Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
PERCAYAKAN SAJA PADA EVAN


__ADS_3

Evan meminta hal seperti itu sejak awal pada yang mulia? Sepertinya Evan memang sudah tertarik dengan Alaya sejak awal. Kalau tidak, mana mungkin dia meminta hal seperti itu pada Alvero. Mau mengambil semua tanggung jawab terhadap Alaya sepenuhnya.


Deanda berkata dalam hati sambil tersenyum lega sekaligus ikut bahagia melihat sikap dan keputusan yang diambil Evan terhadap Alaya.


"Selamat siang Yang Mulia Alvero." Evan yang juga baru saja menyelesaikan makan siang bersama Danella di rumah mewah miliknya yang bentuknya mirip dengan bangunan istana kerajaan dengan konsep Mediterania yang terlihat klasik dan megah.


Dan bangunan rumah dengan tipe bangunan seperti itu di negara Gracetian, menunjukkan kalau pemilik rumah itu merupakan seorang bangsawan.


Selain bangunan istana Gracetian, rumah Evan merupakan salah satu rumah yang keindahannya selalu membuat orang lain terkagum-kagum dengan keindahan dan kemegahannya, dan juga menjadi salah satu icon dari kota Tavisha itu sendiri.


"Selamat siang Duke Evan. Aku ingin memberitahukan tentang pertemuan keluarga besar kita besok. Apa dari pihak keluarga Carsten, ada hal-hal khusus yang perlu disiapkan dari kami?" Pertanyaan Alvero membuat Evan tersenyum, karena tidak biasanya Alvero mengatakan sesuatu yang menunjukkan basa-basi seperti sekarang ini.


“Tidak ada Yang Mulia, kami sudah merasa senang karena keluarga besar Adalvino mau menyempatkan waktu khusus untuk keluarga Carsten. Saya mewakili keluarga Carsten mengucapkan terimakasih untuk itu.” Dengan nada suara tenang dan sopan seperti biasanya, Evan langsung menjawab pertanyaan Alvero.


“Ah, jangan merasa sungkan. Sebentar lagi kita akan memiliki hubungan yang cukup dekat, apalagi saat putri Alaya sudah menikah dengan duke Evan. Bahkan di luar suasana formal, kita bisa saling menyebutkan nama kita.” Alvero berkata sambil tersenyum, karena sebenarnya Evan sebagai calon adik iparnya, usianya lebih tua dari Alvero meski tidak sampai 5 tahun.

__ADS_1


Hanya saja status Alvero sebagai raja Gracetian, membuat semua orang memanggilnya dengan sebutan Yang Mulia Alvero atau Raja Alvero untuk menunjukkan rasa hormatnya pada Alvero, meskipun orang itu berusia jauh lebih tua dari Alvero, termasuk Evan yang posisinya saat ini hanya satu tingkat tepat di bawah Alvero.


“Terimakasih untuk sambutan Yang Mulia kepada keluarga Carsten, terutama saya pribadi….” Evan kembali menjawab perkataan Alvero, sambil menatap ke arah Danella yang duduk tepat di depannya, di meja makan rumah mereka.


Danella sendiri langsung tahu siapa yang melakukan panggilan telepon begitu Evan menyebutkan nama Alvero. Dan itu membuat wajah wanita yang sudah berusia lebih dari 50 tahun namun masih terlihat cantik itu melihat ke arah Evan dengan wajah penasarannya.


“Ah ya duke Evan, semua persiapan untuk acara besok sudah dipersiapkan dengan baik. Hanya saja ada sedikit masalah sekarang….” Alvero menghentikan bicaranya sebentar karena tanpa sadar, apa yang akan dikatakannya membuat Alvero membayangkan wajah kesal Alaya nanti saat Evan yang turun tangan untuk menyelesaikan masalah kebohongannya hari ini.


“Ada masalah apa Yang Mulia? Apa ada yang bisa saya bantu untuk itu?” Evan segera menanggapi perkataan Alvero yang terhenti sesaat.


“Sepertinya memang harus duke Evan yang turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini. Putri Alaya sedang sakit sekarang, takutnya kalau dia tidak segera sembuh, besok dia tidak bisa menghadiri acara pertemuan keluarga. Dan itu bisa saja membuat acara pertemuan besok dibatalkan.” Evan sedikit mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan dari Alvero.


Dan begitu mendengar bagaimana Evan menunjukkan nada khawatir dari kata-katanya, membuat Alvero tersenyum senang.


“Putri Alaya sakit?” Danella langsung terlihat berbisik pelan ke arah Evan yang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Danella dengan kata-kata.

__ADS_1


Wajah Danella jadi ikut terlihat khawatir begitu mendengar kabar calon menantu yang sudah lama dinanti-nantikannya itu terdengar sakit.


“Ah, tidak perlu serepot itu Duke Evan. Daripada membawa dokter untuk memeriksa dan menyembuhkan penyakit putri Alaya, mungkin penyakit putri Alaya hanya karena ingin Duke Evan yang membantu menyembuhkannya.” Dengan suara santai Alvero berkata, membuat dengan cepat Evan mulai menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada Alaya sebenarnya.


Jika penyakit Alaya memang begitu serius, tidak mungkin sikap Alvero terkesan begitu tenang dan santai seperti yang terjadi saat ini, bahkan Alvero terkesan sedang tersenyum sambil mengucapkan kata-katanya.


Dari apa yang dilihat oleh Evan, meskipun Alvero dan Alaya baru dipertemukan setelah mereka sama-sama dewasa dan tidak pernah mengenal satu sama lain sebelumnya, tapi dari beberapa pertemuan yang dialami Evan, laki-laki itu bisa menilai kalau hubungan antara Alvero dan Alaya sangat baik dan mereka berdua terlihat begitu saling menyayangi, seperti adik kakak yang sejak kecil sudah hidup bersama.


“Begitukah? Kalau begitu, saya akan pergi ke istana dan melihat bagaimana kondisi putri Alaya.” Evan segera berkata sambil menggeser kursi yang dia duduki, dengan Danella yang langsung mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Evan.


Silahkan menikmati hasil sandiwaramu Alaya. Kita tunggu saja bagaimana kamu bisa membohongi seorang Evan Carsten. Kamu sepertinya memilih cara yang salah untuk menghadapi Evan, Alaya.


Alvero berkata dalam hati sambil menahan tawa gelinya.


“Lebih baik memang begitu Duke Evan, silahkan datang ke istana dan jenguk putri Alaya. Mungkin dia menderita penyakit baru yang belum pernah ditemukan oleh para ahli kesehatan, dan hanya Duke Evan yang bisa menyembuhkannya, supaya dia sehat seperti tadi pagi.” Evan langsung tersenyum begitu mendengar kata-kata Alvero yang baginya mengandung sebuah petunjuk yang sangat jelas, bahwa Alaya sebenarnya tidak sakit, tapi sengaja berpura-pura sakit untuk menghindari acara pertemuan besok.

__ADS_1


“Baik Yang Mulia, saya akan segera menemukan sumber penyebab penyakit yang membuat putri Alaya tiba-tiba kondisi kesehatannya berubah secara mendadak.” Evan langsung menanggapi perkataan Alvero yang akhirnya membuat Alvero tidak bisa lagi menahan tawanya.


“Aku percayakan adikku kepadamu Duke Evan, semoga kamu tidak memukul pantatnya karena kenakalannya kali ini. Kalau begitu selamat siang.” Alvero mengatakan kata-kata penutupnya dengan tawa kecil masih menghias wajahnya.


__ADS_2