
“Eh….” Alaya yang baru saja tersadar dengan apa yang dilakukan Evan berniat melepaskan jaket milik Evan itu, tapi kedua tangan Evan segera bergerak cepat memegang erat namun tanpa menyakiti kedua bahu Alaya, menahan agar jaket itu tidak bisa dilepaskan oleh Alaya.
“Putri Alaya… aku tidak keberatan kamu tampil dengan pakaian basah yang menunjukkan bentuk tubuhmu di depanku. Tapi aku tidak rela kalau ada orang lain, terutama laki-laki lain melihat itu dan membayangkan tentang hal-hal mesum tentang calon istriku karena kondisimu saat ini yang sangat menggoda kami kaum adam.” Kata-kata Evan, yang diucapkannya dengan tenang dan senyum manis seperti biasanya, membuat Alaya langsung tersentak kaget.
Dengan gerakan cepat, kepala Alaya langsung menunduk, dengan mata yang mengamati pakaian basah yang dikenakannya, dan di bagian dadanya terlihat bayangan warna bra yang dikenakannya, yang warnanya memang kontras dengan warna tshirt tipis yang dipakainya hari ini.
Bahkan bukan hanya itu, celana jeans ketat yang dikenakannya, karena basah justru membuat bagian bawah tubuhnya juga tercetak dengan semakin jelas, untung saja jaket kulit milik Evan cukup panjang, karena tubuh Evan yang memang menjulang tinggi, sehingga jaket itu bisa menutupi sebagian dari bagian bawah pinggang dari Alaya.
Menyadari hal itu, dengan wajah memerah karena sangat malu, kedua tangan Alaya justru segera merapatkan jaket milik Evan, agar bisa menutupi bagian dada dan tubuh bagian bawahnya dengan lebih sempurna, sehingga tidak terlihat oleh orang lain, termasuk Evan sendiri, yang sebenarnya beberapa kali sudah berusaha untuk tidak melihat ke arah sana.
Tapi apa mau dikata, sebelumnya Evan sudah terlanjur melihat, bahkan merasakan bagaimana sentuhan kedua aset berharga Alaya yang tadi sempat menempel di dadanya dengan erat.
Melihat tindakan Alaya yang dengan tergesa-gesa sekarang justru menutupi tubuhnya dengan jaket miliknya, Evan hanya bisa tersenyum geli, tapi juga lega karena kali ini, Alaya kembali menurut dengan apa yang dikatakannya, tidak menunjukkan sikap menentang seperti biasanya.
Bagi Evan, bukan sekedar omong kosong, tapi dia sungguh tidak rela jika gadis yang akan menjadi istrinya itu menjadi tontonan mata banyak orang, terutama para pria yang bisa dipastikan Evan akan sibuk menelan udahnya sendiri saat melihat penampilan Alaya yang menggoda, karena dia sendiripun mengalami itu.
Sebagai pria normal, Evan sangat sadar kalau calon istrinya itu bukan hanya seorang gadis cantik dengan status sosial yang cukup tinggi, tapi juga memiliki bentuk tubuh yang proporsional dan terbentuk indah sekaligus sempurna sebagai seorang wanita dewasa.
Shiii…ittt! Kenapa pikiranku jadi terus terbayang-bayang dengan bentuk tubuh my princess? Dia benar-benar menggoda.... Sejak kapan pikiranku jadi mesum seperti ini? My princess benar-benar membuatku seperti orang gila yang berpikiran mesum.
__ADS_1
Evan langsung merutuk dalam hati, memaki dirinya sendiri karena bayangan tentang tubuh Alaya yang basah, dan juga sempat memeluknya tadi terus terbayang jelas dalam otaknya dan tidak juga mau menyingkir dari sana.
Alaya sendiri, setelah merapatkan jaket milik Evan yang dikenakannya, hanya bisa menahan nafasnya sambil melirik ke arah Alea dan Rock yang tampak berjalan bergegas ke arah Alaya dan Evan setelah mendengar pekikan kecil dari Alaya sebelum gadis itu berlari ke arah Evan dan memeluk erat tubuh atletis itu tanpa sadar.
Bau harum jaket ini… benar-benar bau harum parfum yang biasa dikenakan oleh duke Evan, seperti bau parfum yang pernah dikenakannya beberapa tahun yang lalu.
Sambil memandang ke arah Alea dan Rock yang sedang menuju ke arahnya, Alaya berkata dalam hati dengan dada yang berdebar karena keberadaan jaket yang sedang dikenakannya itu, kembali mengingatkannya tentang kenangan manisnya bersama Evan beberapa tahun yang lalu, namun juga mengingatkannya kembali pada pengkhianatan Evan padanya.
Ketika pertemuan mereka di beberapa tahun yang lalu, Alaya memang sempat mengatakan kepada Evan, bahwa dia menyukai harum parfum yang dikenakan Evan ketika pertama kalinya mereka bertemu kembali ketika Evan dalam penyamaran waktu itu.
Selama beberapa tahun ini Evan memang tidak pernah mau mengganti jenis parfum yang dikenakannya, padahal sebelum peristiwa kecelakaan itu, Evan termasuk orang yang tidak pernah fanatik terhadap satu jenis parfum.
Akan tetapi, entah kenapa, sejak kecelakaan yang membuat beberapa bagian dari ingatannya menghilang, Evan justru selalu memakai parfum itu sampai sekarang, seolah berharap ada seseorang yang mengenalinya dari aroma parfum yang dikenakannya, seseorang yang di alam bawah sadar Evan, menjadi orang yang begitu dirindukan dan dinantikan kehadirannya oleh Evan selama bertahun-tahun ini.
“Tuan Putri, apa Anda baik-baik saja?” Dengan wajah terlihat khawatir Alea segera bertanya sambil mengamati kondisi Alaya dari atas ke bawah.
Hah! Seharusnya aku memakai pakaian tebal seperti Alea, sehingga meskipun basah kuyub, pakaian itu masih bisa menutupi tubuhnya dengan begitu baik tanpa memperlihatkan jelas lekuk tubuh Alea dengan begitu jelas seperti pakaian yang dikenakannya. Aku benar-benar ceroboh.
Alaya berkata dalam hati tanpa bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja. Tadi ada seekor ular air yang merayap di kakiku, tapi sudah dilempar kembali ke sungai oleh Duke Evan.” Alaya berkata sambil menarik lengan Alea, dan dengan sengaja mengajaknya berjalan beriringan dengannya.
Alaya sengaja melakukan hal itu, agar dia tidak perlu berjalan berdampingan dengan Evan yang justru akan membuatnya canggung dan tidak nyaman.
Selagi masih bisa menghindar, coba saja untuk terus menghindar my princess. Toh pada akhirnya, seperti yang hari ini terjadi, kita tidak bisa saling menghindar, apalagi sebentar lagi kita akan menikah, dan kamu tidak akan bisa lagi menghindari pertemuan maupun hubungan diantara kita berdua setelah kita menikah.
Melihat itu, lagi-lagi Evan hanya tersenyum sambil berkata dalam hati, dengan tekad yang semakin kuat untuk menikah dengan Alaya, karena Evan sadar bahwa rasa sukanya kepada Alaya semakin hari justru terasa semakin besar dan sulit untuk dia kendalikan dengan pikiran warasnya.
Rasanya bagi Evan saat ini, jika ditanya oleh siapapun, dia akan rela melakukan apapun demi Alaya, asal gadis itu tetap berada di sisinya untuk selamanya.
Sepanjang perjalanan dari sungai Goldie Tavisha kembali ke pemukiman penduduk, Alaya hanya mengobrol dengan Alea, sedangkan Evan dengan Rock.
# # # # # #
Begitu mereka berempat kembali ke pemukiman penduduk, Sam yang pertama kalinya melihat mereka berempat langsung berjalan mendekat ke arah Evan.
“Duke Evan, pakaian Anda terlihat basah, saya akan mengambilkan pakaian ganti untuk Anda.” Tanpa menanyakan penyebab basahnya pakaian Evan di bagian dadanya, Sam segera berkata kepada Evan, dan berlarian kecil ke arah mobil yang terparkir, yang tadi dikendarainya bersama Evan, dan mengambil pakaian ganti untuk Evan, yang selalu disiapkan dengan baik oleh Sam di bagasi mobil, agar selalu siap dalam segala kondisi.
“Putri, saya akan berganti pakaian di rumah saya. Bagaimana dengan Putri? Maafkan saya karena tadi tidak membawakan pakaian ganti untuk Putri.” Alea yang memang memiliki rumah tinggal di Goldie Tavisha segera berkata kepada Alaya, meminta ijin untuk dia berganti pakaian, apalagi udara semakin terasa dingin di lingkungan sekitar Goldie Tavisha hari ini.
__ADS_1