Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MASA KECIL ALAYA (1)


__ADS_3

Siapapun yang melihat kondisi fisik Alaya saat itu, pasti akan berpikir kalau Alaya adalah anak yang kurang gizi, pernyakitan dan mungkin pikirannya tidak normal seperti mamanya, karena beberapa diantara mereka pernah melihat bagaimana kondisi fisik dan mental Larena, sehingga beberapa orang yang pernah melihatnya, menganggapnya sebagai wanita gila.


Dan itu menjadikan Alaya sebagai korban bullying dari teman-temannya yang menjadikan Alaya sebgai bahan olok-olok mereka.


(Bullying (dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “penindasan/risak”) merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus).


Apalagi saat itu kondisi Larena tidak memungkin dia untuk bisa menjalankan perannya sebagai seorang mama, ditambah dengan tidak adanya sosok ayah dan juga jauh dari saudara, membuat sejak kecil Alaya kekurangan kasih sayang.


Kondisi Larena dan Alexis yang memang sedang menyembunyikan identitas mereka, membuat mereka juga begitu membatasi sosialiasi mereka terhadap orang-orang yang ada di sekitar mereka, apalagi orang asing.


Hal itu membuat kondisi Alaya semakin dianggap sebagai anak yang aneh dan layak untuk dijadikan bahan bullying bagi teman-temannya yang nakal, yang bahkan beberapa diantaranya mulai menyebarkan gosip tentang keberadaan Alaya sebagai anak di luar nikah.


Dengan pendampingan dari Alexis, yang berusaha keras untuk selalu melindungi Larena dan Alaya, tetap saja tidak memungkinkan untuk dia melindungi Alaya selama 24 jam, sedangkan peristiwa-peristiwa penindasan itu terjadi tanpa sepengetahuan Alexis dan Larena.


Apalagi Alaya sengaja berdiam diri, tidak menceritakan pada Alexis, terutama pada Larena tentang apa yang dia alami.


Memang biasanya teman-teman yang membully Alaya, hampir tidak pernah membulynya secara fisik, hanya melalui kata-kata yang bernada mencemooh, merendahkan dan menghina tapi bagi anak seusia Alaya waktu itu, semua peristiwa itu sungguh sangat membekas di hatinya, meskipun Alaya yang memiliki mental yang kuat, tidak pernah sekalipun dia menangis karena tindakan teman-temannya itu.


Tidak sering, tapi beberapa kali meski Alaya sudah dewasa, dia kadang masih bermimpi dan mengingat tentang peristiwa-peristiwa di masa lalu itu.


Sebuah pertistiwa besar yang awalnya membuat Alaya benar-benar memutuskan agar dirinya berubah adalah saat dia pulang sekolah, karena Larena yang tiba-tiba pingsan, membuat Alexis sibuk mengantarnya ke rumah sakit, dan akhirnya terlambat menjemput Alaya.


Saat itu hari sudah hampir sore, dan Alaya masih menunggu kedatangan Alexis untuk menjemputnya di pintu gerbang sekolah, ketika beberapa temannya yang rumahnya ada di dekat sana berencana untuk bermain-main di daerah sekitar sekolah.

__ADS_1


Dan celakanya anak-anak yang bermain itu adalah anak-anak yang biasa membully Alaya di sekolah.


"Eh, lihat itu, kenapa anak orang gila itu masih di gerbang sekolah dengan seragam sekolah?"


"Ayo kita kesana!"


Alaya yang melihat kedatangan mereka langsung menundukkan kepala, berusaha untuk pura-pura tidak tahu dengan kedatangan mereka.


"Hei Alaya! Kenapa masih disini? Apa kamu berencana mencuri atau meletakkan jebakan di bangku kami ya?"


"Awas! Kami akan melaporkanmu pada guru agar kamu mendapatkan hukuman!"


Alaya yang sudah merasa lelah, hanya terdiam tanpa membalas sedikitpun perkataan mereka, karena baginya itu akan percuma dan membuatnya bertambah kesal.


"Kamu bisu ya? Jawab dong!" Salah seorang dari temannya itu berkata sambil menyenggol lengan Alaya dengan sedikit kasar, dan itu cukup untuk membuat Alaya terpancing emosinya.


Apalagi saat ini tiba-tiba hujan deras turun dan mengguyur tubuh kecilnya.


"Jangan menyentuhku!" Alaya berteriak sekeras yang dia mampu.


Mendengar teriakan dari Alaya yang biasanya diam membuat mereka yang menolok-oloknya sedikit terkejut.


Sebentar kemudian salah satu dari mereka berjalan mendekat ke arah Alaya, dan dengan sikap kasar mendorong tubuh Alaya yang langsung mundur dengan tubuh goyah.

__ADS_1


Dengan tubuhnya yang memang lemah, Alaya jatuh terduduk.


Dan bukannya membantu Alaya, para teman-temannya itu justru langsung tertawa melihat bagaimana Alaya yang terjatuh tanpa bisa melawan, apalagi melihat sebagian tubuh Alaya yang kotor karena terkena pasir yang bercampur dengan air hujan.


"Sudah lemah, kotor... benar-benar pantas dengan statusmu sebagai anak haram.... Sungguh menjijikkan..."


"Segera minta maaf padanya! Kalian sungguh sangat tidak sopan padanya." Tiba-tiba suara seseorang membuat anak yang sedang mengata-ngatai Alaya langsung terdiam dan menoleh.


Dari arah belakang Alaya tampak seorang anak laki-laki yang usianya lebih tua dari mereka sedang berjalan ke arah mereka dan langsung berjongkok di samping Alaya, mencoba membantu Alaya untuk bangun berdiri dan tangannya sibuk membantu membersihkan kotoran di pakaian Alaya, setelah tangannya yang satu meraih tas Alaya yang terjatuh ke tanah juga.


"Heh! Jangan sok jago meskipun kamu lebih tua dari kami!" Salah seorang dari anak-anak nakal itu, yang tubuhnya memang terlihat dua kali lipat lebih tinggi dan besar dari anak-anak seumurnya itu, seperti sosok anak sudah remaja langsung maju ke depan dan berniat menendang anak laki-laki yang baru datang dan membantu Alaya tersebut.


Mendengar teriakan anak laki-laki bertumbuh gempal, salah satu anggota dari gerombolan anak-anak nakal itu, anak laki-laki yang baru datang itu terlihat tidak peduli dan tetap fokus pada niatnya untuk membantu Alaya.


"Sial! Beraninya kamu mengabaikan kata-kataku!" Dengan gerakan sok jago anak laki-laki bertubuh tinggi besar itu langsung berjalan dengan langkah lebar ke arah Alaya dan anak laki-laki yang menolongnya.


Tanpa perduli lagi, anak laki-laki bertubuh besar itu langsung mengarahkan tendangan ke arah wajah anak laki-laki yang sedang berjongkok membantu Alaya.


Akan tertapi, tanpa menoleh dan mengelurkan suara apapun, tiba-tiba anak laki-laki itu menggerakkan tangannya ke atas, menahan tendanga itu dengan lengan tangannya, membuat teman-teman satu gerombolannya tampak ternganga heran, termasuk Alaya yang sebelumnya langsung menyembunyikan kepalanya diantara kedua lututnya dengan wajah takut begitu melihat salah satu temannya yang nakal itu menendang anak yang sedang berjongkok di sampingnya.


Dan bukan hanya itu saja yang dilakukan oleh anak laki-laki yang baru datang.


Dengan gerakan sigap dan secepat kilat, tanpa bisa ditahan apalagi dilawan oleh lawannya anak laki-laki itu langsung menggerakkan lengannya dengan gerakan memutar dan kekuatan penuh, membuat anak laki-laki bertubuh gempal itu terdorong ke belakang, dan jatuh terjengkang setelah sebelumnya menabrak tubuh beberapa temannya yang berdiri tepat di belakangnya.

__ADS_1


Melihat apa yang terjadi itu Alaya hanya bisa memandang dengan tatapan tidak percaya sekaligus kagum ke arah anak laki-laki yang terlihat tetap tenang meskipun sudah berhasil membuat anak yang tubuhnya lebih besar darinya itu jatuh tidak berdaya.


Anak laki-laki itu tidak memiliki tubuh besar dan kekar seperti lawannya, tapi tubuhnya terliaht tegap dan juga atletis.


__ADS_2