
Setelah menjadi dokter dalam kurun waktu puluhan tahun, dan semua pundi-pundi kekayaan sudah berhasil dia kumpulkan dari pekerjaannya sebagai dokter bedah saraf, jika ke depannya dia harus kehilangan gelar dokter dan kebangsawanannya sekaligus, tentu hidupnya akan sangat sulit, sehingga mau tidak mau, akhirnya dokter Jordan harus memlih pilihan pertama.
Bagi dokter Jordan, selama dia bisa tetap di Gracetian dengan status kebangsawanan tidak dicabut, paling tidak dia masih memiliki banyak saudara dan rakyat biasa tidak akan terlalu berani meremehkannya karena dia masih memiliki status bangsawannya.
“Saya… akan membantu Duke Evan untuk mengembalikan semua ingatan Duke Evan tentang Putri Alaya… tapi tolong pegang janji Duke Evan untuk tetap membiarkan aku tetap tinggal di Gracetian bersama dengan keluarga saya, meskipun saya harus kehilangan gelar saya sebagai seorang dokter, asal bisa terus bersama keluarga saya.” Akhirnya dokter Jordan menyampaikan pilihannya.
“Aku bukan orang yang suka ingkar janji, selama aku bisa menepatinya dengan baik Kalaupun aku melanggar janjiku, pasti ada seseorang yang dengan sengaja membuatku melanggar janji itu, bukan dari keinginanku pribadi.” Evan berkata sambil menarik pistol miliknya yang tadi terus ditempelkannya di kening dokter Jordan.
“Kamu begitu ketakutan kehilangan orang-orang yang kamu cintai, tapi dengan mudahnya kamu membuat orang yang saling mencintai terpisah karena keegoisanmu.” Evan berkata dengan nada suara terdengar cukup tinggi, membuat Sam menghela nafasnya, karena ternyata, seorang Evan, bisa terlihat tidak tenang dan emosional jika itu menyangkut tentang Alaya, menunjukkan kalau pimpinannya itu begitu mencintai gadis cantik yang sekarang sudah menjadi istrinya itu.
“Saya tahu saya bersalah, sangat bersalah terhadap Duke Evan. Apapun… apapun yang diinginkan oleh Duke Evan, saya akan melakukannya, asal keluarga saya selamat.” Dokter Jordan berkata dengan suara memelas.
“Aku mau hari ini juga kamu mengembalikan ingatanku tentang istriku. Jika sampai kamu gagal, jangan harap kamu bisa bersama lagi dengan keluargamu, istri dan anak-anakmu.” Evan berkata dengan nada terdengar semakin emosional, karena rasa tidak terimanya, bagaimana dokter Jordan sudah membuat ingatan berharganya tentang Alaya terhapus begitu saja.
__ADS_1
Walaupun Evan tahu Tuhan begitu baik padanya sehingga sudah mengembalikan Alaya di sisinya dengan cara yang sungguh ajaib, sesuatu yang tidak pernah akan diduga oleh siapapun, lewat perjodohan yang ditetapkan oleh Alvero dan membuat Alaya tidak bisa menolaknya.
Akan tetapi mendengar bagaimana dokter Jordan yang mengakui sengaja membuatnya melupakan Alaya, sungguh membuat dia merasa emosi, apalagi Evan sadar bahwa dia telah kehilangan masa-masa berharga yang seharusnya bisa dia habiskan dengan penuh kebahagiaan bersama Alaya.
“Sam, kamu dengar apa yang dikatakan oleh dokter Jordan barusan. Segera siapkan semuanya sesuai rencana kita.” Evan berkata sambil menyarungkan kembali pistol yang dipegangnya ke pinggangnya, tertutup oleh jas yang dikenakannya.
“Baik Duke Evan.” Sam segera berjalan mendekat ke arah dokter Jordan, setelah Evan kembali memasuki ruang pemeriksaan milik dokter Jordan dan menghilang dari sana.
“Ikut denganku, dan beritahukan kepada asistenmu, bahwa kamu akan mengunjungi salah satu pasienmu yang tidak bisa datang ke tempat praktekmu.” Sam berkata sambil menarik lengan dokter Jordan agar segera bangun dari pisisi duduknya, dan melakukan apa yang sudah diperintahkan oleh Sam padanya.
# # # # # # # #
Dokter Jordan sedikit menahan nafasnya begitu Sam mengajaknya ke sebuah apartemen mewah milik Evan pribadi.
__ADS_1
Meskipun Evan tidak pernah menggunakan apartemen itu sebagai tempat tinggal, karena dia memilih untuk tetap hidup bersama mamanya duchess Danella, tapi apartemen itu tertawat dengan begitu baik, karena beberapa saudara atau teman dekat yang berkunjung dari jauh, kadang dipersilahkan Evan untuk tinggal di apartemen itu.
“Masuk!” Sebuah perintah dengan suara tegas membuat pikiran kosong dokter Jordan kembali ke tempatnya dan dengan langkah ragu, dokter Jordan melangkah masuk, melewati pintu apartemen itu.
Sam terus mengajak dokter Jordan sampai ke sebuah ruangan, dimana begitu dokter Jordan masuk, ruangan yang seperti ruang kerja itu terdapat beberapa orang yang berjaga, di dalamnya, dengan Evan yang duduk di sebuah kursi sambil menatap lurus ke arahnya.
Di salah satu sisi dinding ruangan itu, dimana dinding itu dekat dengan posisi Evan duduk, dokter Jordan melihat adanya puluhan foto yang terpasang rapi, seperti sebuah cerita, karena foto-foto adalah foto Alaya sejak bayi hingga dia dewasa, diatur secara berurutan.
Begitu melihat foto gadis cantik ketika masa remaja itu, dokter Jordan hanya bisa menghela nafasnya, karena dia tahu siapa gadis yang ada dalam foto-foto itu, Alaya Adalvino yang membuatnya terjebak dalam situasi rumit dan akan menghancurkan masa depannya karena waktu itu dia mau memenuhi permintaan dari Kattie.
“Kita bisa mulai hipnoterapinya sekarang.” Dengan tidak sabar Evan berkata, karena dia memang sedang tidak sabar untuk bisa menemukan kembali ingatannya tentang Alaya.
“Jangan coba-coba berbuat yang aneh-aneh Dokter. Karena jika ada sedikit saja hal yang mencurigakan yang Anda lalukan, tim kami akan siap menghabisi Anda seketika itu juga.” Kata-kata ancaman dari Sam diikuti dengan gerakan 4 orang yang ada di ruangan itu, mendekat ke arah dokter Jordan sambil mengacungkan pistol mereka, yang terarah pada titik vital dari tubuh dokter Jordan, yang pasti akan membuat nyawa dokter Jordan melayang jika terkena tembakan pada titik vital itu dalam posisi begitu dekat seperti saat ini.
__ADS_1
Dengan langkah pelan, akhirnya dokter Jordan mendekati Evan yang langsung menahan nafasnya, sungguh berharap dia bisa segera meningat semuanya kembali, dan menjelaskan pada Alaya apa yang sudah terjadi padanya waktu itu, dan berharap ke depannya mereka tidak lagi hidup dalam kesalahpahaman.