
Bagi orang lain melihat sosok Evan mungkin seperti melihat seorang malaikat tampan.
Akan tetapi bagi Alaya, melihat Evan sudah seperti melihat hantu yang menyeramkan baginya.
What? Apa aku tidak salah lihat? Duke Evan? Apa benar itu adalah duke Evan? Apa ini suatu kebetulan? Kenapa ada kebetulan yang aneh begini di dunia ini? Kenapa keberuntungan secara tiba-tiba langsung menjauh dariku kalau berhubungan dengan laki-laki pengkhianat itu?
Alaya mengomel dalam hati begitu dirinya bisa memastikan kalau dua orang yang sedang berjalan ke arahnya saat ini salah satunya adalah Evan.
Kenapa hidupku jadi selalu sial gara-gara bertemu lagi dengan duke Gracetian yang satu itu? Niat hati menjauhkan diri dari sosoknya, justru sekarang dia muncul tanpa diduga-duga. Hah, belum lagi kondisiku sekarang sedang basah kuyub, tidak mungkin aku melarikan diri darinya dengan alasan ingin langsung pulang ke istana.
Alaya mengeluh dalam hati sambil melirik ke arah Alea yang justru tampak tersenyum karena melihat kehadiran si jantung hati, Rock yang matanya juga tidak mau lepas dari sosok Alea.
"Putri, ada duke Evan... kita harus segera naik ke pinggiran sungai dan memberikan salam penghormatan pada beliau." Alea berbisik pelan ke arah Alaya begitu dilihatnya Alaya tidak bergerak, terlihat jelas tidak berniat untuk keluar dari sungai.
"Tidak mau. Ini Goldie Tavisha, bukan istana Gracetian dimana kita harus memberi hormat pada orang dengan status kebangsawanan yang lebih tinggi dari kita." Alaya memberikan tanggapan dengan suara berbisik, agar Evan dan Rock yang sedang berdiri di pinggiran sungai, dengan jarak yang cukup jauh dari tempat Alaya sekarang tidak bisa mendengar apa yang dia katakan pada Alea.
"Aduh... ada-ada saja Putri Alaya ini. Goldie Tavisha juga bagian dari kerajaan Gracetian, mana ada perbedaan aturan antara di istana dan di sini?" Alea langsung menyangkal kata-kata Alaya yang langsung meringis.
"Alea, temukan ide agar duke Evan menyingkir dari tempat ini secepatnya." Permintaan Alaya membuat Alea langsung melotot.
__ADS_1
"Maaf Putri Alaya. Aku tidak bisa Putri. Aku tidak ada ide sama sekali. Kalau Putri tidak mau keluar dari sungai sekarang, aku tetap akan keluar. Udara sudah mulai dingin, aku sudah tidak tahan harus berendam di air sungai ini." Alea yang memang sudah mulai menggigil karena kedinginan, berkata sambil berjalan ke arah pinggiran sungai, menjauhi sosok Alaya yang kaget melihat Alea yang baginya begitu tega meninggalkannya di tengah-tengah sungai sendirian, dengan sosok Evan yang sedang memandanginya.
Meskipun Evan masih diam berdiri di pinggiran sungai sambil melihat ke arahnya tanpa mengatakan apapun, memanggil atau berteriak padanya agar keluar dari sungai, tapi rasa canggung tetap saja dirasakan oleh Alaya yang sebenarnya tidak ingin melihat Evan saat ini.
Bagaimana ini? Ah, lebih baik aku juga keluar dari sungai, tapi tidak berjalan ke arah duke Evan. Aku akan pergi agar menjauh dari tempatnya berdiri, agar tidak terlihat seolah-olah aku menyambut kedatangannya di sini.
Alaya berkata dalam hati sambil mulai melangkah menjauh ke arah timur.
Sungai Goldie Tavisha membentang dari arah timur ke barat, dan saat ini, Evan bersama Rock sedang berdiri di sisi utara yang merupakan pinggiran sungai.
Jika Alaya ingin keluar dari sungai sekarang, seharusnya dia langsung berjalan ke arah utara, akan tetapi untuk menghindari dia bertemu langsung dengan Evan, Alaya memilih untuk berjalan ke arah timur cukup jauh, baru setelah itu dia berencana ke arah utara, keluar dari sungai tanpa harus berpapasan dengan Evan.
Akan tetapi, tanpa disangka oleh Alaya, Evan yang awalnya diam berdiri di tempatnya, di sisi utara sungai Goldie Tavisha, begitu melihat Alaya melangkah ke arah timur dengan tubuh masih terendam di dalam air, Evan ikut berjalan menyusuri pinggiran sungai ke arah timur.
Sebelumnya, Alaya sempat berpikir bahwa Evan tidak berniat mengikutinya, hanya sekedar berjalan melihat-lihat tempat sekitar sungai Goldie Tavisha yang memang terlihat indah.
Akan tetapi Alaya langsung yakin bahwa Evan memang mengkutinya dari cara berjalan Evan.
Saat Alaya berjalan, Evan akan ikut berjalan, meski posisi mereka tidak benar-benar berdampingan, hanya sejajar dalam jarak yang cukup jauh.
__ADS_1
Dan ketika Alaya berpura-pura menghentikan gerakan kakinya ke arah timur, ternyata Evan juga akan ikut menghentikan langkah-langkah kakinya.
Beberapa kali Alaya mencoba melakukan itu, berjalan, berhenti, berjalan, berhenti, begitu seterusnya, dan Evan terus saja mengikuti itu sehignga Alaya semakin yakin kalau Evan memang benar-benar sengaja ingin mengikutinya.
Apa-apaan itu? Kenapa duke Evan mengikutiku berjalan ke arah timur? Bisa-bisanya dia mengikutiku. Kenapa kelakuan duke Evan ini sangat menyebalkan? Apa dia tidak tahu aku memang sengaja ingin menghindarinya. Tapi kenapa dia bersikap masa bodoh dan justru mengikutiku seperti itu? Keras kepala sekali! Benar-benar tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Alaya berkata dalam hati setelah sempat melotot karena kaget sekaligus kesal dengan tindakan Evan yang mengikutinya.
Akhirnya dengan wajah kesal dan marah, Alaya menggerakkan tubuhnya ke arah utara, dan berjalan dengan sikap bergegas ke arah utara, sengaja berjalan ke arah Evan, bersiap untuk mengomeli laki-laki tampan itu dengan tindakannnya yang bagi Alaya seperti mengejek dirinya.
Melihat Alaya yang melangkah ke arahnya, Evan sendiri segera menghentikan gerakan kakinya dan menggerakkan tubuh tubuhnya ke arah selatan, dan menatap ke arah Alaya, dengan sikap sedang menunggu Alaya mendekat ke arahnya, membuat Alaya semakin kesal dan berniat untuk langsung naik ke pinggiran sungai dan mengomeli laki-laki tampan itu.
Evan sendiri, begitu melihat Alaya dengan pakaiannya yang benar-benar sudah basah kuyub (sehingga menempel ke tubuhnya) berjalan mendekat ke arahnya, langsung menelan ludahnya dengan begitu susah payah begitu melihat sosok cantik itu semakin mendekat ke arahnya dengan kondisi yang terlihat begitu menggoda bagi Evan itu.
Dengan tshirt dan celana jeans yang tadi sudah ditarik Alaya sampai sebatas lutut, memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus, dan tubuh yang basah kuyub sampai ke rambutnya, membuat penampilan Alaya terlihat begitu menarik dan menggoda bagi Evan.
Tetesan air yang menetes dari tubuh Alaya yang mengenakan tshirt yang mau tidak mau terlihat begitu melekat erat di tubuh Alaya sehingga menunjukkan lekuk tubuh Alaya yang indah karena kondisinya yang benar-benar basah kuyub, membuat pikiran Evan menjadi sedikit liar, dengan membayangkan alangkah indahnya kesempurnaan pahatan Tuhan pada tubuh gadis di depannya yang baginya begitu cantik bak dewi yang turun dari khayangan itu di balik pakaian yang dikenakannya itu.
Mau tidak mau dada Evan langsung berdetak dengan begitu kencang begitu melihat pemandangan di depannya saat ini, tanpa pemilik tubuh yang saat ini terlihat begitu menggoda itu sadar bahwa kondisinya saat ini sudah begitu membuat Evan kelimpungan sendiri menahan jiwa laki-lakinya yang terbangun dari tidurnya.
__ADS_1