Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
DADA YANG BERGEJOLAK HEBAT KARENAMU


__ADS_3

Apa maksud dari gambar ini? Bagaimana bisa, ada gambar yang menunjukkan kebersamaanku dengan Alaya seperti ini di masa lalu? Apa itu artinya kami berdua sudah pernah bertemu sebelumnya dan memiliki hubungan khusus? Aku tidak mungkin akan membiarkan seorang gadis bersikap semesra itu padaku jika kami berdua tidak memiliki hubungan apapun. Apa aku pernah melakukan hal buruk kepada Alaya sehingga itu yang membuat dia begitu ingin pergi menjauh dari kehidupanku? Kesalahan besar apa yang sudah aku lakukan padanya? Kenapa aku begitu bodoh dan tidak bisa mengingat semuanya dengan baik? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?


Berbagai pertanyaan langsung bermunculan dalam pikiran Evan yang masih menatap gambar itu dengan wajah tidak percayanya, dan matanya yang tiba-tiba saja terasa panas dan mulai memerah.


Melihat wajah bingung bercampur haru juga sedih yang ditunjukkan Evan, Alvero sengaja membiarkan Evan terus mengamati gambar itu tanpa berkedip dalam waktu yang cukup lama tanpa mengganggunya.


Akhh


Evan menghentikan pikirannya yang penuh pertanyaan begitu dirasakannya sakit kepala yang mulai menyerang seperti biasanya saat dia memikirkan tentang Alaya apakah ada hubungannya dengan dia di masa lalu.


Begitu melihat wajah Evan yang terlihat sedang menahan rasa sakit, baik Alvero maupun Deanda tampak mengernyitkan dahinya, menunjukkan rasa heran mereka.


Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa wajah Evan terlihat begitu menahan sakit? Apa ingatannya terhadap Alaya memicu rasa sakit di kepalanya, sehingga dia akhirnya berhenti berusaha untuk mengingat Alaya?


Alvero bertanya-tanya dalam hati sebelum akhirnya memutuskan untuk mengajak Evan kembali bicara, berharap itu bisa mengalihkan rasa sakit yang sedang diderita oleh Evan saat dia terllau serius saat melihat gambar-gambar itu.


“Bagaimana menurut pendapatmu Evan?” Pertanyaan Alvero membuat Evan menarik nafas panjang, dan berusaha mengendalikan rasa sakit di kepalanya.


“Apa gambar-gambar itu mengingatkanmu akan sesuatu?” Alvero kembali bertanya begitu melihat Evan yang masih terdiam, dengan wajahnya yang terlihat sedang berpikir keras.


“Aku….” Evan hanya mengucapkan satu kata itu, lalu menarik nafas panjang, dengan rasa sakit yang kini berpindah di ulu hatinya.

__ADS_1


Entah kenapa, meskipun gambar yang menunjukkan dirinya yang sedang berjalan berdua bersama dengan Alaya menunjukkan pemandangan romantis, dimana Alaya dan dia sama-sama tersenyum dengan wajah bahagia, saling menatap satu sama lain, tapi hati Evan merasa begitu sedih saat melihat gambar itu.


Dan yang dia takutkan adalah… kesedihan itu berasal dari hati Alaya yang terluka karenanya, apalagi Evan mengingat tentang igauan Alaya waktu itu.


Seolah mulai bisa menebak apa yang sudah terjadi, Evan mulai bisa merasakan perasaan sedih yang selama ini dirasakan oleh Alaya karena penantian panjangnya yang berujung dengan dilupakan oleh orang yang sangat dia cintainya.


“Apa kamu mengenali gadis remaja yang ada di gambar itu Evan?” Pertanyaan Alvero membuat Evan kembali menatap ke arah gambar itu dengna tatapan sendu.


“Alaya… gadis itu adalah Alaya… istriku.” Evan berkata dengan suara pelan, dan suara terputus-putus dan terdengar begitu serak karena menahan gejolak dalam dadanya.


Mendengar jawaban Evan, Alvero yang sebelumnya langsung saling berpandangan dengan Deanda begitu mendengar jawaban Evan, secara tiba-tiba menggerakkan tangannya dan memutar kembali layar laptop miliknya, kembali menghadap ke arahnya, membuat Evan sedikit tersentak karena kaget.


“Ma… maaf…” Evan yang langsung sadar kenapa Alvero melakukan itu segera meminta maaf, karena sudah terlalu terlarut dalam pikiran dan hatinya yang gundah gulana, sehingga kurang memperhatikan Alvero yang sedari tadi mengajaknya bicara.


“Kalau begitu, bisakah sekarang kamu menjelaskan padaku, apa yang sudah terjadi waktu itu? Kenapa di gambar itu kamu dan Alaya seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta? Apa kalian dulunya memang sudah pernah menjalin hubungan cinta?” Lagi-lagi Alvero bertanya, dengan tangannya menutup layar laptop miliknya, agar fokus Evan tidak kesana lagi.


“Aku tidak tahu…. Maaf, aku benar-benar tidak ingat kalau aku dan Alaya di masa lalu sudah saling mengenal, apalagi memiliki hubungan sedekat itu.” Evan berkata dengan suara ragu.


Dan Alvero bisa melihat bagaimana Evan yang benar-benar serius saat mengatakan bahwa dia tidak mengingat apapun tentang itu.


“Evan, apa karena kecelakaan waktu itu? Kamu menjadi amnesia terhadap beberapa hal termasuk Alaya?” Pertanyaan Alvero langsung ditanggapi dengan gelengan kepala oleh Evan.

__ADS_1


“Tidak mungkin… aku bisa mengingat semua hal yang terjadi, bahkan bagaimana proses terjadinya kecelakaan itu, tapi aku tidak bisa mengingat apapun tentang Alaya yang pernah aku kenal di masa lalu.” Jawaban Evan membuat Alvero terdiam untuk beberapa saat.


“Sepertinya, kasus ini benar-benar aneh. Kita harus berusaha mencari penyebab kenapa hanya hubunganmu dengan Alaya yang tidak bisa kamu ingat dengan baik.” Alvero berkata sambil mengetuk-ngetukkan ujun jari-jari tangan kanannya ke atas meja.


Sebuah kebiasaan yang biasa dilakukan Alvero saat dia sedang berpikir dengan begitu serius tentang sesuatu.


“Benar-benar aneh….” Deanda pada akhirnya ikut bergumam pelan.


“Tapi kenapa Alaya tidak pernah mengatakan apapun dan justru ikut-ikutan bersikap seperti orang yang belum pernah saling mengenal dengan Evan?” Deanda yang merasa penasaran, jadi ikut mengajukan sebuah pertanyaan kepada kedua laki-laki itu.


“Alaya…. Dia gadis yang keras kepala, dan egonya juga besar. Jika orang lain tidak memperdulikannya, dia bukan gadis yang akan mengemis perhatian dari orang lain. Jika Evan melupakannya, seorang Alaya tidak akan berusaha untuk meminta Evan kembali mengingatnya.” Alvero langsung menjawab pertanyaan Deanda tanpa ragu.


Bagaimanapun Alaya adalah keturunan Adalvino, jadi tidak heran jika dia memiliki sifat dasar yang keras kepala, dan juga egois, sulit untuk mengalah.


Alvero berkata dalam hati, mempertegas pada dirinya sendiri, tentang karakter Alaya, yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengannya, sehingga dia bisa dengan percaya diri menilai sifat Alaya.


“Pantas saja sikapnya kepada Evan, seperti ornag yang terlihat sangat menjaga jarak, dan terlihat jelas bagaimana kesalnya dia setiap bertemu dengan Evan, dan juga marahnya dia ketika rencana perjodohannya itu dibicarakan.” Deanda berkata dengan ingatannya yang mengingat beberapa kejadian dimana Alaya tampak kesal dan marah karena rencana perjodohan itu.


“Karena marahnya Alaya, bahkan dia sempat berkata lebih baik dia menikah dengan rakyat biasa dan kehilangan status kebangsawanannya daripada harus menikah dengan Evan.” Lanjutan dari kata-kata Deanda membuat dada Evan kembali bergejolak, dengan tangan yang tanpa terasa tiba-tiba sudah terkepal dengan begitu erat di pangkuannya.


Membayangkan jika Alaya bahkan sempat berpikir untuk lebih memilih menikah dengan pria lain daripada dia, membuat rasa cemburu tiba-tiba saja memenuhi dada Evan, sebiah perasaan yang membuat dadanya terasa sesak dan membuatnya ingin berlari kencang ke arah Alaya, meraih dan memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat, seolah tidak ingin melepasnya lagi untuk alasan apapun, agar selamanya putri cantik itu tetap berada di sisinya, menjadi miliknya seorang.

__ADS_1


__ADS_2