
“Aku mau keluar istana bersama Alea, tapi para penjaga pintu mengatakan kalau Kak Alvero yang memerintahkan malam ini semua penghuni istana, termasuk para putri dan pangeran dilarang untuk meninggalkan istana.
Perkataan Alaya membuat sebuah senyum tipis terlihat di wajah Alvero.
Ternyata, kalian berdua ini benar-benar seperti dugaanku, sok terlihat kuat saling mengucapkan perpisahan, tapi sekarang sudah seperti cacing kepanasan mencari cara untuk bisa segara bertemu kembali. Siapapun dia, setinggi apapun statusnya, sebanyak apapun kekayaannya, seorang pria tidak akan sanggup jika harus jauh dari wanita yang dicintainya, kecuali dia tidak mengerti apa itu cinta.
Alvero berkata dalam hati sambil menatap ke arah Alaya dengan wajah pura-pura tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Alaya.
“Lalu kenapa dengan itu? Apa ada masalah?” Alvero bertanya sambil menatap lurus ke arah Alaya yang jadi salah tingkah dibuatnya.
“Kak, aku harus keluar membeli sesuatu untuk temanku yang sedang sakit, dan dia hanya sendirian di rumah, tidak ada orang yang bisa membantunya untuk membeli sesuatu.” Alaya berkata, berusaha mencari alasan agar Alvero mengijinkannya keluar dari istana malam ini.
Kamu ingin sedikit bermain-main denganku ya? Oke, akan aku ladeni sebelum kakakmu Deanda tahu dan pasti tidak akan membiarkanku menggodamu.
Dengan senyum licik tersungging di wajahnya, Alvero berkata dalam hati sembari menatap ke arah Alaya yang matanya tidak berani menatap langsung mata hazel milik Alvero, membuatnya terlihat dengan begitu jelas bahwa dia sedang menghindari mata hazel Alvero yang memang jeli.
“Kenapa harus repot-repot? Minta saja salah satu dari pengawal atau pelayan istana membelikannya dan mengirimkannya langsung ke rumah temanmu.” Jawaban Alvero cukup membuat Alaya sedikit menelan ludahnya tanpa dia sendiri sadari begitu merasa Alvero bukanlah orang yang mudah untuk dihadapi.
“Tapi Kak, aku juga ingin melihat seberapa parah kondisinya.” Alaya kembali mencoba menyampaikan alibinya.
“Wah… apa sebegitu parahnya? Kalau begitu aku bisa bantu untuk menghubungi rumah sakit dan mengirimkan ambulan untuknya.” Mata Alaya sedikit terbeliak mendengar respon dari Alvero terhadap apa yang dikatakannya.
__ADS_1
Apalagi Alvero langsung berjalan ke arah nakas di dekat tempat tidurnya, dan mengambil handphonenya, bersiap untuk benar-benar menghubungi rumah sakit.
“Tidak Kak! Tidak perlu! Belum separah itu.” Alaya buru-buru menyusul langkah-langkah Alvero dan mencegah kakaknya itu untuk benar-benar menghubungi rumah sakit dan memanggil ambulan.
“Sebenarnya siapa sih temanmu yang sedang sakit? Kenapa sampai membuatmu panik begitu?” Alvero berkata dengan memasang wajah seriusnya.
“Apa temanmu itu benar-benar sakit? Atau hanya sekedar sakit rindu karena kamu?” Kali ini mata Alaya langsung membulat sempurna karena melotot, dengan mulut sedikit terbuka, melongo akibat kata-kata Alvero barusan.
“Kak Alvero… ap…pa….”
“Ah, kamu ada di sini Alaya?” Suara Deanda yang menyapa Alaya spontan menghentikan niat Alaya untuk melanjutkan perkataannya kepada Alvero, dan secara otomatis menghentikan niat Alvero untuk terus menggoda Alaya.
“Sudah malam Alaya, apa ada hal penting yang mau kamu bicarakan dengan kakakmu?” Deanda kembali bertanya sambil merapikan rambutnya yang tergerai dengan jari-jari tangannya.
Sebentar kemudian Alvero menyunggingkan senyumnya, sedang Alaya tampak semakin salah tingkah dan gugup, seperti anak kecil yang sedang mengaku dosa kepada kedua orangtuanya.
“Kenapa dengan kalian berdua? Apa itu pembicaraan pribadi antara kalian berdua? Apa aku sudah mengganggu pembicaraan kalian? Kalau begitu, aku akan pergi dulu, silahkan lanjutkan pembicaraan kalian dan….” Belum lagi Deanda melanjutkan kata-katanya, Alvero dengan gerakan cepat menarik tubuh Deanda mendekat ke arahnya, memeluk pinggangnnya dengan erat, dan tanpa diduga-duga oleh Deanda, bibir Alvero langsung menyambar bibir Deanda yang langsung tersentak kaget dengan mata melotot karena tidak menyangka Alvero akan melakukan hal seperti itu di depan Alaya.
Alaya sendiri langsung sedikit memalingkan wajahnya sambil menelan ludahnya sendiri begitu melihat apa yang dilakukan Alvero barusan, yang tanpa sengaja membuat bagian kerah pakaian tidur Deanda tersingkap dan menunjukkan bekas pergulatan mereka mereka di atas tempat tidur dengan jelas meski Alaya yakin itu hanyalah sebagian saja.
Bagaimana rasanya melihat hal seperti ini Alaya? Apa itu berhasil membuatmu semakin tidak sabar untuk bertemu Evan?
__ADS_1
Alvero berkata dalam hati dengan mata melirik ke arah Alaya dan bibir yang masih menempel di bibir Deanda sedikit menyunginggkan senyum bangganya begitu melihat reaksi Alaya.
“My… Al….” Akhirnya dengan cepat Deanda mendorong tubuh Alvero agar menjauh darinya.
“Apa kamu juga ingin segera melakukannya dengan Evan, Alaya?” Pertanyaan Alvero mau tidak mau langsung membuat Alaya menoleh kembali ke arah Alvero dengan wajah heran.
“Dari… darimana Kakak tahu? Apa Evan yang sudah memberitahu Ka…”
“Cih, omong kosong macam apa itu? Mana berani Evan memberitahuku hal seperti ini. Kalian ini benar-benar mau membodohiku. Tentu saja hal sekecil ini aku bisa membaca dengan jelas dari gerak-gerik dan wajah kalian yang seperti Romeo dan Juliet, sulit untuk berpisah.” Alvero berkata sambil melirik ke arah Deanda yang segera mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Kalau memang kalian berdua sebegitu inginnya bertemu dan tinggal bersama tanpa diketahui oleh orang lain, seharusnya kalian memberitahuku dengan terus terang.” Alvero berkata tanpa melepaskan lengannya dari pinggang Deanda, meskipun dia harus merelakan menjauhkan bibirnya dari bibir Deanda untuk sementara waktu.
Paling tidak, sampai Alaya pergi meninggalkan mereka berdua kembali dan menyelesaikan urusannya dengan Evan.
“Mereka berdua bersikap sok kuat untuk hidup terpisah sementara waktu ini, padahal baru berpisah berapa jam saja mereka sudah seperti orang kehilangan seluruh hartanya, sibuk berputar-putar kesana kemari.” Alvero berkata sambil memandang ke arah Deanda yang langsung tersenyum.
“Memangnya ada yang salah tentang hal itu my Al? Mereka baru saja menikah dan menemukan kebahagiaan mereka yang sempat lama menghilang. Jangan mengganggu apalagi menghalangi mereka. Harusnya kamu berusaha membantu mereka agar kamu juga segera mendapatkan keponakan dari mereka berdua.” Kata-kata Deanda yang terdengar begitu berpihak tapi juga menggodanya, membuat wajah Alaya sedikit memerah.
“Tanpa disuruhpun sebenarnya aku sudah membuat rencana untuk mereka, hanya saja tadi ada yang berpura-pura tidak membutuhkan bantuanku.” Dengan santainya Alvero berkata dan kembali memandang ke arah Alaya.
“Kamu sebaiknya bersiap bersama Ernest. Aku sudah memintanya untuk mengantarmu ke penthouseku yang ada di gedung perkantoran Adalvino. Tinggalah di sana untuk beberapa waktu ini.”
__ADS_1
“Tapi Kak, Evan memintaku pergi ke apartemen miliknya….” Alaya yang akhirnya tidak bisa lagi berkelit tentang rencananya untuk bisa bersama Evan, langsung memotong perkataan Alvero.
“Haist! Apartemen Evan? Aku yakin semua orang sedang mengamati apartemen itu untuk mencari info tentang perkembangan hubungan kalian berdua. Turuti saja rencanaku. Pergilah ke penthouseku, karena di sana ada akses masuk yang tidak diketahui oleh banyak orang, yang bisa langsung menuju tempat parkir dan pintu masuk penghouse tanpa harus melewati pos penjagaan gedung Adalvino. Meskipun kamu harus sedikit menyamar agar tidak ada yang mengenalimu.” Alvero berkata sambil memandang ke arah Alaya yang sedang menatapnya dengan pandangan tidak percayanya kepada Alvero yang ternyata sudah menyiapkan rencana untuknya dan Evan agar bisa bersama.