
E…Evan… duke Evan… sedang ada di front office sekarang ini?
Dengan sikap gugup, Alaya berkata dalam hati, menyebutkan nama Evan dengan terbata-bata meski hanya dalam hati.
Memang sejak beberapa hari ini, Alaya sedang menunggu kedatangan Evan untuk bisa melaksanakan ide gilanya terhadap Evan.
Tapi tanpa disangka, begitu yang ditunggu-tunggu benar-benar hadir, justru membuat Alaya jadi tidak percaya diri dan salah tingkah juga menjadi begitu gugup, dan otaknya menjadi tumpul dengan tiba-tiba.
Hal itu membuat Alaya terdiam seribu bahasa untuk beberapa saat, dan sibuk dengan pikirannya sendiri yang kesana kemari tidak jelas, dan itu membuat Sophia jadi ikut tegang.
“Putri Alaya… bagaimana? Apa yang harus saya sampaikan kepada duke Evan? Apa saya bisa mengantar duke Evan kesana? Sophia bertanya sambil melirik ke arah Evan yang sedang duduk di sofa ruang tunggu front office dengan wajah bingung, takut kalau Evan tiba-tiba mendekat dan menanyakan kapan dia bisa menemui Alaya.
Karena bagaimanapun, Evan adalah seorang duke, yang posisinya tidak bisa dianggap remeh karena berada di bawah Alvero langsung sebagai raja Gracetian, dan penguasa dalam ranah kemiliteran Gracetian, sehingga dengan kekuasaannya, sebenarnya bisa saja Evan langsung meminta untuk diantarkan ke kamar tempat Alaya menginap, tanpa harus meminta ijin kepada Sophia, bahkan manager hotel ini.
Semoga Putri Alaya tidak menolak kunjungan duke Evan, atau aku akan dalam masalah. Tapi rasanya tidak mungkin putri Alaya menolak kehadiran duke Evan sebagai calon suaminya, kecuali pemberitaan di medsos tentang mereka yang sebenarnya dipaksa menikah benar adanya.
Dengan dada ikut berdebar-debar, Sophia menantikan jawaban Alaya, berharap Alaya tidak menolak kehadiran Evan sehingga dia tidak perlu bingung memikirkan cara menyampaikan penolakan itu kepada Evan.
“Baik… tolong katakan pada duke Evan, aku butuh waktu 10 menit untuk berganti pakaian. Mohon dia mau menunggu sebentar.” Akhirnya Alaya berusaha mengatakan jawabannya dengan sikap setenang mungkin, meskipun saat ini lututnya terasa bergetar karena membayangkan tentang rencananya terhadap Evan yang akan dia laksanakan sebentar lagi.
Huft…
Akhirnya Sophia langsung menarik nafas lega meskipun hanya dalam hati, tidak ingin Alaya mendengarnya.
__ADS_1
Begitu Alaya memutus panggilan telepon dengannya, dengan bergegas, Sophia mendekat ke arah Evan yang terlihat serius mengamati layar handphonenya.
“Permisi Duke Evan….” Dengan suara sopan dan sikap hormat, sambil membungkukkan tubuhnya, Sophia berkata kepada Evan yang langsung menoleh dengan sedikit mendongak sambil tersenyum.
Aduh… senyum duke Evan benar-benar manis…. Beruntungnya putri Alaya memiliki calon suami seperti duke Evan ini. Tampan, atletis, berpengaruh, kaya raya, tidak pernah terlibat skandal apapun.
Sophia berkata dalam hati sambil berusaha menahan dirinya agar tidak menelan ludahnya sendiri karena begitu terpesona dengan sosok Evan.
“Duke Evan, Putri Alaya mengatakan bahwa dia meminta waktu 10 menit untuk bisa berganti pakaian terlebih dahulu.” Perkataan Sophia disambut dengan senyum sekaligus anggukan kepala dari Evan.
“Baik, aku akan menunggunya di sini.” Evan langsung menanggapi perkataan Sophia sambil melirik ke arah pergelangan tangannya, dimana sebuah jam tangan melingkar di sana.
“Kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu Duke Evan.” Sophia segera berpamitan untuk bertugas kembali, sebelum dirinya semakin tidak bisa mengendalikan diri mengagumi sosok Evan, yang adalah laki-laki yang tidak mungkin didekatinya.
“Terimakasih.” Evan berkata sambil sedikit menganggukkan kepalaya, untuk membalas sikap hormat Sophia.
Evan berkata dalam hati sambil sedikit menarik nafas lega, dengan hati yang berdebar-debar karena sebentar lagi, dia bisa bertemu lagi dengan sosok istri yang sudah beberapa malam ini selalu menghiasi mimpi-mimpinya, membuatnya semakin tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Alaya, apalagi begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Alaya tentang hubungan dia dan Alaya di masa lalu.
Meskipun Evan adalah orang yang tenang, tapi kali ini kegugupan karena akan bertemu dengan gadis tercintanya, tidak bisa dikendalikan lagi oleh Evan.
Beberapa kali saat menunggu, Evan tampak gelisah, dan terlihat jelas dari cara dia membenarkan posisi duduknya hingga beberapa kali dalam hitungan menit.
# # # # # #
__ADS_1
“Akh!” Alaya sedikit berteriak sambil mengacak rambutnya, lalu berjalan kesana kemari bolak-balik seperti orang bingung.
“Bagaimana ini… bagaimana? Duke Evan sudah datang kesini, dan ini satu-satunya kesempatanku, karena aku ingin hari ini untuk terkahir kalinya bertemu dengan duke Evan. Rencanaku harus sukses.” Alaya berkata sambil menoleh ke sana kemari, memandang ke sekelilingnya.
“Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Aduh….” Alaya kembali berkata dambil memegang dadanya yang berdebar hebat, karena begitu gugup, mengingat dia akan melakukan hal yang sebenarnya baginya akan sangat memalukan baginya, tapi dia sungguh berharap rencananya akan berhasil membuat Evan jijik dan mundur dari rencana pernikahan mereka.
“Ah… sebaiknya aku menyalakan televisi untuk mengurangi rasa gugupku.” Alaya bergumam pelan sambil meraih remote telvisi, menyalakannya, dan sengaja mencari chanel televisi yang menayangkan program berita.
“Eh… sepertinya tidak cocok.” Begitu tersadar, Alaya langsung memindahkan channel dengan program hiburan yang membuatnya lebih rileks.
“Hahhh….” Setelah itu sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan cukup keras dari sela-sela bibirnya, Alaya berjalan ke arah lemari pakaian, dimana beberapa lingerie yang dia pesan dari butik tergantung di sana.
“Aduh…. Apa aku harus benar-benar mengenakan pakaian haram ini? Tapi aktingku pasti tidak akan meyakinkan kalau tidak mengenakan ini.” Alaya berkata dengan sikap ragu, dan tangannya bergerak pelan untuk mengambil salah satu dari lingerie yang sudah dia pilih sebelumnya.
Model lingerie yang paling tertutup menurutnya, meskipun dia tahu bagi kaum adam, pastinya lingerie itu tetap saja akan terlihat seksi.
Meskipun dengan gerakan ragu dan pelan, akhirnya Alaya mengganti pakaian santainya dengan lingerie berwarna cerah, yang secara otomatis membuat penampilannya terlihat begitu menggoda, karena lingerie itu menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah.
Meskipun lingerie yang dipilih oleh Alaya lebih tertutup dibandingkan dengan yang lain, yang benar-benar menerawang dan menunjukkan dengan jelas pakaian dalam yang dikenakannya, akan tetapi meski sedikit tertutup, lingerie yang dikenakan oleh Alaya sekarang membuat orang yang melihatnya bisa membayangkan keindahan pemilik tubuh di balik selembar kain tipis itu.
Apalagi warna putih dari kulit Alaya yang dipadukan dengan lingerie berwarna cerah itu, justru terlihat menambah pesona seorang Alaya.
“Aduh….” Alaya yang menyempatkan diri untuk mengecek penampilannya di depan kaca terlihat sibuk menarik[narik lingerie yang dikenakannya agar lebih menutupi bagian pahanya yang putih mulus, dan juga dadanya yang menonjol, meskipun apa yang dilakukan Alaya, tentu saja percuma.
__ADS_1
Dengan kain seminim itu, tentu saja tubuh Alaya tidak bisa tertutup sempurna, dan tetap terekspos juga.
“Rencanaku harus berhasil. Susah payah aku menahan malu, harus berhasil. Dan semoga duke Evan tidak menceritakan hal memalukan ini pada kak Alvero atau aku akan habis dimarahi oleh kak Alvero karena berani berbuat seperti ini.” Alaya berkata sambil menahan nafasnya cukup lama, berusaha untuk mengumpulkan kekuatan dan keberaniannya menghadapi Evan, sebelum akhirnya dia meraih gagang telepon untuk memberitahukan kepada pihak front office bahwa dia sudah siap menerima kedatangan Evan sekarang.