
Dan kali ini, pelayan itu benar-benar kena batunya ketika memilih Ernest sebagai korbannya, seorang pengawal pribadi Alvero yang kehebatan dan rasa awasnya tidak perlu diragukan lagi.
Matilah aku. Sepertinya Tuan Ernest benar-benar marah dan bisa membuktikan kalau semua adalah kesalahanku.
Dengan tubuh yang tiba-tiba terasa lemas, pelayan itu langsung terdiam dengan sikap pasrah.
Melihat reaksi dari pelayan itu, langsung bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi, bahwa yang bermasalah adalah pelayan wanita itu, bukannya Ernest.
"Kalau begitu, lebih baik Anda ikut kami ke ruang pusat keamanan istana." Salah satu pengawal yang bisa menangkap dengan jelas maksud Ernest langsung berkata dan memberikan perintah kepada pelayan yang tadinya berharap bisa menjadi nyonya Ernest.
# # # # # # #
Begitu mendengar cerita lengkapnya dari bibir Ernest sendiri yang menceritakannya dengan sikap canggung dan wajah merah karena malu sepanjang dia bercerita, akhirnya Alvero mengernyitkan dahinya dengan wajah seriusnya.
"Ternyata ada juga ya wanita yang berani bertindak sebodoh itu terhadap pengawal pribadiku? Apa dia tidak tahu bagaimana terlatihnya Ernest dan Erich dalam menghadapi perilaku licik para penjahat dalam segala situasi? Ck ck ck.... benar-benar... berani-beraninya berharap bisa menjebak pengawal pribadiku dengan cara serendah itu." Alvero berkata dengan seikit menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Mungkin karena dia melihat Ernest cukup lama melajang tanpa ada gadis yang pernah dekat dengannya Yang Mulia, membuat pelayan itu merasa memiliki kesempatan untuk mendekati Ernest. Siapa yang tidak tertarik melihat penampilan Ernest yang pesonanya tidak kalah dengan para pangeran Gracetian?" Perkataan Deanda yang memuji sekaligus menggodanya membuat wajah Ernest semakin memerah.
Meski Alvero langsung melirik dengan wajah terlihat sedikit memberengut ke arah Deanda karena memuji Ernest, tapi Alvero tahu kalau yang dikatakan Deanda memang benar.
Erich dan Ernest, merupakan knight yang sejak kecil sudah dilatih secara khusus untuk menjadi pengawal pribadi Alvero, sehingga banyak aturan istana, tentang kehidupan para penghuni istana yang begitu mereka ketahui dengan fasih.
Bahkan dibanding dengan para putri atau pengeran Gracetian sendiri, pengetahuan Erich dan Ernest bahkan lebih banyak dari mereka yang beberapa diantaranya justru malas untuk belajar dan mengikuti semua aturan istana dan memilih tinggal di luar istana, contohnya seperti pangeran Enzo.
Sehingga diantara para pengawal istana yang lain, selain nyonya Rose, Ernest dikenal yang paling disiplin dalam menjalankan setiap aturan ketat di istana dan paling cerewet dalam hal itu.
Dan untuk seorang Alvero yang begitu tergila-gila pada istrinya, tentu saja kebahagiaan Deanda adalah di atas segala-galanya.
“Tidak… Ernest memang sebagai pria, dia tampan, memiliki kedudukan yang lumayan di istana, dan juga punya banyak uang dibanding knight lainnya. Belum menikah juga, tidak salah kalau banyak wanita jatuh cinta padanya, asal bukan Deanda Federer.” Kata-kata di kalimat terakhir membuat Deanda tertawa geli, sedang Ernest berusaha begitu kuat menahan senyumnya agar tidak tersenyum di depan Alvero yang masih saja begitu pencemburu meskipun Deanda selalu menunjukkan rasa cintanya hanya pada Alvero.
“Jangan terlalu memuji saya Yang Mulia, nanti permaisuri bisa salah faham seperti waktu itu pada Erich.”
__ADS_1
“Eh….” Deanda langsung menoleh ke arah Ernest dengan wajah memerah malu karena kata-kata Ernest mengingatkannya pada bagaimana dia yang sempat berpikir kalau Alvero adalah penyuka sesama jenis.
Bahkan keberadaan Erich sempat membuatnya tidak percaya diri kalau Alvero benar-benar jatuh cinta padanya.
“Daripada kamu pusing melihat bagaimana tindakan para perempuan nekat yang tertarik padamu. Kenapa kamu tidak segera menikah saja? Erich juga sudah menemukan Cleosa sebagai calon istrinya. Kenapa kamu lambat sekali dibandingkan dengan Erich?” Dengan suara santai tanpa beban, Alvero langsung berkata pada Ernest yang hanya bisa tersenyum dengan wajah kikuknya.
Yang Mulia Alvero enteng sekali mengucapkan kata-kata seperti itu, mentang-mentang Yang Mulia sudah mendapatkan permaisuri Deanda. Padahal waktu itu aku dan Erich sudah seperti setrika yang kesana kemari, seperti pencuri yang dikejar polisi, harus segera menyelesaikan kekacauan yang ditimbulkan Yang Mulia dengan puluhan wanita yang berusaha didekati oleh Yang Mulia, dan tidak ada satupun yang cocok dan sesuai dengan selera Yang Mulia, sampai muncul permaisuri Deanda di kehidupan Yang Mulia.
Ernest berkata dalam hati, mengingat-ingat berbagai kejadian di amsa lalu antara Alvero dan Deanda membuatnya lega sekaligus ikut bahagia pada akhirnya Alvero menemukan belahan jiwanya.
“Menemukan gadis yang benar-benar bisa membuat hati kita bergetar tidaklah mudah Yang Mulia.” Jawaban Ernest membuat Alvero mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju, sedang Deanda langsung tersenyum mendengar itu.
“Benar Yang Mulia, kadang memang tidak semudah yang diucapkan menemukan jodoh kita. Bisa jadi waktu belum mempertemukan mereka, atau bisa jadi dia berada begitu dekat dengan kita, tapi kita belum menyadarinya.” Deanda berkata sambil melirik ke arah Alvero dengan tatapan bersyukur, dia sendiri sudah dipertemukan dengan pria yang menjadi belahan jiwanya itu.
“Benar kata permaisuri, semoga kamu segera menemukan gadis impianmu. Dan aku harap, dia benar-benar gadis yang baik dan mau mendukungmu di segala kondisi. Kamu sudah bekerja keras sebagai pengawal pribadiku. Aku akan sangat keberatan jika kamu menikah dengan gadis sembarangan. Bukan masalah asal usulnya, tapi dia harus memiliki sikap yang baik dan penuh cinta.” Alvero berkata sambil melirik ke arah Deanda, berharap semua orang-orang dekatnya bisa menemukan pasangan yang baik dan saling mencintai seperti dia dan Deanda.
__ADS_1
“Ernest….” Alvero yang sedang berbicara dengan Ernest langsung mengalihkan perhatiannya ke arah pintu masuk ruang kerja pribadinya, dimana terdengar suara ketukan yang dilakukan oleh nyonya Rose yang sedang mengantar Alaya untuk menemui Alvero.