
Meskipun sedari tadi Danella sudah bisa menebak dan bersiap dengan keputusan Evan menerima ide pernikahannya dengan Alaya seperti yang disampaikan oleh Alvero tadi, tetap saja Danella tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar apa yang dikatakan oleh Evan, bahwa besok, dia akan menikah dengan Alaya, meskipun gadis itu belum sadarkan diri.
“Evan….” Hanya satu kata itu yang meluncur begitu saja dengan suara lirih dari bibir Danella karena dari kata-katanya, Danella yakin dia tidak akan bsia mengubah keputusan yang sudah dibuat Evan dengan tekad yang besar itu.
“Maaf jika mungkin keputusanku membuat Mama terkejut, atau bahkan Mama mungkin kecewa. Tapi kali ini, aku sangat yakin bahwa keputusanku ini adalah keputusan yang terbaik baik kami berdua, dan juga bagi Gracetian, karena banyaknya orang yang sedang berebut posisi sebagai suami Alaya. Aku melakukan ini bukan hanya untuk kepentinganku pribadi Ma. Aku ingin melindungi Alaya sebagai wanita yang aku cintai.” Begitu di akhir kalimatnya, Danella mendengar pernyataan cintanya pada Alaya, Danella semakin terdiam dan pasrah.
"Meskipun Alaya masih dalam kondisi tidak sadarkan diri, akan tetapi saat kami menikah besok, aku harap Mama mau membantuku menyiapkan kamar ini dengan baik. Aku mau ada rangkaian bunga segar di setiap sudut kamarku. Aku mau sebuah dekor yang indah, meskipun acara pernikahan kami untuk saat ini hanya dilakukan di kamarku saja, bukan di sebuah gedung mewah. Aku mau suasana pernikahan benar-benar terasa saat orang lain memasuki kamarku, yang akan menjadi kamar pengantin kami, meskipun bukan sebuah dekorasi yang mewah dan berlebihan." Kata-kata Evan membuat Danella terdiam, tidak mendukung, tapi tidak juga membantah.
“Aku tetap ingin mengenang besok sebagai hari yang bersejarah bagi kami berdua. Aku mau menceritakan itu pada Alaya saat dia terbangun nanti.” Danella terus memandang dalam-dalam ke arah Evan yang dengan sikap bersemangat memintanya untuk menyiapkan dekorasi untuk kamarnya besok.
__ADS_1
"Maaf Ma, mungkin keputusanku tidak sesuai dengan pemikiran Mama, tapi aku yakin, keputusanku untuk menikah dengan Alaya besok, apapun kondisi Alaya tidak akan berubah sama sekali. Dan aku, tidak ingin ada banyak orang yang hadir. Aku hanya mengijinkan orang-orang terdekat untuk hadir dan menjadi saksi pernikahan kami, agar tidak mengganggu proses kesembuhan Alaya juga." Evan berusaha membuat Danella mengerti dengan keputusannya, yang dia tahu, pasti tidak sesuai dengan cara berpikir Danella, yang selalu menghormati orang lain.
"Tapi Evan... kamu adalah penerus keluarga Carsten dengan posisi yang paling tinggi dan paling dihormatti. Mana bisa kamu menikah dengan kondisi apa adanya seperti itu? Apa kata orang nanti?" Danella berusaha membujuk Evan sebelum mereka benar-benar membuka pintu kamar Evan untuk keluar dari ruangan itu.
"Kita memiliki banyak anggota keluarga yang harus dihormati, tidak bisa dengan sembarangan kita melupakan keberadaan mereka, dan tidak mengundang mereka pada acara pesta pernikahanmu yang bagi mereka sangat penting. Apalagi mereka sudah lama menunggu-nunggu kabar baik ini. Tapi dengan kondisi kesehatan Alaya dan pernikahan tanpa persetujuan pengantin wanita seperti ini, bagaimana bisa kita mengundang anggota keluarga Carsten yang lain?" Danella melanjutkan protesnya kepada Evan yang langsung tersenyum.
“Dan aku, akan sangat menantikan itu, dimana aku bisa menunjukkan pada dunia, betapa cantik dan mempesonanya istriku, duchess Carsten berikutnya. Saat itu tiba, Mama boleh mengajak siapapun yang ingin Mama undang untuk datang.” Evan berkata dengan senyum yang terus tersungging di wajahnya, menunjukkan betapa dia sungguh bangga dengan keberadaan Alaya yang besok akan menjadi istrinya secara sah.
Mendengar semua yang dikatakan oleh Evan, tentang semua keinginan yang menunjukkan betapa dia sangat menginginkan Alaya sebagai pengantinnya, Danella hanya bisa terdiam, merasa tidak tega jika kata-katanya merusak kebahagiaan Evan.
__ADS_1
Apalagi Danella tadi sudah mengatakan kalau dia akan mempercayakan semuanya kepada Evan, dan menerima apapun keputusan Evan tentang jawabannya atas penawaran Alvero.
Mungkin… memang takdir mereka berdua harus menikah dengan cara yang menyedihkan seperti ini. Yang pasti…. Aku sungguh berharap semuanya bisa berakhir bahagia, meskipun awalnya terkesan dipaksakan seperti ini. Aku akan memberikan berkatku kepadamu Evan, berbahagialah bersama gadis yang sudah kamu pilih sebagai pendamping hidupmu. Jangan pernah berpisah dari gadis pilihanmu.
Danella berdoa dalam hati dengan sikap khusuk, mendoakan yang terbaik untuk Evan dan Alaya yang akan segera menikah besok.
“Mama akan menyiapkan apa yang kamu minta tadi Evan. Seperti katamu, sebaiknya mala mini kita segera beristirahat untuk menyiapkan diri besok, karena besok adalah hari yang pastinya padat dan menguras energi.” Danella berkata dan membuka pintu kamarnya, bersiap untuk beristirahat, meskipun wanita itu tidak yakin kalau malam ini, baik dia maupun Evan bisa tidur dengan tenang.
“Selamat malam Mama. Mimpi indah, dan selalu doakan kebahagiaanku, bahkan dalam tidurmu.” Evan berkata sambil mengecup lembut kedua pipi Danella yang langsung membalasnya dengan sebuah senyuman.
__ADS_1