Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
EVAN YANG MENGAGUMKAN


__ADS_3

Dengan gerakan cepat, pemuda itu langsung bersiap untuk melarikan diri, membuat mata Alaya melotot dengan tangannya yang berusaha meraih tubuh pemuda itu, berusaha menghalanginya untuk melarikan diri.


Akan tetapi tanpa diduga oleh siapapun gerakan kaki Evan yang tidak terbaca baik oleh Alaya maupun pemuda itu bergerak dengan begitu cepat untuk menjegal kaki pemuda yang sudah bergerak untuk melarikan diri sehingga dia jatuh terjerembab dan mencium lantai restoran.


Setelah itu Evan langsung bergerak meraih kedua tangan pemuda itu, menyatukannya ke belakang punggung pemuda itu sendiri dan mencekal kedua pergelangan tangan pemuda itu dengan kuat sambil menekannya ke punggungnya sendiri, membuat pemuda itu tidak bisa bergerak.


Selanjutnya, Evan langsung melepas dasi yang dikenakannya, karena kebetulan dia mengenakan pakaian formal karena sedang dalam perjalanan penyamarannya sebagai seorang pengusaha kaya yang membutuhkan senjata selundupan untuk keperluan pengamanan pribadinya.


Begitu dasi sudah berhasil dia lepaskan dari lehernya sendiri dengan satu tangannya yang tidak mencekal tangan pemuda itu, Evan segera mengikatkan dasi itu ke pergelangan tangan pemuda itu, sehingga pemuda itu semakin tidak berkutik dibuatnya.


Setelah itu Evan berdiri, dan sambil membungkukkan tubuhnya, lalu menarik lengan pemuda itu agar dia bangkit berdiri, mengikutinya.


“Eh….” Dengan wajah bingung, Alaya yang awalnya sempat berpikir bahwa Evan adalah anggota kelompok dari pemuda itu, memandang Evan dengan kaget.


Dari tatapan mata marah dan kesal kepada Evan ketika tadi pertama bertemu, pandangan mata Alaya berubah menjadi pandangan mata kagum seketika itu juga.


“Duduk!” Dengan sebuah kata yang diucapkan dengan nada cukup tinggi, Evan memberikan perintah kepada pemuda itu untuk duduk di kursi dengan posisi kedua tangan masih terikat di belakang punggungnya, seperti seorang buronan yang baru saja ditangkap oleh polisi.


Alaya yang sejak melihat bagaimana Evan melumpuhkan pemuda itu terlihat menatap Evan dengan kagum, sengaja berdiam diri, menantikan apa yang akan dilakukan Evan pada pemuda itu.


Begitu pemuda itu duduk, Evan segera ikut mengambil posisi duduk di dekatnya, lalu menatap ke arah pemuda yang tampak menundukkan kepalanya dengan sesekali melirik ke arah Evan dengan wajah tidak tenang.

__ADS_1


“Alaya… kenapa tidak ikut duduk bersama kami?” Evan yang melihat Alaya masih berdiri di tempatnya, langsung berkata kepada Alaya yang seperti kerbau dicucuk hidungnya, tanpa perlawanan sama sekali, langsung duduk di kursi lain, sesuai dengan apa yang diminta oleh Evan.


(Seperti kerbau dicucuk hidungnya merupakan perumpamaan yang artinya menurut saja kehendak orang lain tanpa membantah karena bodoh atau karena tidak berdaya melawan, hanya menurut saja tanpa perlawanan).


“Sekarang coba jelaskan, apa yang terjadi sebelumnya.” Dengan suara terdengar pelan, dan sikap berwibawanya, Evan mulai melakukan interogasi pada pemuda itu.


“Tidak… maksudku… tidak tahu. Gadis itu tiba-tiba menghajarku… dan mengejarku mati-matian, padahal… aku tidak mengusiknya sama sekali.” Dengan suara terbata-bata pemuda itu berkata, mencoba membodohi Evan.


Alaya awalnya langsung melotot mendengar perkataan pemuda itu, yang jelas-jelas berbohong pada Evan. Tapi entah kenapa, kali ini Alaya terlihat lebih tenang dan memilih diam meskipun matanya tetap melotot dan menatap tajam ke arah pemuda itu.


Aku ingin melihat, bagaimana laki-laki itu menyelesaikan masalah ini. Apa dia memang hebat, atau hanya penampilannya yang terlihat seperti orang hebat.


Alaya berkata dalam hati dan membiarkan rasa penasarannya tentang Evan membuatnya berusaha bersabar dan pura-pura tidak mau terlibat dalam pembicaraan antara Evan dan pemuda itu, memberikan kesempatan pada Evan untuk menyelesaikan masalah.


Apa-apaan ini? Kok bisa-bisanya laki-laki asing yang tiba-tiba tahu namaku itu bercanda hal yang aneh seperti itu?


Alaya langsung menyatakan protesnya dalam hati, sebelum akhirnya dia tidak tahan dan protes kepada Evan.


“Maaf Tuan, aku tidak mungkin menyukai preman dengan penampilan dekil seperti itu.” Alaya langsung menanggapi perkataan Evan dengan nada kesalnya, membuat Evan tersenyum kecil, sedang pemuda itu semakin tertunduk mendengar perkataan Alaya.


“Kamu dengarkan apa kata Alaya? Lagipula, tidak mungkin gadis yang terlihat cantik dan terpelajar sepertinya, mengejar-ngejar laki-laki berpenampilan preman sepertimu, yang terlihat seperti pencuri. Karena itu, pasti ada hal buruk yang sudah kamu lakukan padanya.” Kata-kata Evan yang tiba-tiba saja memujinya, tiba-tiba saja membuat wajah Alaya sedikit memerah, sedang pemuda itu terlihat kaget begitu mendengar kata-kata Evan.

__ADS_1


Bagaimana tidak kaget, awalnya pemuda itu mengira Evan masih sedikit berada di pihaknya, dan berniat membantunya lepas dari Alaya, tapi tiba-tiba saja Evan menyerangnya dan membela Alaya.


“Aku tidak mencuri apapun darinya. Dia yang memfitnahku tanpa alasan.” Pemuda itu mulai berusaha mengeluarkan alibinya untuk membela diri.


“Apa ini yang kamu maksud dengan tidak tahu dan kamu tidak bermaksud mencuri?” Dengan sikap tetap tenang, tiba-tiba Evan meletakkan lembaran uang dan juga kalung emas yang tadinya tanpa disadari oleh pemuda itu, sudah dikeluarkan Evan dari kantong celananya.


Mata Alaya dan pemuda itu kembali terbeliak lebar begitu melihat apa yang baru saja diletakkan Evan di atas meja, tepat di depan wajah pemuda itu.


Pemuda itu terbeliak kaget, tidak menyangka kalau Evan sudah tahu apa yang sudah dia lakukan. Sedang Alaya terbeliak kaget karena kagum dengan apa yang sudah dilakukan Evan pada pemuda itu.


“Uang dan kalung itu apa benar milik temanmu Alaya?”


“Benar! Benar Tuan!” Dengan suara terdengar begitu bersemangat, Alaya langsung menjawab pertanyaan Evan.


“Permisi Tuan, polisi sudah datang.” Belum lagi pembicaraan antara Evan dengan pemuda itu, maupun dengan Alaya berlanjut, tiba-tiba datang manager restoran menemuinya secara langsung.


Selama ini, pemilik restoran yang suaminya merupakan warga Gracetian itu, memang memiliki hubungan baik dengan Evan.


Dan sejak awal melihat keberadaan pemuda itu, dan kedatangan Alaya yang tampak mengejar-ngejar pemuda itu, Evan tanpa diketahui oleh Alaya maupun pemuda itu meminta pihak restoran untuk memanggil polisi.


Evan sadar bahwa di negara Gracetian, dia memang orang yang cukup berpengaruh dan bisa dengan mudah memanggil pihak berwenang untuk menangkap atau menahan seseorang yang mencurigakan.

__ADS_1


Akan tetapi karena di sini adalah negara asing, meskipun dia memiliki banyak koneksi, Evan memilih jalur aman menyerahkan semuanya kepada pihak keamanan negara setempat, dan tidak mau ikut campur karena baginya, setiap negara memiliki sistem keamanan dan aturan masing-masing dalam menangani masalah keamanan yang terjadi di negara mereka.


Bagi seorang Evan yang memang hidup di dunia militer, menghormati kedaulatan negara lain dalam mengatur keamanan di negara mereka masing-masing merupakan hal yang wajib dilakukan oleh orang lain yang memang tidak berasal dari negara itu.


__ADS_2