Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN MALAM


__ADS_3

Deanda masih ingat bagaimana Alvero yang pernah dengan sengaja memberikan coklat dengan kemasan yang begitu mewah untuk menyaingi coklat pemberian Evan waktu itu.


Setelah Alvero menceritakan tentang bagaimana dia pernah menolak permintaan Evan untuk diijinkan dekat dengannya, Deanda semakin sadar bagaimana pencemburnya seorang Alvero pada Evan.


Dan jika Deanda mengingat semua kejadian di masa lalu antara dia dan Alvero, Deanda sadar, Alvero selalu cemburu pada setiap ellaki yang terlihat dekat dengannya.


Bukan sekedar pada Evan saja, tapi rasa cemburu Alvero termasuk kepada Lionel, dan juga almarhum Dion yang jelas-jelas dari awal, Deanda tidak pernah menanggapi Dion yang seringkali mencari kesempatan untuk mendekati Deanda.


"Kamu tahu bukan itu maksudku sweety...." Dengan nada ragu Alvero berkata, lagi-lagi... suatu hal yang hanya bisa dilakukan oleh Deanda.


Hanya Deanda yang bisa membuat seorang raja besar seperti Alvero bertekuk lutut di hadapannya tanpa syarat karena begitu besarnya rasa cinta yang dimiliki Alvero untuk seorang Deanda, yang bahkan di masa kecilnya merupakan dewi penyelamatnya.


"Aku tahu my Al. Aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bisa menyakiti hatimu. Dan percayalah, hanya kamu yang bisa mengalihkan duniaku dan memiliki hatiku. Kamu adalah priaku yang paling tampan, paling baik, paling mencintaiku, bagaimana mungkin aku berpaling pada yang lain? Meskipun hanya melirik? Kekaguman dan rasa cintaku hanya untuk rajaku seorang."


"Ehem..." Alvero langsung berdehem pelan, karena kata-kata Deanda berhasil membuat wajah Alvero tersipu malu dengan wajah sedikit memerah, dan tenggorokannya terasa jadi sedikit gatal, karena dadanya sedang dipenuhi dengan rasa bahagia bercampur dengan rasa bangga karena pujian Deanda.


"Jangan berpikir yang macam-macam my Al. Kamu tahu, selamanya aku sudah menetapkan hatiku hanya untukmu, dan menjadi milikmu seorang." Deanda mengakhiri kata-katanya sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Alvero yang langsung mengelus bagian samping kepala Deanda.


# # # # # # #


Alaya hampir mencapai pintu masuk ruang makan istana yang sedang terbuka lebar, dengan para putri, pangeran termasuk Larena dan Vincent sudah ada di dalam sana dan sedang mengobrol santai satu sama lain, ketika sosok Evan bersama seorang wanita yang masih terlihat cantik meski usianya bisa dibilang sudah tidak muda lagi.

__ADS_1


Di belakang Evan dan wanita paruh baya yang cantik dan wajahnya terlihat ramah itu, tampak sosok Erich dan Ernest yang mengawal mereka dengan sikap sigap.


Alvero sengaja meminta Erich dan Ernest untuk menyambut kedatangan Evan dan Danella untuk menunjukkan rasa hormat Alvero dan menganggap mereka tamu undangan penting mala mini.


Mau tidak mau, Alaya harus mengakui, Evan yang hari ini tampil dengan pakaian resmi berupa setelan jas berwarna biru tua, dengan rambut tesisir rapi, tampak terlihat seperti seorang aktor terkenal yang akan tampil di depan kamera untuk bersiap menyapa para penggemarnya.


Sosok Evan yang sedang tidak mengenakan pakaian dinasnya, tidak mengurangi wibawa yang melekat erat padanya, dengan wajahnya yang murah senyum, meskipun tidak banyak bicara, tetap saja menjadikan sosok Evan tampak mengagumkan, terutama bagi kaum hawa.


Sedang Danella, yang berjalan di samping Evan dengan wajahnya yang terlihat segar dan ramah, membuat Alaya bisa langsung menebak, darimana Evan mendapatkan wajah tampan dan murah senyum seperti malaikat itu.


Itu pasti duchess Danella, mama duke Evan, yang menurut kak Deanda juga sengaja diundang untuk menghadiri makan malam di istana hari ini. Kak Alvero sepertinya benar-benar akan membantaiku malam ini.


Melihat kehadiran Evan yang berjalan dari arah lain, untuk menunjukkan rasa hormatnya pada orang dengan status lebih tinggi darinya, mau tidak mau, karena sudah terlanjur matanya melihat ke arah sana, Alaya langsung menghentikan langkah kakinya, dan berdiam di tempatnya, untuk kemudian memberikan salam penghormatannya kepada Evan dan duchess Danella.


Melihat gerakan salam pernghormatan yang dilakukan Alaya padanya, Evan segera menggerakkan tangan kanannya, memberi tanda pada Alaya bahwa dia menerima salam penghormatan itu, dan Alaya bisa menghentikannya sekarang.


"Selamat malam Duke Evan, dan juga... Nyonya..." Begitu Evan sudah berada tidak jauh darinya, Alaya langsung menyapa laki-laki berambut pirang itu, dan sengaja menggantung kata-katanya karena takut jika dia salah menyebutkan siapa wanita paruh baya yang sedang bersama Evan sambil memeluk lengan Evan.


"Selamat malam Putri Alaya. Perkenalkan, ini duchess Danella. Beliau adalah mama kandungku." Alaya langsung menjelaskan siapa wanita yang ada di sampingnya sekarang.


Dengan sikap sopan, Alaya segera mengulurkan tangannya pada Danella yang langsung menjabat tangannya dengan erat.

__ADS_1


“Selamat malam Putri Alaya. Senang sekali bisa bertemu dengan Putri. Kalau dilihat dari dekat, Putri Alaya jauh lebih cantik dari foto-foto dan video yang beredar.” Tanpa ragu Danella langsung memuji kecantikan Alaya.


Meskipun belum pernah bertemu sama sekali dengan Alaya, Danella yang selalu mengikuti berita perkembangan Gracetian sejak adanya kasus pemberontakan Eliana waktu itu, membuat Danella sering melihat foto-foto dan rekaman video yang menampilkan sosok Alaya.


Alaya sempat membuat heboh warga Gracetian karena kehadirannya yang ternyata merupakan adik kandung dari Alvero, raja Gracetian, yang selama ini hidup di luar Gracetian untuk menghindari kekejaman Eliana.


Karena itu, begitu melihat sosok Alaya, Danella bisa langsung menebak kalau gadis cantik yang tampak masih begitu muda itu adalah Alaya Adalvino.


“Mungkin itu hanya perasaan Duchess Danella. Saya rasa saya tidak secantik itu. Di Gracetian ini, sangat banyak gadis yang lebih cantik dari saya Duchess Danella.” Dengan senyum dan sikap hormatnya pada Danella, Alaya langsung menyanggah kata-kata Danella yang senyumnya semakin lebar, karena Danella bisa melihat kalau Alaya merupakan gadis yang tidak sombong, apalagi lupa diri karena tiba-tiba menjadi seorang putri setelah dua puluh tahun hidup sebagai rakyat biasa.


Meskipun tidak dibesarkan dengan tata cara kehidupan seorang putri Gracetian pada umumnya, Danella bisa melihat kalau sikap Alaya cukup ramah dan juga sopan.


Sepertinya putri Alaya adalah seorang gadis yang menyenangkan untuk diajak berteman. Semoga kedepannya, kami bisa saling mengenal dengan lebih baik lagi. Ibu suri Larena pasti sangat bangga memiliki putri yang cantik, dan juga baik seperti putri Alaya. Begitu juga dengan yang mulia Vincent, pasti bahagia setelah mengetahui tentang keberadaan putri Alaya yang selama ini tidak pernah dipikirkannya.


Tanpa mengetahui tentang rencana perjodohan antara Evan dan Alaya, Danella memuji Alaya dalam hati.


Mereka berdua baru bertemu, tapi sudah berbicara dengan sikap akrab dan  suasana yang menyenangkan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mama kalau tahu rencana yang mulia Alvero untuk menjodohkan kami berdua.


Evan berkata dalam hati sambil tersenyum tipis, memikirkan apa yang akan terjadi jika Danella tahu tentang perjodohan itu, entah senang atau kecewa, Evan tidak tahu.


Karena sampai saat ini, Evan bisa melihat bagaimana sayangnya Danella terhadap Deanda, yang dulunya sangat diharapkan oleh Danella untuk bisa menjadi menantunya.

__ADS_1


__ADS_2