
“Eh….” Dengan sikap canggung, Alaya hanya bisa bergumam satu patah kata tanpa berani menanggapi perkataan Alvero.
Aduh… celaka… kak Alvero pasti sudah curiga bahwa hubungan kami berdua sudah tidak lagi bermasalah. Bukannya aku takut dia tahu tentang itu, tapi sebentar lagi ada kak Enzo datang ke tempat ini. Aku pasti akan jadi bulan-bulanan mereka berdua kalau begini.
Alaya hanya bisa berkata dalam hati dan menyesali kecerobohannya kali ini.
Penyesalan Alaya bukan dikarenakan karena dia tidak mau mengakui hubungannya dengan Evan, tapi karena Alaya tahu jika yang lain tahu tentanga perkembangan hubungannya dengan Evan, dia pasti akan menjadi bulan-bulanan, digoda habis-habisan oleh Deanda dan Alvero, apalagi sebentar lagi Enzo akan datang menyusul mereka di tempat ini.
Harusnya aku tadi langsung ke kamarku saja, biarkan Evan yang menemui mereka. Tapi kalau aku tidak ikut hadir, bagaimana bisa aku mendapatkan info tentang masalah Evan? Padahal aku penasaran sekali dengan apa yang akan diceritakan Evan kepada yang lain. Hah… sudahlah… terima nasib saja. Aku akan berusaha menebalkan telingaku.
Akhirnya Alaya hanya bisa berkata dalam hati dengan sikap pasrahnya.
“Alaya….” Suara panggilan lembut dari Deanda membuat tubuh Alaya tersentak kaget, sehingga tanpa sengaja dia langsung menegakkan tubuhnya, juga kepalanya sehingga syal yang menutupi sebagian atas lehernya sedikit tersingkap dan menunjukkan salah satu kissmark karya Evan meskipun hanya sedikit dan sekilas.
Alvero langsung tersenyum smirk melihat itu, sedang Deanda langsung tertawa geli.
“Sudahlah… jangan perdulikan godaan kakakmu. Jangankan ketika baru menikah, setelah lewat beberapa bulan berlalu sejak pernikahan kami, dia paling hobi membuat tanda cinta di leherku. Padahal dia tahu bagaimana sulitnya menyembunyikan tanda itu, dan harus berlama-lama di depan cermin saat berhias, memastikan tanda itu bener-bener tertutup sempurna.” Tanpa basa-basi Deanda berkata dengan sikap santai, membuat Alvero wajahnya langsung memerah tanpa berani menyanggah ucapan istrinya itu.
“Ehem… duduklah di sini sambil menunggu Evan dan Enzo.” Alvero akhirnya berdehem pelan untuk mengalihkan pembicaraan, kalau tidak ingin Deanda nantinya justru menyerangnya balik.
Karena bagaimanapun sebagai sesama wanita, Deanda tahu dengan jelas bagaimana rasanya berada di posisi Alaya.
__ADS_1
Bahkan seringkali Deanda meminta Alvero memberikan kissmarknya di tempat lain yang tertutup, hanya saja, saat sudah dipengaruhi dengan hasratnya yang membara akan sulit bagi Alvero untuk mengabulkan permintaan Deanda, apalagi leher jenjang Deanda, merupakan salah satu temapt favorit bagi Alvero yang selalu menikmati bau harum tubuh Deanda lewat lehernya.
Bau harum yang bagi Alvero sungguh terasa begitu memabukkan dan membuatnya ingin lagi dan lagi tanpa ada bosan-bosannya.
Yes! Ternyata kak Deanda bisa dijadikan partner untuk menangkal godaan kak Alvero dan kak Enzo. Kak Deanda memang paling ahli dalam membuat kak Alvero diam tidak berkutik.
Alaya kembali berkata dalam hati dengan perasaan lega, merasa mendapat sekutu yang hebat untuk melawan Enzo dan Alvero.
"Apa semuanya baik-baik saja? Maksudku antara kamu dan Evan." Dengan nada serius akhirnya Deanda bertanya kepada Alaya yang sudah duduk berhadapan dengan Alvero dan Deanda.
Pertanyaan Deanda membuat Alaya menyunggingkan senyum bahagianya, membuat Alvero maupun Deanda langsung tahu jawaban dari pertanyaan Deanda tanpa perlu Alaya menjawabnya secara verbal.
"Senang sekali mendengar tentang hubungan kalian yang membaik. Selamat menikmati kehidupan pernikahan yang sesungguhnya. Semoga kalian terus hidup bahagia selamanya." Ucapan selamat dari Deanda membuat wajah Alaya tersipu malu.
# # # # # #
"Orang itu benar-benar mencurigakan. Apa kamu sudah mendapatkan info detail tentang orang yangm mengunjungi Eliana tersebut?" Erich berkata dengan nada suara terdengar tidak tenang.
Karena baginya, Eliana adalah orang yang begitu kejam, dan dia adalah orang yang ikut mengalami dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Eliana melakukan kekejamannya ketika dia masih kanak-kanak, sehingga menimbulkan trauma yang begitu dalam bagi Erich.
Untung saja keberadaan Ernest sebagai saudara kembarnya yang begitu perduli padanya, sangat membantunya.
__ADS_1
Belum lagi Alvero yang sejak awal memperlakukannya dengan begitu baik seperti saudaranya sendiri, sehingga lambat laun, Erich yagn awalnya sangat tertutup dan selalu curiga pada orang lain, lambat laun bisa membuka hatinya.
Apalagi setelah sahabat Deanda, Cleosa berhasil membuat Erich merasakan apa itu cinta, membuat Erich mulai bisa menunjukkan rasa cintanya dan sayangnya pada orang lain.
Di samping itu, perubahan sikap Erich didukung juga oleh sikap Deanda yang lembut dan menganyomi orang-orang di sekitarnya.
Sebagai seorang permaisuri yang mendampingi Alvero, sosok Deanda memang menjadi orang yang banyak dikagumi oleh orang lain dan menjadi panutan bagi banyak orang.
Lembut tapi kuat, cantik tapi tidak sombong, memiliki kekuasaan tapi tidak pernah bertindak semena-mena, membuat banyak orang begitu menyukai dan mengagungkan sosok Deanda sebagai permaisuri Gracetian.
“Tenang saja, dalam waktu dekat kita pasti sudah berhasil menemukan info lengkap tentang orang itu. Apa yang kamu khawatirkan Erich? Apa sampai saat ini kamu masih takut Eliana akan melakukan hal buruk? Pikiran dia sekarang bahkan sudah tidak waras.” Perkataan Ernest membuat Erich menarik nafas dalam-dalam.
“Aku tidak tahu, tapi aku merasa tidak tenang selama masih ada orang-orang yang terhubung dengan Eliana. Bagiku dia sudah seperti kanker ganas yang begitu merusak sel normal yang ada di seklilingnya.” Erich berakta dengan nada yang menunjukkan bagaimana jijiknya dia dengan Eliana dan orang-orang yang terlibat dengan wanita itu.
“Aku tahu perasaanmu, tapi tenang saja, aku tidak akan membairkan hal buruk terjadi padamu lagi karena Eliana. Aku akan terus mengawasi sekecil apapun pergerakan yagna da di sekitar Eliana. Aku harap untuk saat ini kamu fokus pada rencana pernikahanmu dengan Cleosa yang akan diadakan tidak lama lagi.” Ernest berkata sambil tersenyum, mengingat bagaimana sebentar lagi Erich akan menikah, membuat Ernest merasa bahagia.
Jika menilik dari sifat dan karakter dingin Erich yang tidak perduli dengan orang lain kecuali pada Alvero dan Ernest sebaagai saudara kembarnya, Ernest sempat merasa khawatir ke depannya seumur hidup Erich akan hidup melajang selamanya.
Karena itu, Ernest adalah orang yang paling berbahagia melebihi siapun begitu mendengar berita tentang Erich yang ingin menikahi Cleosa, hingga beberapa waktu lalu Alvero sendiri yang turun tangan mewakili Erich yang kedua orangtua mereka yang sudah meninggal lama.
Begitu Alvero datang ke tempat kediaman Cleosa untuk melamar gadis itu, tentu saja tidak adalagi alasan bagi pihak keluarga Cleosa untuk menolak lamaran tersebut.
__ADS_1
Siapa yang bisa menolak lamaran yang didukung penuh oleh pihak kerajaan sampai menghadirkan Alvero sebagati raja Gracetian, langsung di sana, membuat mereka semakin tidak bisa menolak lamaran Erich.