Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
DRAMA ALAYA DIMULAI


__ADS_3

“Kenapa denganmu Alaya?” Alvero langsung bertanya kepada Alaya yang jauh di sana berusaha menahan senyum gelinya melihat Alvero mulai terpancing dengan aksinya.


“Kak Alvero… sepertinya badanku demam dan… uhuk… tenggorakanku sangat sakit.” Mendengar keluhan dari Alaya, Alvero sedikit melirik ke arah Deanda yang ikut merasa penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan Alaya pada Alvero.


“Apa kamu sudah minum obat? Apa perlu dokter aku memanggil dokter istana untuk segera memeriksamu?”


“Tidak Kak… tidak perlu. Mungkin aku hanya perlu beristirahat lebih banyak dari biasanya.” Alaya langsung menolak penawaran dari Alvero, berusaha sebisa mungkin tidak menunjukkan rasa paniknya karena jika dokter benar-benar memeriksanya, kebohongannya pasti akan langsung terbongkar.


“Kalau begitu, kamu istirahat saja sekarang, jangan keluar dari kamarmu.” Alvero yang sebenarnya bisa menebak kalau Alaya sedang berpura-pura sakit, justru dengan sengaja bersikap seolah-olah tidak tahu.


“Iya Kak, aku tahu.... Tapi Kak…. Dengan kondisiku sekarang, bisakah pertemuan antara keluarga Adalvino dan keluarga Carsten ditunda untuk sementara waktu?” Pertanyaan dari Alaya membuat Alvero menahan nafasnya karena perasaan Alvero mengatakan kalau Alaya sengaja merencanakan ini untuk membuat acara besok ditunda, dan dari awal Alvero sudah menduga rencana tersembunyi Alaya tersebut.


Apalagi ketika Alvero meninggalkan istana bersama Deanda tadi pagi, setelah acara makan pagi bersama penghuni istana yang lain, Alvero melihat Alaya baik-baik saja, meskipun Alaya meminta ijin padanya untuk hari ini tidak masuk kerja.


Alvero yang awalnya berpikir bahwa Alaya sengaja ingin beristirahat sambil menyiapkan diri untuk pertemuan kedua keluarga besarnya dan Evan, tentu saja memberikan ijin tanpa berpikir bahwa ternyata Alaya justru sedang mencari cara agar acara pertemuan besok bisa dibatalkan.

__ADS_1


“Aku tahu untuk besok semua sudah dipersiapkan dengan baik oleh Kakak dan yang lain.... Tapi mana mungkin acara besok diadakan sedang pemeran utamanya sedang sakit. Hat… ching….” Dengan sengaja Alaya mengakhiri kata-katanya dengan suara bersin yang cukup keras, sampai Alvero harus sedikit menjauhkan handphonenya dari telinganya agar telinganya tidak terasa sakit.


"Alaya, mana bisa kamu meminta hal yang sudah ditetapkan untuk diubah secara tiba-tiba seperti ini?" Alvero yang sedang berada di kantornya bersama dengan Deanda langsung membalas perkataan Alaya dengan suara tetap terdengar tenang, meskipun dalam hati, Alvero hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bagaimana Alaya yang berusaha menggagalkan acara pertemuan besok.


"Kak, sekarang aku benar-benar sedang tidak enak badan." Alaya berkata dengan nada suara terdengar memelas, membuat Alvero hampir saja menepuk jidatnya karena perilaku adik perempuannya yang berusaha mengakalinya itu.


"Kalau begitu, aku akan coba bicarakan dengan duke Evan tentang kondisimu." Mendengar kata-kata yang berisi harapan seperti itu, membuat Alaya langsung membulatkan matanya, dan memasang senyum lebar-lebar di bibirnya, karena sudah mengira kalau rencananya sudah sukses besar.


"Uhuk... Terimakasih Kak Alvero... uhuk... buat pengertiannya. Tolong sampaikan permintaan maafku pada duke Evan." Alvero yang mendengar perkataan Alaya langung menyeringai karena dia kembali menemukan tanda-tanda nyata kalau Alaya sedang berpura-pura.


"Akan aku sampaikan pada duke Evan. Tunggu saja kabar dariku, kapan rencana pertemuan besok akan diubah jadwalnya, itupun kalau duke Evan setuju dengan permintaanmu. Lebih baik sekarang kamu fokus pada kesembuhanmu." Alvero kembali berkata kepada Alaya yang di tempatnya sudah bersoarak-sorak kegirangan dalam hati.


"Iya Kak.... Kalau begitu... aku akan beristirahat kembali.... Hatching!" Alaya mengakhiri panggilan teleponnya dengan Alvero dengan sebuah suara bersin yang bahkan jauh lebih kencang dari yang sebelumnya, membuat Alvero mengarahkan tinjunya ke arah laya handphonenya.


Untung saja panggilan telepon mereka hanyalah voice call, bukan video call yang mungkin bisa menunjukkan wajah.

__ADS_1


"Hah... dasar anak itu!" Alvero berkata sambil menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi yang didudukinya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi pada Alaya my Al? Apa dia sakit?" Deanda langsung bertanya begitu melihat tindakan Alvero, dan juga setelah mendengar perkataan Alvero ketika berbicara dengan Alaya di telepon tadi.


"Tepatnya berpura-pura sakit untuk menghidari acara besok, dan mengharapkan acara besok dibatalkan." Mata Deanda langsung membulat sempurna mendengar perkataan dari Alvero tentang apa yang terjadi pada Alaya.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan tentang hal itu?"


"Apalagi? Aku harus menyerahkankan kasus Alaya pada pihak yang berwenang untuk menangani kenakalan Alaya." Alvero berkata sambil membuka layar handphonenya.


"Maksudmu my Al?" Pertanyaan dari Deanda membuat Alvero kembali mengeluarkan senyuman smirk di wajahnya.


"Ya diserahkan ke siapa yang sekarang merupakan orang yang bertanggungjawab terhadap Alaya. Siapa lagi kalau bukan duke Evan?" Alvero berkata sambil mencari kontak Evan di handphonenya.


"Eh, my Al...." Deanda berkata sambil memandang ke arah Alvero, ingin sedikit memberikan pendapatnya.

__ADS_1


"Kenapa sweety, memang sudah seharusnya sekarang duke Evan yang harus menangani Alaya, karena sejak menerima rencana perjodohannya dengan Alaya, duke Evan sendiri yang meminta, kedepannya, semua hal tentang apa yang terjadi dan dilakukan oleh Alaya adalah tanggungjawabnya." Alvero berkata sambil mulai melakukan panggilan kepada Evan, untuk memberitahukan pada calon adik iparnya itu tentang apa yang terjadi pada Alaya di istana saat ini.


__ADS_2