Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
SEMANGAT PAGI


__ADS_3

"Mmmm...." Alaya yang baru saja membuka matanya langsung tersenyum dan menoleh ke samping begitu pikirannya sudah kembali sadar bahwa semalam Evan tidur di sampingnya, sambil memeluknya dengan erat, setelah proses percintaan mereka yang cukup lama dan nikmat.


"Evan....?" Begitu menyadari bahwa sosok Evan tidak ada di sampingnya, dengan gerakan cepat, Alaya langsung memaksa dirinya untuk bangkit dari tidurnya, menyibakkan selimut yang awalnya menutupi tubuhnya, dan berencana untuk turun dari tempat tidur, mencari keberadaan Evan yang tiba-tiba saja menghilang, menyebabkan getaran di dadanya yang dipenuhi dengan rasa khawatir.


Kemana Evan? Apa ada sesuatu yang buruk yang sudah terjadi? Kenapa dia meninggalkanku tanpa pesan?


Alaya berkata dalam hati sambil melirik ke arah atas nakas yang ada di samping tempat tidur, mencoba mencari adanya kertas atau sesuatu yang digunakan Evan untuk mengirimkan pesan padanya kenapa dia tiba-tiba-tiba menghilang.


Bahkan dengan gerakan cepat Alaya mencoba melakukan cek terhadap pesan masuk di handphonenya, yang pada akhirnya tidak ada satupun pesan masuk dari Evan, meskipun ada beberapa pesan, salah satunya dari Enzo yang masih saja mencoba untuk menggodanya karena pernikahannya dengan Evan.


Dengan gerakan terburu-buru, Alaya segera menurunkan kedua kakinya, dan berencana memakai sandal yang ada di bawah tempat tidur, sampai akhirnya sebuah suara pintu yang dibuka membuat Alaya langsung menoleh ke arah pintu dengan wajah penasaran sekaligus penuh harap.


"Evan...." Sebuah suara yang terdengar lirih langsung terdengar dari bibir Alaya.


Sedang Evan yang sudah berpakaian rapi, sambil memegang sebuah nampan berisi kettle listrik, dua buah gelas keramik, dan dua toples kaca langsung tersenyum melihat ke arah Alaya yang rambutnya masih terlihat sedikit acak-acakan karena baru saja bangun dari tidurnya.

__ADS_1


(Kettle listrik atau Teko listrik merupakan perangkat elektronik yang digunakan untuk memanaskan air menggunakan media listrik. Dengan adanya teko listrik, proses membuat air panas jadi lebih mudah. Terlebih bagi anak kos ataupun yang tinggal di ruangan yang cukup terbatas, teko listrik akan sangat bermanfaat. Di beberapa kamar hotel biasanya juga menyediakan kettle listrik dalam kamar hote. Suhu yang bisa dicapai air yang didihkan dengan teko listrik adalah sekitar 95–96°C, cukup untuk menyeduh teh atau kopi).


"Good morning my princess...." Dengan senyum manis masih menghias wajahnya, Evan langsung menyapa Alaya, berdiri di tepian tempat tidur, dekat dengan Alaya yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur dengan kaki menempel di lantai.


Tatapan mata Alaya terlihat tidak berkedip, terus mengawasi Evan sejak Evan masuk ke dalam kamar, seolah tidak percaya Evan yang tadi tiba-tiba menghilang dari sisinya, dan Evan yang sekarang tiba-tiba muncul kembali di hadapannya, dengan penampilannya yang terlihat keren dan mempesona.


Meski hari masih cukup pagi, Evan bahkan terlihat sudah mandi dan segar. Dengan kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang bagian lengannya dia gulung sampai sebatas siku, sehingga menunjukkan otot-otot lengannya yang terbentuk sempurna, dipadukan dengan celana kain berwarna hitam, dan rambut yang sudah emasnya yang sudah tersisir rapi, membuat Evan tampak begitu tampan dan menawan pagi ini.


Dan itu mau tidak mau membuat Alaya jadi merasa tidak percaya diri dengan penampilannya yang masih terlihat amburadul karena bangun tidur dan belum sempat mandi apalagi merapikan diri.


"Apa aku setampan itu? Sampai matamu tidak berkedip sama sekali melihatku?" Evan berkata sambil mengalihkan bibirnya dari bibir Alaya, lalu menggerakkannya ke arah leher Alaya dan mengecup leher jenjang Alaya dengan cukup keras, sehingga meninggalkan bekas berupa tanda merah, meskipun di dekat sana masih ada bekas tanda merah lainnya hasil perbuatan Evan kemarin.


Harum... dan nyaman... juga... sungguh menggairahkan....


Evan berkata dalam hati sambil mata hijaunya menatap ke arah leher Alaya yang benar-benar menunjukkan bekas berwarna merah di kulit putih Alaya akibat kecupannya barusan, membuat Evan tersenyum puas sambil menegakkan kembali tubuhnya, sehingga Alaya harus mendongakkan kepalanya agar matanya bisa terus mengamati sosok Evan hingga puas.

__ADS_1


"Ah...." Alaya berdesis pelan sambil meraba bagian lehernya yang baru saja menerima kecupan dari Evan, yang Alaya yakin pasti meninggalkan tanda merah di sana.


"Kenapa pagi-pagi sekali kamu sudah bangun? Bahkan sudah berdandan dengan begitu rapi?" Alaya yang sudah tersadar kembali langsung bertanya kepada Evan yang langsung tertawa kecil mendengar pertanyaan polos istrinya.


"Apa kamu lupa aku adalah orang yang hidup di lingkungan militer, membuatku tidak akan bisa tidur lagi saat pagi sudah menjelang. Sudah menjadi sebuah kebiasaan sebelum matahari terbit, aku sudah harus sudah siap menyambut datangnya hari." Evan berkata sambil memasukkan salah satu tangannya ke saku celananya.


Alaya langsung tersenyum dengan sikap canggung mendengar perkataan Evan tentang rutinitas kesehariannya sebagai jenderal besar Gracetian, yang sudah mengalami gemblengan dengan begitu keras dan penuh kedisiplinan sejak dia masih kecil, membentuk karakter Evan yang selalu tepat waktu dan bersikap penuh perhitungan dalam mengerjakan segala sesuatu.


"Ah..." Lagi-lagi Alaya hanya mengeluarkan suara desisan pelan dari bibirnya, membuat Evan memandanginya sambil menggigit bagian bawah bibirnya karena merasa gemas melihat sikap Alaya.


"Kenapa sedari tadi kamu terus mengatakan ah?" Pertanyaan Evan membuat Alaya menarik nafas panjang.


"Ah... itu...." Alaya yang tanpa sadar kembali mengatakan "Ah" di depan Evan, langsung membuat Evan tertawa.


"Kamu ini benar-benar menggemaskan. Kalau setiap pagi kamu menyuguhkan pemandangan dan sikap seperti ini, aku takut dan khawatir, ke depannya aku akan jadi seorang jenderal yang malas berangkat ke markas besar militer untuk bekerja. Atau lebih baik aku mengundurkan diri dari dunia militer dan tinggal di rumah bersamamu terus?" Komentar Evan terhadap sikapnya, membuat Alaya hanya bisa tersenyum dengan wajah malu-malunya.

__ADS_1


__ADS_2