Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
BERKAS YANG MEREPOTKAN


__ADS_3

Tapi apadaya, perintah Hugo sebgai pimpinannya adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan oleh Elio, sehingga Elio memilih untuk buru-buru menundukkan wajahnya, menatap kea rah lantai agar Hugo tidak bisa melihat ekspresi wajah kaget dan sedikit penolakan darinya barusan.


“Baik Duke Hugo.” Degan suara tegas dan sikap sebiasa mungkin, Elio menjawab perintah dari Hugo yang langsung tersenyum.


Jangan dipikir, kamu bisa mengalahkanku dengan mudah duke Evan. Aku tidak akan membiarkanmu menang untuk kasus ini.


Hugo berkata dalam hati dengan sikap puas, merasa sudah menemukan cara terbaik untuk menghindari sergapan dari Evan.


“Aku akan ikut pergi bersamamu. Jika kamu pergi sendiri dan langsung ke rumahmu, orang bisa curiga, karena kamu tidak ada ijin keluar hari ini, sedang aku masih di kantor. Jadi lebih baik, anta raku pulang, setelah itu kamu bisa pulang ke rumah. Anggap saja hari ini kita berdua pulang lebih cepat dari biasanya.” Hugo berkata sambil berjalan kembali ke arah meja kerjanya, mengambil jas yang tadi dia lepas dan sarungkan di bagian sandaran kursi kerjanya.


“Baik Duke Hugo.” Lagi-lagi Elio hanya bisa mengiyakan kata-kata dari Hugo tanpa berusaha untuk membantahnya sama sekali.


"Kita pergi sekarang...." Hugo berkata sambil melangkah dengan cepat, mendahului Elio yang langsung menyusul di belakangnya sambil menarik koper berisi berkas-berkas penting milik Hugo.


"Selamat siang Duke Hugo." Salah seorang pegawai kantor gubernur yang dia tempati menyapa Hugo dengan sikap hormat.


"Selamat siang...." Hugo langsung membalas sapaan dari pegawai yang sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Hugo, dengan amta yang sedikit melirik dengan wajah penasaran ke arah tas koper yang sedang diseret oleh Elio.


"Ehem...." Tatapan dengan penuh rasa penasaran itu membuat Hugo berdehem cukup keras, membuat mau tidak mau pegawai itu segera menjauhkan matanya dari koper itu, setelah sebelumnya, tubuhnya sedikit tersentak kaget karena deheman Hugo.

__ADS_1


"Ah ya, beritahukan kepada bagian front office, hari ini aku akan pulang cepat, karena ada acara penting yang harus aku hadiri nanti malam." Hugo yang bersiap melangkah pergi kembali tiba-tiba memberikan info kepada pegawai tersebut.


"Baik Duke Hugo, akan saya sampaikan kepada yang lain."


"Oke, aku pergi dulu bersama Elio untuk mempersiapkan diri." Hugo berkata sambil memberi tanda kepada Elio agar cepat mengikuti langkah-langkah lebarnya sebelum pegawai itu berpikir yang lain.


Aku harus menyembunyikan semua berkas penting ini dimana? Kalau aku benar-benar menyimpannya di dalam rumahku, aku khawatir orang-orang rumahku yang merasa penasaran bisa jadi akan membongkarnya. Dan jika hal itu terjadi, akan menjadi masalah besar untukku. Bukan hanya karir dan pekerjaan yang dipertaruhkan, tapi juga nyawaku.


Elio berkata dalam hati, mencoba mempertimbangkan dimana dia harus menyimpan koper itu, apakah tetap di rumahnya seperti permintaan Hugo, atau di tempat lain.


Jika secara diam-diam aku memindahkannya, menyimpannya di tempat lain, apa kira-kira akan lebih aman untuk semuanya? Bagiku, terutama bagi duke Hugo?


Dengan berusaha untuk tetap fokus pada kemudinya, Elio terus memikirkan tentang berkas-berkas itu, sampai tanpa terasa mereka sudah sampai di kediaman Hugo.


Begitu menghentikan mobilnya, dengan cepat Elio keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Hugo yang langsung turun dari mobil sambil memasangkan kembali kancing jas yang dikenakannnya.


“Tidak perlu mengantarku sampai dalam. Segera selesaikan urusanmu dengan berkas-berkas itu.” Hugo berkata sambil berjalan menuju rumahnya tanpa menoleh ke arah Elio sama sekali.


Tapi baru dua langkah Hugo melangkah dengan Elio yang sudah bersiap untuk kembali masuk ke dalam mobil, Hugo tiba-tiba kembali menoleh ke belakang.

__ADS_1


“Oh ya Elio!” Elio yang mendengar panggilan dari Hugo langsung menoleh ke arah Hugo dengan sikap sigap.


“Jangan lupa kirimkan video tempat dimana kamu menyimpan berkas-berkas itu dalam rumahmu. Supaya kamu juga tidak lupa posisi dimana kamu menempatkannya.” Seolah baru terpikirkan oleh Hugo, laki-laki itu meminta info tentang posisi dimana nantinya Elio akan menyimpan berkas-berkas itu.


“Baik Duke Hugo.” Dengan sikap tegas seperti biasanya, Elio langsung menjawab perkataan Hugo, sebelum akhirnya Hugo bener-benar pergi untuk memasuki rumahnya, sedang Elio kembali ke rumahnya sendiri.


# # # # # # #


“Eh?” Wajah Evan terlihat sedikit kaget begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Alaya tentang rencana kedatangan Ornado dan rombongannya ke penthouse untuk menemui mereka besok pagi.


Alaya memang sedari siang, sejak mendengar berita itu, tidak langsung memberitahukannya kepada Evan, karena dia sendiri merasa tidak tenang dengan berita itu.


Setelah lama berkutat dengan pikirannya yang sibuk karena memikirkan bagaimana cara menghindari, atau paling tidak menunda kedatangan para tamu penting itu ke penthouse, akhirnya karena tidak dapat memikirkan jalan keluarnya Alaya menyampaikan berita itu juga kepada Evan.


Evan yang semenjak nyonya Rose mengirim makanan ke dalam kamar mereka tadi siang, memang melihat Alaya yang terlihat gelisah, sampai makanan yang biasa begitu menggugah selera makan Alaya, Alaya terlihat tidak terlalu bersemangat seperti biasanya.


“Jadi itu yang membuatmu merasa gelisah semenjak tadi siang?” Alaya langsung mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Evan.


“Memang kenapa kalau mereka datang? Bukannya itu justru kabar gembira? Bisa bertemu dengan orang-orang yang dekat dengamu? Aku yakin mereka juga ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kita.” Evan berkata sambil tersenyum, sedang mata Alaya langsung melotor melihat bagaimana tenangnya Evan saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2