Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
TETAP CALON TERBAIK UNTUK ALAYA


__ADS_3

“Begitu mendengar kabar dari permaisuri tentang kondisi Alaya setelah permaisuri mendapatkan telepon dari tuan Alexis, aku segera menghubungi tuan Alexis….” Alvero menghentikan perkataannya sejenak, karena ingatan tentang semua penjelasan Alexis tentang Alaya tadi benar-benar membuatnya khawatir.


“Karena itu aku sengaja membuka acara afternoon tea agar semua orang tidak merasa gusar dan bertanya-tanya. Setelah itu aku langsung berpamitan kepada mereka dan mengatakan kalau ada hal penting yang harus segera aku tangani.” Penjelasan dari Alvero membuat apa yang dipertanyakan Evan dalam hati langsung terjawab.


“Aku sungguh berterimakasih atas tindakan cepat Duke Evan pada Alaya. Akan tetapi, kenapa Duke Evan tidak membawa Alaya langsung ke istana atau rumah sakit? Apa karena takut kondisi Alaya akan menjadi pembicaraan banyak orang dan akan timbul pemberitaan aneh tentang hubungan kalian berdua?” Pertanyaan Alvero membuat Evan yang memang memikirkan tentang hal itu langsung menganggukkan kepalanya.


“Aku sangat setuju dengan pemikiran Duke Evan. Akan tetapi, sebelum kalian berdua menikah, sebagai kakak kandung Alaya, aku masih bertanggungjawab penuh terhadap Alayam, mewakili yang mulia Vincent dan ibu suri Larena.” Alvero mengakhiri perkataannya dengan menghela nafas panjang.


“Alergi Alaya tidak bisa dianggap remeh, dan itu pasti akan menimbulkan kekhawatiran besar pada ibu suri Larena. Karena itu, sampai saat ini, aku belum memberitahukan tentang kejadian ini pada ibu suri. Aku takut dia akan terpukul kalau sampai mendengar hal ini. Aku harus mengatakannya pelan-pelan agar dia tidak kaget.” Alvero berkata sambil melirik ke arah Deanda yang lebih banyak diam, karena jika saja diijinkan, rasanya Deanda ingin segera bertemu dengan Alaya dan melihat keadaannya.


Tapi Deanda sadar dia harus bisa menahan dirinya dengan baik. Setelah menjadi istri Alvero dan belajar banyak tentang tata cara hidup di istana sebagai kaum bangsawan, Deanda sadar dia tidak bisa lagi bersikap seenaknya seperti dulu, saat dia masih berstatus sebagai rakyat biasa.


Dengan posisinya sebagai permaisuri Gracetian sekarang, mau tidak mau sikap dan bagaimana cara dia berkata-kata semuanya harus bisa dia tata dengan baik.

__ADS_1


Awalnya bagi Deanda hal itu terasa begitu berat. Akan tetapi karena begitu besarnya cinta wanita itu pada suaminya Alvero, lama kelamaan, Deanda mulai terbiasa dan tidak menjadikan hal itu sebagai beban.


Bahkan dengan adaptasi yang dilakukan oleh Deanda dengan waktu yang begitu singkat itu, seringkali Alvero menggoda Deanda, bahwa Deanda sepertinya memang dilahirkan untuk menjadi seorang bangsawan, sehingga dengan cepat bisa belajar hidup seperti para bangsawan tanpa kesulitan.


“Duke Evan, sepertinya permaisuri ingin segera melihat kondisi Alaya. Bisakah permaisuri lebih dahulu melihat ke sana meskipun dokter masih melakukan pemeriksaan?” Dan seolah bisa membaca dan mengerti jelas dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Deanda, Alvero tiba-tiba saja angkat bicara tentang keinginan Deanda untuk pergi melihat Alaya terlebih dahulu.


Yang mulia… kamu benar-benar…. Ah, aku tidak tahu harus berkata apa tentangmu. Aku selalu kehabisan kata-kata jika itu tentang bagaimana mengagumkannya dirimu, tapi kamu benar-benar suami yang begitu baik dan pengertian. Laki-laki terbaik di hidupku.


“Ah, ya… tentu saja bisa Yang Mulia. Aku akan mengantarkan….” Evan menghentikan kata-katanya begitu melihat sosok Danella yang berjalan ke arah mereka.


“Duchess Danella bisa mengantarkan permaisuri ke sana Yang Mulia…..” Evan segera meralat kata-katanya, karena bagaimanapun, Evan masih saja bisa melihat tatapan mata cemburu dari seorang Alvero, jika dia terlalu dekat dengan Deanda.


“Oh, bagus Duke Evan, biarkan duchess Danella yang menemani permaisuri dan kita bisa mengobrol sambil menunggu mereka kembali ke sini.” Dengan tatapan mata terlihat lega dan wajah senang, Alvero segera menanggapi perkataan Evan yang hanya bisa tersenyum melihat hal itu.

__ADS_1


“Sweety, pergilah bersama duchess Danella, aku akan membicarakan hal penting lainnya bersama dengan duke Evan.” Alvero berbisik pelan ke arah Deanda yang langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya begitu mendengar perkataan Alvero padanya.


Karena selain alasan Alvero memang tidak ingin Evan yang mengantar Deanda melihat keadaan Alaya, Alvero memang ingin membicarakan tentang hasil pembicaraan masalah pertemuan Evan hari ini di Goldie Tavisha bersama Red dan Alexis tadi siang.


“Mari Permaisuri Deanda, silahkan mengikuti saya.” Dengan sikap hormat Danella mempersilahkan Deanda untuk mengikutinya, menuju kamar Evan untuk melihat Alaya.


Meskipun hubungan mereka sebanarnya sangat dekat, tapi di depan banyak orang, Danella selalu saja tetap menjaga sopan santun sikapnya terhadap wanita nomer satu di Gracetian itu, memperlakukan Deanda dengan begitu hormat selayaknya seorang permaisuri yang memang harus dia hormati.


“Aku sungguh tidak menyangka kalau Duke Evan bertemu dengan Alaya di Goldie Tavisha dan berakhir seperti ini. Adikku itu benar-benar merepotkan. Sepertinya Duke Evan harus banyak bersabar menghadapi Alaya. Aku harap Duke Evan benar-benar bisa bersabar dengan semua tentang Alaya, baik perilakunya yang sembrono dengan semua akibatnya.” Alvero berkata sambil memandang ke arah Evan.


“Sejak awal saya sudah menyiapkan diri untuk itu Yang Mulia, karena saya tahu bagaimana sifat putri Alaya itu. Yang Mulia tidak perlu khawatir tentang hal itu. Saya akan tetap menjaga putri Alaya dalam kondisi apapun.” Jawaban dari Evan membuat Alvero tersenyum dengan wajah leganya.


“Aku senang sekali mendengar itu Duke Evan. Memilihmu sebagai calon suami terbaik bagi Alaya, adalah keputusan yang sangat tepat.” Tanpa ragu-ragu, Alvero memuji Evan yang langsung menanggapinya dengan sebuah anggukan kepala pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2