Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MASA KECIL ALAYA (2)


__ADS_3

Para anggota gerombolannya yang lain langsung berlarian mendekat ke anak remaja asing yang baru datang itu, dan berencana mengeroyoknya.


Akan tetapi dengan gerakan cepat, anak laki-laki remaja itu langsunmg bangkit dari duduknya, dan dengan satu tangannya langung meraih salah satu tangan anak yang berencana memukulnya, dan memitingnya di belakang tubuh anak itu sendiri, lalu dengan tangannya yang lain, anak laki-laki remaja itu memukul pantat teman Alaya itu.


Setelah itu dengan gerakan cepat anak laki-laki remaja itu kembali melakukan hal yang sama dengan anak-anak yang lainnya, sehingga akhirnya emreka menangis sambil memegangi pantat mereka.


"Kalian ini, masih kecil sudah sok jago dan bisa-bisanya menindas orang yang lebih lemah." Anak laki-laki remaja itu berkata sambil menjitak salah satu kening dari anak yang tidak menangis setelah dia memukul pantatnya tapi justru menatap anak remaja itu dengan tatapan beringas, seolah-olah berniat secepat mungkin membalas apa yang sudah terjadi padanya.


Tapi setelah anak remaja itu menjitak keningnya, anak itu justru langsung menangis dengan sekeras-kerasnya, karena baginya sungguh lebih memalukan dijitak kepalanya daripada dipukul bokongnya.


"Hei! Apa yang terjadi?" Penjaga sekolah yang tiba-tiba muncul langsung berteriak dan berlari mendekat ke arah mereka.


Wajah penjaga sekolah itu terlihat panik, apalagi melihat satu anak bertubuh gempal yang duduk sambil menangis, sedang yang lain menangis sambil memegangi pantat mereka yang sakit karena baru mendapatkan pukulan.


"Dia menghajar kami tanpa alasan Pak!" Dengan liciknya salah satu dari mereka justru menuduh anak laki-laki remaja yang baru saja menghajar mereka yang berniat mengeroyoknya itu.


"Apa benar seperti itu...."


"Alaya!" Penjaga itu baru saja berniat menanyakan apa yang sebenarnya terjadi ketika terdengar sebuah teriakan menyebutkan nama Alaya.


Dari arah yang sama dengan datangnya anak laki-laki remaja tadi tampak dua orang pria dewasa dengan tubuh tegap dan gagah berjalan ke arah anak-anak itu dengan langkah terburu-buru.

__ADS_1


Salah satu dari laki-laki itu merupakan Alexis Federer, papa dari Deanda yang sejak peristiwa rencana pembunuhan Larena oleh Eliana selalu berada di sekitar Larena dan Alaya untuk melindungi mereka berdua.


Sedang laki-laki yang satunya, wajahnya sangat mirip dengan anak laki-laki remaja yang baru saja memberi pelajaran pada anak-anak nakal itu dengan memukuli pantat mereka.


Siapapun yang melihat kemiripan mereka berdua akan bisa langsung menebak kalau mereka berdua adalah pasangan ayah dan anak.


"Uncle Alexis...." Kali ini Alaya tidak bisa lagi menahan tangisnya begitu melihat kedatangan Alexis.


"Apa kamu baik-baik saja Alaya?" Alexis yang sedari awal memang memanggil Alaya dengan namanya untuk menyembunyikan status Alaya yang sebenarnya, langsung memeluk tubuh gadis kecil yang terasa begitu dingin dan menggigil itu.


"Uncle... cepat bawa Alaya pergi dari sini... selamanya.... Alaya tidak mau kembali lagi ke tempat ini...." Alaya berkata sambil menangis ketakutan dan memeluk erat tubuh Alexis yang langsung mengelus-elus punggung tubuh lemah gadis kecil itu.


"Tuan Alexis... sebaiknya segera bawa pergi putr... nona Alaya pergi dari tempat ini secepatnya, jangan sampai dia jatuh sakit karena terkena hujan. Untuk masalah di sini, biar aku yang menyelesaikannya." Seolah tahu dengan jelas siapa Alaya dan bagaimana kondisi fisik Alaya yang lemah, laki-laki yang tadi datang bersama dengan Alexis itu segera berkata pada Alexis yang langsung menganggukkan kepalanya dan dengan cepat menggendong tubuh mungil Alaya, segera membawanya pergi dari tempat itu sebelum tangis Alaya semakin yang terdengar begitu menyedihkan semakin keras.


Meskipun akhirnya mereka mendapatkan hukuman mereka, Alaya tetap bersikeras untuk pindah dari sekolah yang sudah memberikan kenangan buruk padanya.


Dan di hari pertama setelah kejadian hari itu, Alaya langsung merengek dan meminta Alexis untuk mengajarinya beladiri.


Meski Alaya tahu kalau tubuhnya tidaklah sekuat gadis seumurannya, dia tetap bersikeras dan meminta Alexis melatihnya beladiri.


Awalnya Alexis ingin menolak, tapi agar Alaya tidak patah arang, Alexis memutuskan untuk membiarkan Alaya untuk mencobanya, meskipun dengan tubuh Alaya yang lemah, Alexis tidak yakin Alaya bisa melewati semua pelatihan itu dengan baik.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya dengan tekad yang begitu besar, akhirnya Alaya berhasil membuat Alexis terheran-heran dengan hasil pelatihan beladiri Alaya, yang setiap harinya memaksakan dirinya untuk berlatih keras selama berjam-jam untuk membuat tubuhnya tidak selemah dulu lagi.


Beberapa kali Alexis sempat mencoba untuk membuat Alaya berhenti karena tidak tega melihat kondisi Alaya yang bagi Alexis sangat rapuh waktu itu, tapi Alexis akhirnya menghentikan niatnya setelah melihat tekad yang begitu besar dari Alaya untuk menguasai beladiri.


Meskipun Alaya harus berusaha sedemikian keras, membuat tubuhnya beberapa kali terjatuh, terluka dan jatuh sakit, juga seringkali mengalami kegagalan di awalnya, akhirnya Alaya berhasil menjadi murid Alexis yang bisa menguasai ilmu beladiri dengan baik.


# # # # # #


Setelah ingatan tentang masa lalunya sudah dia hentikan, Alaya tampak mengepalkan kedua tangannya, yang ada di pangkuannya.


Tapi kenapa? Kemampuanku masih jauh jika dibandingkan dengan duke Evan? Apa aku harus melatih diriku bersama dengan kak Alvero? Sayang sekali kak Deanda sedang hamil, kalau tidak, aku bisa berlatih dengannya di tempat pelatihan milik kak Alvero. Aku dengar tempat pelatihan beladiri milik kak Alvero sangat bagus dan keren. Sepertinya aku harus mencoba berlatih di tempat itu.


Alaya berkata dalam hati dengan sikap tidak terima, setelah usaha dan latihannya selama bertahun-tahun, ternyata kemarin dengan mudah Evan menahan serangan yang dia lakukan dengan tiba-tiba dan dengan gerakan yang cukup cepat, yang mungkin akan sulit untuk dilawan jika itu bukan Evan.


Aku benar-benar tidak boleh meremehkan duke Evan. Dan aku tidak boleh melawannya dengan kekuatan fisik, karena itu sepertinya akan percuma, kecuali kak Alvero yang bertanding melawan duke Evan, mungkin hasilnya akan imbang. Kira-kira apa yang bisa aku lakukan untuk bisa membuat rencana membicarakan pertunanganku batal?


Alaya masih sibuk berkata-kata dalam hati pada dirinya sendiri, ketika didengarnya sebuah suara ketukan pintu kamarnya.


Dengan gerakan cepat Alaya segera turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu kamarnya.


“Selamat pagi Putri Alaya….” Seorang pelayan langsung menyapa dan memberikan salam pernghormatan pada Alaya begitu pintu dibukakan oleh Alaya sendiri.

__ADS_1


“Maaf Tuan Putri, yang mulia Alvero berpesan agar putri segera bersiap, karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh yang mulia Alvero dengan Tuan Putri Alaya.” Alaya sedikit mengernyitkan dahinya begitu mendengar perkataan dari pelayan itu.


__ADS_2