Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
GADIS ISTIMEWA UNTUK ERICH


__ADS_3

“Jangan melamun, gadismu itu tidak akan pergi kemanapun, apalagi berpaling darimu.” Perkataan Ernest membuat wajah Erich bertambah serius, karena tidak menyangka Ernest akan mengatakan hal seperti itu padanya, bisa membaca perasaannya, yang baru pertama kalinya dia rasakan apda seorang gadis.


Rasa takut kehilangan, rasa ingin dekat, rasa rindu, rasa cinta, rasa ingin memiliki, rasa ingin melindungi, rasa ingin membahagiakan, yang menjadi satu dalam dada Erich setiap melihat sosok calon istrinya itu, apalagi sejak mereka resmi menjalin hubungan sebgai sepasang kekasih.


“Aku tahu kalian sudah cukup lama tidak saling mengobrol apalagi saling bertemu karnea kesibukanmu akhir-akhir ini, tapi jangan berpikir kalau-kalau ada orang lain yang bisa merebutnya darimu.” Ernest yang begitu hafal dengan sosok Erich, bersama dengan pemikirannya, seperti juga Erich yang begitu mengenalnya, berbisik pelan kepada Erich.


“Kalaupun ada yang berani macam-macam dengan gadismu, bukan hanya kamu, akupun akan membuat orang itu menjauh dari Cleosa secepatnya.” Ernest menambahkan kata-katanya agar Erich merasa tenang.


Bukan tanpa alasan Ernest melakukan itu, karena ketika melihat Erich sedikit melamun tadi, Erich sempat menangkap adanya sikap khawatir dari wajah Erich, dan sudah beberapa kali Ernest melihat itu pada sikap dan tatapan mata Erich saat melihat ke arah Cleosa, satu-satunya gadis yang bisa membuat ekspresi dingin Erich yang biasanya selalu datar tiba-tiba saja berubah.


Entah wajah khawatir, sedih, bahagia, meskipun tidak terlihat jelas bagi orang yang tidak terlalu mengenal Erich, bagi Ernest ekspresi-ekspresi itu hanya diperlihatkan Erich jika ada Cleosa dalam jangkauan pandangan matanya.


Ernest tahu bahwa Erich yang sangat mencintai Cleosa meskipun kadang sulit untuk menunjukkannya lewat kata-kata dan sikap manis atau mesra, seringkali merasa khawatir kalau-kalau suatu ketika Cleosa akan berpaling darinya saat ada pria lain yang bersikap manis dan hangat padanya.


“Mungkin kamu tidak yakin, tapi percayalah. Cleosa itu, bahkan sangat mencintaimu, lebih dari yang kamu tahu. Dia tidak akan pernah berpaling darimu, dan dia suka kamu apa adanya tanpa perlu mengubah dirimu menjadi seperti orang lain.” Bisikan dari Ernest selanjutnya membuat Erich kembali menyungingkan senyumnya, kali ini dengan sikap lega.

__ADS_1


Melihat reaksi wajah Erich, membuat Ernest tersenyum dan semakin yakin kalau Erich benar-benar sudah begitu mencintai Cleosa.


Hal itu adalah hal yang sangat melegakan bagi Ernest mengingat bagaimana Erich bukanlah orang yang bisa dengan mudah bisa percaya dengan orang lain dan mau dekat dengan orang lain setelah peristiwa pembantaian warga desa yang disaksikannya ketika dia masih kecil dulu, meninggalkan trauma yang begitu dalam bagi Erich yang harus tumbuh dengan mental yang pernah sedikit terganggu akibat peritiwa itu.


Cleosa, bagi Ernest, adalah berkah besar bagi Erich, karena sejak awal, gadis itu sungguh menyukai Erich apa adanya, di saat gadis lain mungkin akan berpikir puluhan kali untuk mendekati Erich yang memang boleh dikata hampir tidak pernah tersenyum dan bersikap ramah kepada orang-orang di sekelilingnya, meskipun dari segi penampilan dan juga harta sebagai seorang pria Erich boleh dikatakan jauh di atas rata-rata.


Meskipun Erich hanyalah seorang knight yang merupakan bangsawan dengan level paling rendah diantara para bangsawan Gracetian lainnya, akan tetapi karena sejak mudanya dia merupakan pengawal pribadi Alvero, sehingga untuk masalah harta dia cukup berlimpah dan tidak perlu khawatir dengan itu.


Cinta tulus dari seorang Cleosa, membuat Ernest sebagai saudara kembar Erich merasa ikut bahagia Erich bisa dipertemukan dengan sosok Cleosa yang sabar dan ramah, membuat dunia Erich menjadi lebih berwarna setelah kehadiran gadis itu di sisinya.


Dan yang pasti, sejak Cleosa menjadi kekasihnya, Ernest bisa melihat bagaimana wajah bahagia Erich saat menatap atau membicarakan Cleosa.


“Ya Yang Mulia….” Dengan berbarengan kedua pengawal pribadi kembar Alvero itu segera menjawab panggilan dari Alvero.


“Mungkin setelah acara makan malam, aku akan melakukan pembicaraan serius dengan duke Evan tentang rencananya terhadap duke Hugo dan duchess Kattie. Meski belum tahu temapt yang akan kami gunakan, segera persiapkan ruang kerjaku yang ada di penthouse ini. Siapkan beberapa kursi ekstra kalau-kalau nanti tuan Ornado dan yang lain ingin ikut bergabung dalam pembicaraan kami.” Alvero berkata sambil melirik ke arah istrinya yang sedang berjalan dengan para wanita lain yang merupakan para sahabat dekatnya dengan sikap ceria, membuat Alvero merasa lega sekaligus bangga bisa membahagiakan Deanda seperti hari ini.

__ADS_1


“Ernest, selama di sini, bantu nyonya Rose menyiapkan segala sesuatunya untuk acara pesta hari ini. Dan untuk kamu Erich, kamu pastikan Abella, Cleosa dan Clare jika mereka membutuhkan bantuan, mereka segera mendapatkannya.” Perkataan Alvero membuat Ernest langsung melirik ke arah Erich yang tampak tersenyum sangat tipis, sehingga Ernest tidak yakin kalau orang lain bisa meliaht perubahan gerakan bibir Erich saat ini.


Hanya saja, Ernest tidak akan pernah menyangka kalau Alvero yang sejak lama sudah mengenal Erich, sebenarnya bisa melihat itu, dan dia sengaja memberikan perintah itu pada Erich untuk memberi kesempatan kepada Erich agar dia bisa berada di dekat Cleosa.


“Baik Yang Mulia.” Baik Ernest dan Erich segera menjawab perintah Alvero.


“Sebentar….” Alvero berkata sambil mengambil handphonenya dan menerima panggilan telepon yang masuk untuknya.


“Kenapa Tira?” Begitu Alvero menyebutkan nama putri cantik yang merupakan adik sepupunya, tanpa sadar, mata Ernest langsung mengarah kepada Alvero.


“Oh… aku pikir kamu akan datang bersama dengan papa dan mamaku.”


“Aku tahu, malam ini sepertinya banyak orang yang sedang memiliki acara di luar istana.”


“Jangan sembarangan mengajak orang ke penthouseku.”

__ADS_1


“Kamu tahu kalau orang lain belum boleh ada yang tahu tentang keberadaan Evan dan Alaya di sini.”


“Oke, aku akan mengaturkan orang untuk menjemputmu. Tunggu saja di istana sampai orangku datang menjemputmu.” Alvero berkata sambil menutup panggilan telepon dari Tira untuknya.


__ADS_2