
Evan yang mendengar komentar dari Ornado hanya bisa tersenyum kecil.
“Sebagai sahabat dekat Alvero, tentunya kamu tahu betul sifat Alvero. Tidak mau setengah-setengah saat dia ingin menunjukkan bagaimana dia memiliki kemampuan dan kekuasaan di negara ini.” Evan yang sudah hafal dengan sikap dan sifat Alvero sejak dia masih menjadi putra mahkota Gracetian membalas bisikan Ornado.
Kata-katanya pada Ornado mengingatkan dia pada peristiwa dimana coklat yang dia berikan untuk Deanda waktu itu, langsung membuat Alvero memberikan coklat dengan kemasan yang sangat mewah, yang bahkan terlihat tidak masuk akal.
Sebuah peristiwa yang waktu itu sempat diceritakan Robert kepada Evan, saudara sepupunya yang merupakan pimpinan Deanda di departemen R&D sebelum Alvero memindahkannya sebagai asisten pribadinya.
Belum lagi peristiwa penagih hutang Lilian, ibu tiri Deanda yang langsung diambil alih Alvero saat Evan ingin membantu Deanda.
Bagi Evan, dari dua peristiwa itu benar-benar terlihat jelas bagaimana kadang Alvero ingin menunjukkan pada orang lain bagaimana kaya dan berkuasanya dia dibandingkan orang lain yang ada di Gracetian ini.
“Benar sekali, dan seseorang pasti sudah sangat direpotkan dengan sikap narsis raja Gracetian yang satu itu.” Mendengar kata-kata Ornado, Evan sedikit menaikkan salah satu alisnya dengan wajah bertanya-tanya, mencoba menebak siapa orang yang dimaksudkan oleh Ornado.
“Tentu saja Deanda. Dia pasti adalah orang yang paling direpotkan oleh sifat Alvero.” Ornado berkata sambil tertawa kecil, membayangkan bagaimana di masa lalu Deanda memang seringkali harus kesulitan menghadapi tindakan dan sikap Alvero padanya.
Mendengar lanjutan dari kata-kata Ornado, Evan langsung terenyum lebar.
__ADS_1
“Tapi harus diakui, Deanda juga merupakan satu-satunya orang yang bisa menjinakkan Alvero.” Evan berkata sambil mengambil posisi duduk bersama Ornado di bagian penumpang, sedang Ernest berada di posisi sopir mobil yang akan mereka tumpangi.
“Entah bagaimana nasib Alvero kalau Tuhan tidak mempertemukannya dengan Deanda waktu itu.” Ornado berkata sambil menatap ke arah Ernest.
“Ernest kita langsung menuju tempat kediaman duke Hugo, melalui pintu gerbang depan langsung.” Ornado langsung memberikan perintahnya kepada Ernest begitu Evan sudah duduk di sampingnya.
“Baik Tuan Ornado.” Dengan sikap sigap, Ernest langsung menjawab perkataan Ornado dan mulai melajukan mobil yang dia kemudikan kea rah kediaman Hugo, sedang di belakang mereka mengikuti puluhan mobil yang mengikuti mereka.
Satu mobil yang dikendarai oleh Erich, tepat berada di depan mobil yang ditumpangi oleh Ornado dan Evan, mengawal mereka sebagai pembuka jalan.
Sedangkan Evan juga sibuk melakukan koordinasi dengan Sam untuk mendapatkan bukti-bukti tentang keterlibatan Hugo dalam peristiwa kebakaran yang terjadi di gedung teater beberapa tahun yang lalu.
# # # # # # #
Begitu mobil yang ditumpangi oleh Ornado dan Evan sudah sampai di depan pintu gerbang tempat kediaman Hugo, Evan maupun Ernest tampak terlihat bertanya-tanya, karena di bagian depan gerbang yang biasanya ada beberapa orang penjaga yang berjaga, hari ini tampak lengang.
Sejauh mata Evan dan Ernest memandang, tidak tampak satupun pengawal dari kediaman Hugo yang terlihat.
__ADS_1
Ornado sendiri masih sibuk dengan handphone di tangannya dan tidak terlalu perduli dengan situasi rumah tempat tinggal Hugo yang tampak tidak seperti biasanya.
Selain itu, beberapa kali Ornado mencoba mencari di internet info tentang sosok Hugo, mengamati wajahnya dengan baik.
Bagaimanapun, Ornado tidak ingin menjadi orang yang tidak mengenal musuhnya dengan baik, sehingga dia perlu mencari info sebanyak-banyaknya tentang Hugo.
Bahkan sampai mobil mereka berhenti di depan tempat kediaman Hugo, tidak ada satupun orang-orang Hugo yang terlihat dan berusaha mencegah mereka menerobos masuk tanpa permisi ke kediaman tuan mereka.
“Ayo kita temui duke Hugo.” Dengan sikap percaya diri namun tenang, Ornado keluar dari mobil, dan segera diikuti oleh Evan dan Ernest.
Insting Evan yang tajam, langsung merasa kalau kehadiran mereka saat ini sedang diamati oleh orang lain, sehingga dengan cepat, Evan menatap ke sekelilingnya sambil memicingkan matanya, agar matanya bisa menembus kegelapan malam, dengan tangannya yang bersiap memegang pistol yang terselip di pinggangnya dengan sikap siaga.
Dengan mata hijaunya yang terlatih melihat dalam kegelapan, Evan bisa menangkap sosok beberapa orang yang tampak bersembunyi di balik kegelapan dengan membawa senjata laras panjang mereka, yang terarah ke pintu masuk tempat kediaman Hugo, seolah bersiap menyerang siapa saja yang berniat keluar atau masuk ke rumah mewah itu.
Meski Evan tidak bisa memastikan berapa jumlah mereka, tapi Evan bisa dengan cepat menilai kalau jumlah mereka tidak sedikit, dan tersebar dalam posisi yang begitu strategis, yang memudahkan mereka untuk menyerang dia dan juga Ornado, bahkan para pengawal kerajaan yang sedang bersama dengan mereka, jika mereka lengah.
“Ornado, sepertinya kita sedang dikepung oleh orang-orang Hugo. Mereka tadi sepertinya sengaja tidak ada yang tampak menghalangi kedatangan kita, karena sudah bersiap untuk menyambut kedatangan kita.” Evan berbisik pelan kepada Ornado yang seperti tidak terpengaruh sama sekali dengan kata-kata Evan, dengan wajah dan tatapan dingin, tidak terpengaruh oleh kata-kata Evan padanya barusan.
__ADS_1