
Baik Vincent dan Larena memilih untuk segera kembali ke istana setelah memberikan pesan-pesan panjang kepada Evan yang sekarang sudah menjadi suami Alaya, terutama pesan untuk segera memberitahukan kepada mereka jika Alaya sudah sadar kembali.
Larena memang orang yang paling ingin segera pergi meninggalkan kediaman Evan, bukan karena dia tidak senang Alaya akhirnya menikah dengan Evan, tapi karena hatinya yang masih belum bisa terima dengan kondisi Alaya yang baginya terlihat begitu menyedihkan sekaligus mengkhawatirkan, membuatnya ingin terus menangis.
Sehingga daripada merusak suasana, dia lebih memilih untuk mengajak Vincent kembali ke istana sebelum dia semakin merasa tidak bisa mengendalikan kesedihannya.
“Saya juga sudah meminta Sam untuk menyelidiki tentang hal itu, hanya saja dia belum memberitahukan info lengkapnya kepada saya, meskipu dia mengatakan bahwa dia sudah menemukan sebagian besar informasi tentang itu. Mungkin karena saya sendiri sedang sibuk akhir-akhir ini dan juga memberikan begitu banyak tugas pada Sam secara bersamaan.” Evan langsung menanggapi perkataan Alvero.
“Duke Evan, bisakah mulai sekarang kita menghilangkan formalitas kita saat tidak di depan banyak orang? Bagaimanapun, sekarang kita sah sebagai saudara ipar. Rasanya canggung sekali harus memanggilmu duke Evan.” Sebelum meneruskan pembicaraan serius mereka, Alvero segera mengungkapkan keinginannya untuk bisa bersikap lebih santai kepada Evan.
“Saya ikut saja dengan usul Yang Mulia. Apa sekarang saya harus memanggil Yang Mulia dengan sebutan kak Alvero, seperti yang dilakukan oleh Alaya biasanya?” Dengan suara terdengar ragu, akhirnya Evan bertanya kepada Alvero.
Deanda yang mendengar pertanyaan Evan, hampir saja tersedak karena kaget sekaligus geli dengan pertanyaan Evan yang masih terlihat canggung di depan Alvero, yang memang sekarang sudah berstatus sebagai kakak ipar baginya.
Aduh Evan, ternyata kamu belum benar-benar mengenal suamiku yang sekarang juga adalah kakak iparmu. Mana mau suamiku yang tampan dan sedikit narsis itu dipanggil kak olehmu yang jelas-jelas usianya lebih tua darinya.
__ADS_1
Deanda langsung menanggapi pertanyaan Evan dalam hati, tanpa berani mengucapkannya di depan Evan, apalagi Alvero.
Alvero sendiri langsung tertawa mendengar pertanyaan Evan, yang karena canggung jadi terlihat seperti seorang laki-laki muda yang terlihat polos dan tidak mengerti apa-apa di depan Alvero, padahal Evan adalah seorang duke.
Aku baru tahu sisi lain dari Evan yang ternyata bisa juga bersikap canggung seperti itu karena statusnya sebagai suami Alaya sekarang.
Alvero berkata dalam hati setelah menghentikan tawa gelinya.
Meskipun sekarang Alvero adalah kakak ipar bagi Evan, tentu saja Alvero tidak ingin disebut dengan sebutan “kak Alvero” seperti yang baru saja dikatakan oleh Evan, apalagi secara usia, Evan lebih tua dari Alvero, meskipun wajahnya terlihat begitu awet muda.
“Bukan seperti itu… aku tidak mau terlihat lebih tua darimu dengan sebutan itu. Panggil saja namaku langsung.”
“Tapi Yang Mulia….”
“Tenang saja Evan, adakalanya, kita tidak perlu mengikuti ketatnya aturan istana saat kita sedang tidak dalam situasi resmi.” Alvero langsung memotong perkataan Evan yang ingin menyampaikan protesnya pada Alvero.
__ADS_1
“Aku tahu, sebagai seorang duke, kamu sudah banyak melakukan penyamaran. Dan bukankah harus diakui bahwa itu kadang terasa begitu menyenangkan? Bisa sedikit bebas dari semua aturan istana yang mengikat?” Lanjutan dari kata-kata Alvero langsung membuat Evan tersenyum, dan mulai bisa menerima alasan kenapa Alvero ingin seperti itu.
Ternyata, seorang raja yang sedari kecil dibesarkan dengan semua aturan ketat di istana seperti yang mulia, adalakanya ingin juga untuk bisa hidup bebas seperti rakyat biasa. Pantas saja kalau yang mulia seringkali menghilang dari istana dan melakukan penyamaran sebagai rakyat biasa bersama Deanda.
Evan berkata dalam hati sambil tersenyum.
Penyamaran… benar kata yang mulia tentang itu. Terkadang aku begitu menikmati tugas penyamaran yang aku lakukan karena itu bisa memberiku kebebasan tanpa orang tahu siapa diriku, dan juga membuatku bebas untuk mengekspresikan diriku, dan juga menemukan orang-orang istimewa bagiku saat penyamaranku, termasuk bertemu dengan Alaya…. Eh… Alaya? Kenapa aku bisa berkata seperti itu?
Evan langsung termenung begitu dia sadar, kalau dia baru saja menyebutkan kaitan antara penyamarannya dengan Alaya, seolah-olah memang pernah ada kejadian antara mereka berdua saat Evan berada dalam tugas penyamarannya.
Ada sekelebat bayangan tentang peristiwa dimana seorang gadis muda yang sedang memarahinya karena seseorang yang tiba-tiba saja duduk di depannya tanpa permisi sudah membuat gadis itu salah paham padanya, dan menuduhnya melindungi pemuda itu karena mereka satu komplotan.
Hanya saja bayangan itu begitu kabur dan membuat hati Evan diliputi dengan banyak pertanyaan, yang berakhir dengan rasa sakit di kepalanya, yang membuatnya langsung menghentikan niatnya untuk berusaha mengingat-ingat tentang kejadian itu.
“Sepertinya kamu setuju dengan usulku. Diammu mau tidak mau aku artikan sebagai kesediaanmu untuk melakukan sesuai ideku, tentang bagaimana kita sebaiknya saling memanggil saat tidak dalam suasana resmi.” Tanpa meminta pendapat Evan kembali, dengan santainya Alvero langsung memutuskan, membuat Deanda yang sudah begitu mengenal sifat Alvero, hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
Ada-ada saja yang mulia ini. Mana ada yang berani menolak saran darimu. Kemarin saja ide untuk Evan menikah dengan Alaya secepatnya saja tidak bisa ditolak oleh Evan, apalagi ini hanya sekedar perintah untuk mengubah nama panggilan.
Mendengar perkataan Alvero, Evan hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa ada niat untuk menolak atau memberikan saran lain, karena Evan sendiri, masih begitu fokus dengan sakit kepala yang dialaminya barusan, yang baginya semakin hari semakin terasa aneh baginya, karena dia mulai mengamati bahwa sakit kepala itu semakin terasa sakit saat dia mengingat sesuatu yang ada kaitannya dengan Alaya di masa lalu.