Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
TAMU MISTERIUS


__ADS_3

“Aku akan selalu bahagia bersamamu my Al, jangan khawatir….” Deanda berkata dengan lembut.


"Bagus sekali. Karena aku, sebagai suami sekaligus rajamu, melarang kamu tidak bahagia." Alvero berkata dengan wajah seriusnya, meskipun suaranya terucap dengan nada tenang tanpa intonasi yang tinggi.


Deanda langsung tertawa geli melihat bagaimana narsis dan otoriternyanya sikap Alvero kepadanya.


Sikap yang sejak awal memang ditunjukkan Alvero secara terus terang dan gamblang di depan Deanda, dan sejak awal sampai sekarang, Deanda tidak pernah keberatan dengan cara suaminya memperlakukannya, justru karena begitu besarnya cinta Deanda kepada Alvero, dia selalu menganggap hal itu sebagai bentuk rasa cinta Alvero padanya.


"Tidak ada alasan aku tidak bahagia selama menjadi istrimu, my beloved king." Jawaban Deanda membuat Alvero tersenyum tipis dengan wajah bangganya karena setiap kata-kata Deanda, seringkali selalu membuatnya besar kepala, dengan hati begitu bangga bercampur jadi satu dengan rasa bahagia.


"Lalu, apa yang sudah mengganggu pikiranmu?" Alvero kembali ke topik pembicaraan mereka yang semula, karena pada dasarnya, Alvero yang begitu pencemburu dan over protektif terhadap Deanda itu, memang benar-benar serius saat mengatakan bahwa dia selalu ingin Deanda bahagia berada di sisinya, sehingga Alvero tidak ingin pikiran Deanda terbebani oleh hal apapun.


Raja muda itu, akan rela jika dia harus melakukan apapun untuk membuat wanita tercintanya itu bahagia, dan itu sudah pernah dibuktikannya di masa lalu, ketika dia masih mengejar cinta dari Deanda.


"Aku sempat mendengar ketika Ernest dan Erich berbicara di kantor tentang Eliana, kata mereka, beberapa waktu lalu ada orang yang datang mengunjungi Eliana, bukan baron Amos, tapi seseorang yang belum pernah muncul di dekat Eliana." Alvero langsung menghela nafasnya begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Deanda.

__ADS_1


Waktu itu Alvero sengaja mengajak Ernest maupun Eich membicarakan tentang Eliana yang mendapatkan kunjungan dari seseorang yang cukup misterius tanpa mengajak Deanda, karena Alvero tidak ingin istrinya yang sedang hamil itu jadi berpikiran macam-macam dan tidak tenang.


Memang waktu itu Ernest yang mendapat tugas untuk selalu mengamati pergerakan Eliana, memberikan info pada Alvero tentang kunjungan dari seorang laki-laki tidak dikenal di tempat Eliana dikurung di suatu rumah sakit jiwa yang ada di pinggiran kota Renhill.


Mereka menganggap laki-laki itu adalah laki-laki yang tidak dikenal, karena identitas laki-laki itu bukanlah orang Gracetian, dari kartu pengenal yang dimilikinya, menunjukkan kalau dia adalah orang asing dan tinggal di negara lain.


Meskipun Alvero berusaha melakukan pembicaraan tertutup dengan Erich dan Ernest tanpa melibatkan Deanda yang waktu itu sedang melakukan kunjungan kerja di tempat lain, siapa sangka karena ada file penting yang tertinggal akhirnya Deanda justru kembali ke kantor, dan tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara Alvero dan kedua pengawal kembarnya, meskipun waktu itu Deanda sedang terburu-buru, jadi hanya mendengar sebagian kecil pembicaraan itu.


"Sweety, aku benar-benar tidak ingin pikiranmu terganggu dengan hal sekecil itu." Perkataan Alvero membuat Deanda menarik nafas panjang.


"Sweety...."


"My Al... aku tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi. Saat itu kamu tahu, karena kejahatan Eliana, kita berdua harus terpisah dari orangtua kita. Bahkan bukan hanya itu my Al. Kamu bahkan hampir dibunuhnya ketika kamu masih kecil dulu." Deanda berkata sambi mengerjap-ngerjapkan matanya karena setiap kali dia ingat bagaimana Alvero kecil dengan tubuh penuh luka waktu itu adalah suaminya di masa depan, membuat Deanda merasa selalu was-was jika ada sesuatu yang dibicarakan tentang Eliana.


Meskipun Eliana sudah berhasil dilumpuhkan dan sekarang kondisi kejiwaannya tidaklah sehat seperti dulu, tapi Deanda yakin, selain Eliana ada orang-orang yang memiliki niat buruk terhadap suaminya yang merupakan seorang raja, meskipun Alvero mungkin bahkan tidak penah mengganggu kehidupan mereka.

__ADS_1


Orang-orang yang ingin mengeruk keuntungan pribadi, orang-orang yang memiliki dendam karena sakit hati atau kecewa pda pihak keluarga istana, atau orang lain dengan alasan dan motivasi yang berbeda-beda, tapi Deanda tahu akan selalu saja ada orang-orang jahat yang menunggu kesempatan untuk menjatuhkan kelaurga istana.


"Dengan bersatunya keluarga Carsten dan Adalvino, aku tahu ini akan membuat orang-orang tertentu seperti cacing kepanasan, karena cepat atau lambat, kejahatan mereka akan timbul di depan banyak orang. Dan aku juga sudah mewaspadai adanya pergerakan dari kelompok pengikut Eliana yang juga pasti tahu, Eliana terlibat dalam banyak kasus yang hampir melukai duke Carsten sebelumnya, yang merupakan ayah Evan." Alvero berkata pelan.


"Jika Evan masuk ke istana, berarti dia memiliki akses yang lebih luas lagi untuk melacak siapa saja orang yang dulunya pernah memburu ayahnya. Dan itu apsti menimbulkan ketakutan bagi beberapa orang yang pernah terlibat dalam kasus itu." Penjelasan Alvero membuat Deanda menahan nafasnya seketika itu juga, sehingga Alvero langsung menepuk-nepuk pipinya dengan lembut.


"Jangan menahan nafasmu. Kamu tidak perlu khawatir sweety, aku sudah mengajak Evan membicarakan tentang kasus ini. Dan percayalah, Evan merupakan sekutu paling kuat dan hebat yang sekarang kita miliki. Orang yang menyimpan kesalahan dan kelicikan mereka, pasti akan gemetar setelah mendengar berita pernikahan antara Evan dan Alaya. Tinggal menunggu waktu, maka mereka pasti akan dilibas habis oleh Evan. Karena dengan bantuan pihak istana, tidak akan ada yang bisa menghalangi Evan untuk menemukan mereka, para penjahat itu." Alvero berkata dengan sikap penuh percaya diri, membuat hati Deanda mulai tenang.


"Untuk saat ini, fokuslah pada kehamilanmu. Teruslah hidup bahagia sampai kita berdua menua bersama." Alvero mengkahiri kata-katanya sambil memeluk kepala Deanda yang sedang bersandar di bahunya.


Untuk beberapa saat baik Alvero maupun Deanda saling berdiam diri, menikmati keberadaan satu dengan yang lain, dengan sesekali Deanda sengaja mendongakkan kepalanya dan mencium leher Alvero yang setiap kali Deanda melakukan itu, dia harus menahan nafasnya kuat-kuat karena jiwa laki-lakinya yang terus terpancing dengan tindakan manja Deanda itu.


Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba Deanda terdiam, membuat Alvero langsung menggerakkan wajahnya, untuk bisa menatap wajah Deanda.


"Apalagi yang sedang kamu pikirkan sweety? Apa masih ada yang membuat pikiranmu merasa galau?" Alvero bertanya sambil mengamati wajah serius Deanda.

__ADS_1


“Tidak... aku hanya sedang memikirkan antara Evan dan Alaya. Evan yang meminta pertemuan dengan kita malam ini. Apa kira-kira Alaya akan ikut dalam pertemuan ini juga?” Deanda yang duduk di salah satu bangku yang ada di dekat kolam ikan, sambil menyandarkan tubuhnya ke bahu Alvero bertanya kepada Alvero yang sedari awal duduk di samping Deanda tadi terus sibuk mengelus-elus perut Deanda yang terlihat sudah menunjukkan tanda-tanda sebagai orang hamil, menonjol dan terasa lebih keras dari biasanya, dengan tangan kanannya.


__ADS_2