sudah melakukan hipnoterapi kepada saya, apa Dokter bisa mengembalikan ingatan saya tentang itu seperti sedia kala?” Pertanyaan dari Sam berikutnya membuat tanpa sadar, dokter Jordan menggeser kursinya dengan cukup keras, sehingga menimbulkan suara deritan akibat gesekan antara kaki kursi dan lantai.
__ADS_1
“Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu pada Tuan, tentu saja saya tidak bisa mengembalikan ingatan Tuan….” Belum lagi dokter Jordan menyelesaikan perkataannya, Sam menggerakkan tubuhnya mendekat ke arahnya, sehingga dokter Jordan secara reflek memundurkan bagian atas tubuhnya ke belakang.
“Bagaimana dengan duke Evan? Apa Dokter pernah melakukan hal seperti itu pada duke Evan?” Mata dokter Jordan langsung melotot begitu mendengar pertanyaan dari Sam, hanya langsung membuatnya sadar bahwa saat ini dia dalam kondisi yang sangat tidak mengenakkan, karena ada orang lain yang tahu tentang apa yang sudah pernah dia lakukan pada Evan.
Sial! Darimana orang ini tahu tentang apa yang pernah aku lakukan pada duke evan? Ini benar-benar sangat berbahaya! Apalagi sepertinya orang di depanku ini bukan orang yang bisa diajak bernegosiasi.
Dokter Jordan berkata dalam hati sambil bangkit dari duduknya dengan cepat, dan melihat ke arah Sam yang masih duduk dengan sikap tenang di kursinya, meskipun melihat adanya tanda-tanda dokter Jordan berniat mencari cara untuk melarikan diri.
Dengan mata terlihat tidak tenang, dokter Jordan menatap ke arah Sam yang dengan gerakan santai, mengambil salah satu file yang berisi tentang data pasien, termasuk data dirinya yagn tadi sempat dibacakan sedikit oleh dokter Jordan.
Dokter Jordan berkata dalam hati sambil melirik ke arah pintu ruang periksanya, yang ada di sebelah kanannya.
Begitu melihat adanya kesempatan itu, dokter Jordan langsung berlari secepat yang dia bisa ke arah pintu masuk ruang prakteknya, yang kebetulan memang terhubung dengan pintu keluar bangunan itu.
__ADS_1
“Bodoh…” Begitu melihat apa yang dilakukan oleh dokter Jordan, Sam bergumam pelan dengan posisi duduknya yang tetap tenang.
Namun hanya sedetik kemudian, Sam bangkit berdiri, dan melangkah dengan gerakan pelan ke arah pintu ruang periksa yang dibiarkan tetap terbuka oleh dokter Jordan karena terlalu terburu-buru.
Belum lagi Sam benar-benar berada di dekat pintu itu, tampak sosok dokter Jordan yang terlihat berjalan mundur, kembali melewati pintu itu sambil menganggkat kedua tangannya.
Dua langkah kemudian, Sam langsung tersenyum begitu melihat dokter Jordan yang tampak pucat, dengan posisi di keningnya menempel sebuah pistol yang ditodongkan oleh Evan.
“Apa Anda masih ingat denganku dokter Jordan?” Evan berkata dengan wajah dan senyum ramahnya, meskipun dari mata hijaunya yang indah, tampak kilatan kemarahan yang begitu besar saat menatap ke arah dokter Jordan, yang baginya adalah orang yang sudah membuat dia hampir kehilangan orang yang begitu berharga dalam hidupnya.
“Duke Evan….” Bibir dokter Jordan langsung mendesiskan nama Evan dengan suara bergetar karena begitu ketakutan.
Seharusnya seperti kata istriku, aku menolak rencana gila Kattie yang ingin membuat duke Evan melupakan kekasihnya. Sekarang, aku benar-benar dalam masalah, dan aku yakin, Kattie akan lepas tangan terhadap kondisiku saat ini.
__ADS_1
Dokter Jordan berkata dalam hati dengan sikap terlihat pasrah, karena dia sadar, tidak mungkin lagi dia melawan seorang duke Evan, yang jelas-jelas tidak bisa dilawannya.
“Kembalikan apa yang pernah kamu ambil dariku, atau aku akan membuatmu tidak bisa lagi menikmati indahnya dunia ini.” Evan berkata sambil terus menodongkan senjata di kening dokter Jordan yang terus berjalan mundur, sampoai akhirnya jatuh terduduk di kursi kerjanya.